Takdir Cinta Yang Kau Pilih

Takdir Cinta Yang Kau Pilih
Bab 148. Kembali Pulang.


__ADS_3

Yara dan yang lainnya lalu masuk ke dalam mobil yang telah disiapkan, mereka melambaikan tangan ke arah semua orang yang sedang menatap dengan sendu.


Ryder tersenyum ke arah Yara yang kuga sedang melihatnya. Tadi pagi wanita itu sudah lebih dulu pamit padanya saat Ryzal belum sampai di tempat itu, dan dia merasa tenang karena Yara sudah menyelesaikan tugas dengan baik.


"Hati-hati dijalan, Yara. Tunggulah aku, sebentar lagi aku akan datang untuk menjemputmu," gumam Ryder. Dia juga melihat ke arah Zafran yang sedang melambaikan tangan ke arahnya, lalu dia membalas lambaian tangan itu sampai mobil mereka sudah tidak terlihat lagi.


Setelah Yara dan yang lainnya pergi, Ryder juga bergegas pergi dari tempat itu menuju pabrik untuk bertemu dengan ketua tim yang menangani kasus kematian Edwin, apalagi dia mendengar dari anak buan Edward jika saat ini laki-laki paruh baya itu sudah berada di kantor polisi.


Disisi lain, Yara sedang menyandarkan tubuhnya ke sandaran mobil. Dia merasa sangat lega karena sudah menyelesaikan tugas menjadi relawan, dan rasanya sudah tidak sabar untuk bertemu dengan kedua orang tuanya.


"Oh yah, apa Anda tahu di mana Hana, Dokter Yara?" tanya Lewis.


Yara yang sudah memejamkan kedua matanya kembali mengerjap saat mendengar pertanyaan Lewis. "Tidak. Terakhir kali aku melihat yah malam saat Zafran baru datang ke desa."


Lewis mengangguk-anggukkan kepalanya. "Aku juga tidak melihatnya lagi setelah itu. Kenapa dia tidak bekerja lagi dan seperti hilang ditelan bumi?" Dia merasa heran.


Yara juga merasa aneh karena tiba-tiba tidak melihat Hana lagi, apalagi saat mengetahui dari pemilik rumah jika wanita sudah tidak bekerja lagi di rumah itu.


"Apa mungkin dia sudah pergi ke kota bersama dengan calon suaminya itu? Aku pernah dengar darinya jika dia akan dibawa ke kota oleh laki-laki itu," ucap Yara.


"Ah, mungkin saja," sahut Lewis. "Dasar gadis tidak tahu sopan santun, bagaimana bisa dia tidak pamitan pada kita? Awas saja jika nanti aku bertemu lagi dengannya." Dia jadi merasa kesal sendiri.


Yara tergelak mendengar ucapan Lewis. "Memangnya kenapa, apa Anda tertarik dengannya?" Dia bertanya sambil menaikkan sebelah alisnya. "Dia memang gadis yang manis dan baik, tapi Anda tidak boleh menyukainya karena dia sudah punya calon suami."


"Cih!" Lewis langsung mencebikkan bibirnya saat mendengar ucapan Yara. "Bukan seperti itu." Dia mengibas-ngibaskan tangannya. "Aku sudah menganggapnya sebagai adikku sendiri, dan entah kenapa sifat lugunya itu membuatku merasa sayang padanya."


Ah, Yara mengangguk paham. Dia juga merasa seperti itu saat bersama dengan Hana, karena gadis itu seperti punya daya tarik tersendiri agar orang-orang suka dan menyayanginya.


Zafran yang duduk di samping Yara dan mendengar semua obrolan mereka hanya diam sambil menatap ke luar jendela. Dia malas untuk ikut campur, apalagi membahas masalah Hana yang membuatnya menjadi kesal karena teringat kejadian bersama dengan calon suami gadis itu.


"Cih. Baguslah jika laki-laki sombong itu sudah pergi," gumam Zafran.


"Kenapa Zaf, apa kau mengatakan sesuatu?" tanya Yara saat mendengar sang adik bergumam.


Zafran tersentak kaget, lalu dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku hanya sedang memperhatikan pemandangan itu." Dia menjawab dengan sedikit panik.

__ADS_1


Yara menganggukkan kepalanya sambil ber-oh ria, dia lalu kembali menyandarkan tubuhnya dan memutuskan untuk istirahat.


***


Setelah menempuh perjalanan panjang, akhirnya sampai juga Yara dan Zafran ke rumah orang tua mereka. Tampak kedua orangtua mereka sudah menunggu di teras rumah, bersama dengan Zayyan juga.


"Assalamu'alaikum Ma, Pa, Zayyan," ucap Yara sambil melangkah masuk mendekati mereka.


"Wa'alaikum salam," jawab Via, Vano, dan Zayyan secara bersamaan. "Alhamdulillah, kalian sudah sampai Nak." Via langsung memeluk tubuh Yara dengan erat untuk melepaskan segala kerinduan, begitu juga dengan Vano yang juga melepas rindu dengan anak-anaknya.


