
Ryder terdiam di tempatnya saat mendengar ucapan sang papa, sementara Adena menatap suaminya dengan tidak percaya. Dengan cepat dia menghampiri Eric dan berdiri di samping laki-laki itu.
"Apa, apa kau tidak salah, Sayang? Ini, ini tidak-"
"Rolan!"
Ucapan Adena terpaksa berhenti saat Eric berteriak memanggil Rolan, dia menghela napas kasar karena sepertinya keputusan laki-laki itu tidak bisa diganggu gugat lagi.
Rolan berjalan masuk ke dalam ruangan itu saat mendengar teriakan sang tuan. "Ya, Tuan?"
"Katakan pada semua kolega bisnisku, dan semua pengusaha besar, menengah, bahkan kecil sekali pun. Jika mereka berani membantu laki-laki itu, atau diam-diam mengulurkan tangan, maka aku akan menghancurkan hidup mereka tanpa belas kasihan."
Deg.
Ucapan yang Eric lontarkan benar-benar terasa menusuk dada Adena hingga membuat tubuhnya lemas, dia terpaksa berpegangan pada meja agar tidak terhuyung ke lantai.
Rolan melirik ke arah Ryder dengan sayu, sementara Ryder sendiri tetap diam dan sama sekali tidak berniat untuk membantah atau pun melawan ucapan sang papa.
"Baik, Tuan." Rolan menganggukkan kepalanya, dan terpaksa menjalankan perintah dari sang tuan.
"Bereskan juga komunitas atau apalah itu yang telah merusak pikiran anakku tanpa sisa," perintah Eric kemudian membuat Ryder langsung mendongakkan kepalanya, dan menatap sang papa dengan tajam.
"Baik, Tu-"
"Aku mohon jangan sentuh komunitas itu, Pa." Ryder menangkupkan kedua tangannya di depan dada membuat Eric tersenyum sinis. Untuk pertama kalinya dia memohon dengan sangat pada papanya agar tidak mengganggu pekerjaan teman-temannya.
"Kau masih saja, ya." Eric mengepalkan kedua tangannya dengan geram sambil beranjak dari kursi, membuat Adena langsung panik melihat kemarahan di wajah suaminya. "Kau pikir masih punya hak untuk memohon padaku, hah?" Dia berdiri tepat di hadapan Ryder, kini mata mereka saling menatap dengan tajam.
"Aku tau kalau aku sudah tidak punya hak apapun, dan aku menerima semuanya. Jika Papa ingin aku tinggal dijalanan, maka aku akan melakukannya. Bahkan jika Papa memintaku untuk mati, aku akan melakukannya sebagai penebusan kesalahan yang telah aku lakukan." Lirih Ryder. Wajahnya menatap penuh ketegasan, walau saat ini keadaannya sangat mengkhawatirkan.
"Tapi aku mohon jangan sentuh mereka, Pa. Pekerjaan itu adalah hidup teman-temanku, dan aku tidak bisa-"
__ADS_1
"Aku tidak peduli!" Potong Eric dengan tajam dan penuh penekanan. "Selama ini aku sudah diam dan memberi kalian kebebasan, tapi semua itu malah membuat kalian menjadi manusia bi*adab yang tidak punya akal. Jadi jangan meminta apapun lagi padaku, karna aku tidak akan lagi menahan diri." Terlihat jelas keseriusan dalam setiap ucapan Eric, bahwa dia tidak akan lagi mengampuni mereka.
Adena berjalan dengan pelan dan berdiri di tengah-tengah antara suami dan juga putranya, dia tidak ingin terjadi baku hantam lagi di antara mereka.
"Sudah cukup. Kalian berdua, hentikan semua ini," ucap Adena dengan pelan. Suaranya yang serak menandakan jika dia sedang menahan tangis.
"Baiklah, lakukan saja semua yang Papa inginkan. Tapi aku akan tetap menjaga pekerjaan teman-temanku," balas Ryder tidak gentar dengan ucapan papanya.
"Cukup, Ryder. Tutup mulutmu itu!" bentak Adena dengan wajah merah padam. Tidak, jika Ryder terus bicara, maka Eric akan benar-benar menghancurkam hidup putra mereka sendiri.
Eric menatap Ryder dengan kemarahan yang cukup besar, bisa-bisanya laki-laki itu tetap bersikukuh untuk mempertahankan sesuatu yang sudah membuat masalah ini terjadi.
"Baik, jika kau memang tidak mau aku menyentuh mereka, maka aku tidak akan melakukannya," ucap Eric membuat Adena langsung berbalik dan menatapnya tajam. "Rolan, masukkan laporan tentang pedagangan dan perbudakan wanita ke kantor polisi. Mari kita lihat, hukuman apa yang pantas untuk teman-temannya."
Deg.
Ryder mengepalkan kedua tangannya dengan erat saat mendengar ucapan papanya. Gurat kemarahan terlihat jelas diwajahnya, dengan urat-urat yang menonjol di sekitar leher.
Ryder terdiam. Tidak, dia tidak bisa membiarkan polisi ikut campur atau teman-temannya akan membusuk dalam penjara. Namun, dia juga tidak bisa membiarkan papanya menghancurkan mereka.
"Si*al. Aku benar-benar tidak bisa melawan papa." Ryder mengusap wajahnya dengan kasar. Helaan napas frustasi terdengar dari mulutnya, membuat Adena menatap dengan sendu.
Ryder menarik napas panjang, lalu menghembuskannya dengan kasar. Dia lalu menatap papanya untuk memberi jawaban atas keputusannya.
"Baiklah, hancurkan saja tempat itu. Tapi jangan sentuh teman-temanku," ucap Ryder dengan suara berat dan tertahan.
Eric tergelak saat mendengarnya. "Baik, sekarang pergilah. Aku tidak mau lagi melihat wajahmu." Dia lalu berbalik dan melihat ke arah jendela.
"Sayang." Adena memeluk lengan kekar suaminya dengan erat. "Sayang, aku mohon jangan-"
"Satu kata saja aku dengar kau membelanya, maka aku akan membunuh putramu itu, Adena!"
__ADS_1
Deg.
Adena tercengang saat mendengar ucapan dingin nan menusuk suaminya. Mulutnya langsung terdiam kaku, dengan dada berdegup kencang penuh sakit dan kecewa.
"Kalau gitu aku permisi Pa, Ma," ucap Ryder dengan menganggukkan kepala, membuat Adena langsung berlari untuk menghampirinya.
"Anakku, huhuhu." Adena memeluk putranya dengan erat, dan dibalas dengan usapan lembut dari Ryder.
"Aku baik-baik saja, Ma." Ryder mencoba untuk menenangkannya.
"Ja-jaga dirimu baik-baik, Ryder. Mama, mama akan bicara pada papamu, dia pasti hanya emosi sesaat saja," ucap Adena sambil melerai pelukannya, dan menatap sang putra dengan sendu.
"Aku mengerti, Ma." Ryder lalu mengecup kening sang mama, dan berlalu keluar dari ruangan itu.
Adena menutup mulutnya dengan kedua tangan sambil terisak lirih, dia tidak menyangka jika semua ini akan terjadi dalam keluarganya.
"Kenapa, kenapa kau tega melakukan semua ini pada putramu sendiri, Eric? Aku tau jika dia sudah membuat kesalahan, tapi apa yang kau lakukan benar-benar menghancurkan hidup dan pertemanannya," ucap Adena dengan terisak.
"Jika aku tidak melakukannya, maka nyawa putramu yang akan menghilang,"
"A-apa?"
•
•
•
Tbc.
__ADS_1