Mereka semua lalu saling berpelukan secara bergantian, kemudian Via mengajak semuanya untuk masuk ke dalam rumah.


Pembantu langsung menyajikan minuman dan makanan ringan untuk para majikannya, tidak lupa dia juga menyambut kedatangan Yara karena rindu dengan anak dari majikannya itu.


"Bagaimana, Nak? Apa sekarang semua tugasmu sudah selesai?" tanya Via.


Yara mengangguk. "Sudah, Ma. Direktur memberikan libur selama seminggu penuh untuk kami semua agar bisa istirahat sebelum kembali bekerja di rumah sakit, juga memberikan bonus yang besar."


"Alhamdulillah, syukurlah jika seperti itu," sahut Via. Dia lalu bertanya kenapa Ryder tidak ikut bersama dengan mereka.


Via dan Vano mengangguk paham. Jelas Ryder juga terseret dengan kasus yang sedang terjadi itu, apalagi pabrik itu merupakan milik Ryder.


Saat kedua orangtuanya sedang bercerita, Zayyan juga sibuk memamerkan video game buatannya pada sang kakak.


Jelas saja Zafran tidak percaya dengan apa yang adiknya katakan, bagaimana mungkin Zayyan bisa membuat video game seperti itu?


"Ngapain juga aku bohong," ucap Zayyan. "Tanya aja sama mama dan papa kalau gak percaya." Dia berkata dengan sombong.


Zafran lalu menanyakan kebenaran tentang ucapan Zayyan. Awas saja jika adiknya itu berbohong, maka dia pasti akan menggunduli kepalanya.


"Video game itu memang buatan adikmu, Zaf. Cita-citanya kan ingin membangun perusahaan game terbesar di kota ini," ucap Vano.


Zafran terbelalak tidak percaya saat mendengar ucapan sang papa, sementara Zayyan langsung menjulurkan lidahnya untuk mengejeknya karena tidak percaya dengan apa yang adiknya katakan.


"Lihatkan, memang aku yang menciptakan video game itu," seru Zayyan dengan bangga. Dia lalu melompat-lompat di hadapan Zafran sampai tidak sengaja menginjak kaki kakaknya itu.

__ADS_1


"Aargh ... sh*it!" Zafran memekik kesakitan saat kaki Zayyan mendarat tempat di atas kakinya, membuat semua orang yang ada di tempat itu terlonjak kaget. Bahkan sangking sakitnya, dia sampai tidak sadar jika sudah mengeluarkan kata-kata kasar.


"Ada apa, Zaf? Apa lukamu sakit lagi?" tanya Yara dengan panik. Spontan dia berjongkok di hadapan Zafran dan langsung menarik kaos kaki adiknya itu, agar bisa memeriksa keadaan luka yang ada dikakinya.


Kedua mata Vano dan Via membulat sempurna saat melihat luka yang di sekujur telapak kaki Zafran, begitu juga dengan Zayyan yang ingin langsung mengejak kakaknya itu.


"Astaghfirullahal'adzim. Kakimu kenapa, Zaf?" tanya Via dengan kuat dan raut wajah panik. Dia segera beranjak dari kursi lalu mendekati mereka.


Mendengar teriakan sang mama, membuat Yara dan Zafran baru ingat tentang luka yang ada dikaki laki-laki itu. Mampuslah mereka. Mereka pasti akan mendapat amukan dari kedua orangtua.


"Apa yang terjadi dengan kakimu, Nak? Kenapa, kenapa luka-luka begini?" tanya Via dengan mata berkaca-kaca, bibirnya bahkan sudar gemetar.


Zafran langsung melirik ke arah sang kakak untuk meminta bala bantuan, dia tidak tahu harus menjawab apa saat ini.


"Katakan kenapa kakimu bisa sampai terluka seperti itu, Zaf!" Vano juga ikut bertanya dengan tajam membuat Zafran semakin dirundung kebingungan.


"Luka ini karena Zafran berlari di atas pecahan kaca dan duri tanpa menggunakan sandal."


"Apa? Pekik Via dan Vano secara bersamaan. "Ba-bagaimana mungkin semua itu terjadi?" Mereka bertanya dengan bingung. Memangnya putra mereka itu sedang membuat pertunjukan, sehingga berlari di atas pecahan kaca?


Yara lalu menyuruh Zafran untuk menceritakan semuanya tanpa ada yang ditutup-tutupi, karena orangtua mereka berhak tau apa yang terjadi.


Zafran menghela napas berat, sementara Vano dan Via menatap ke arah putra mereka itu dengan tajam dan tatapan yang menyeramkan. Dia lalu segera menceritakan semua yang terjadi. Bukan hanya saat malam itu saja, tetapi semua yang terjadi padanya selama di desa itu.


Kedua mata Vano berkilat marah saat mendengarnya, begitu juga dengan Via yang merasa geram dengan laki-laki bernama Bayu.


"Katakan di kantor polisi mana dia dibawa. Berani sekali dia melakukan itu pada putraku!"





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2