
Via menuntun tubuh Yara dan mendudukannya di atas sofa. Dia lalu memanggil pembantu dan meminta agar mengambil segelas air untuk sang putri.
"Minumlah, Nak."
Via memberikan segelas air yang baru saja pembantu berikan padanya, dan langsung diminum oleh Yara. Dia lalu mengusap punggung putrinya itu dengan lembut.
Yara lalu meletakkan gelas itu ke atas meja dan menatap mamanya dengan sayu. "Maafkan aku, Ma. Seharusnya aku bisa menyelesaikan masalah rumah tangga kami sendiri, dan tidak melibatkan Mama dan papa."
"Kau ini bicara apa, Nak? Kami adalah orang tuamu, sudah sepantasnya kau melibatkan kami dalam hal apapun juga."
Via menggengam kedua tangan Yara dengan erat. Sungguh hatinya sangat sakit sekali dengan apa yang terjadi pada sang putri, dan kenapa putrinya harus mengalami hal seperti ini?
"Tapi aku sudah dewasa, Ma. Bahkan sudah berumah tangga."
Yara menundukkan kepalanya. Sejak dulu dia selalu saja merepotkan kedua orang tuanya, bahkan sudah berumah tangga pun orang tuanya harus mengalami kesusahan karena dia juga.
"Sudah dewasa atau pun belum, kau tetaplah anak kami, Yara. Seharusnya mama dan papa lah yang minta maaf karena sudah terlalu ikut campur dalam rumah tanggamu."
Yara langsung menggelengkan kepalanya. "Tidak, Ma. Mama dan papa tidak pernah ikut campur, tapi malah selalu membantu kami dalam keadaan susah. Hanya saja tidak semua orang mengerti dengan itu."
Via menatap Yara dengan sendu. Saat ini dia hanya bisa mendo'akan agar putrinya kuat menjalani semua cobaan ini, dan mendapatkan kebahagiaan dikemudian hari kelak.
Setelah memberi perintah pada River, Vano dan juga Zafran bergabung dengan mereka. Tidak ada satu pun yang bertanya atau pun membahas tentang masalah Aidan, karena mereka tidak mau membuat Yara kembali bersedih.
Pada saat yang sama, Ambar sudah berada di klinik dan menunggu kedatangan Yara. Begitu juga dengan pekerja yang lain. Mereka sudah membersihkan tempat itu, tetapi Yara tidak juga datang seperti biasanya.
"Apa Anda sudah menelepon Dokter Yara, suster?" tanya Seorang wanita yang merupakan pekerja di klinik itu juga.
Ambar menganggukkan kepalanya. "Aku sudah meneleponnya, tapi tidak di angkat." Dia merasa frustasi sendiri.
Setelah 2 jam menunggu, akhrinya Ambar memilih untuk langsung menemui Yara. Dia bertanya-tanya kenapa wanita itu belum datang juga, dan merasa khawatir jika sebenarnya Yara sedang sakit.
"Assalamu'alaikum," ucap Ambar sambil mengetuk pintu rumah itu, dan tidak berselang lama terdengar sahutan dari dalam.
__ADS_1
"Loh, Nona Ambar," ucap Bik Asih, dia adalah penbantu di rumah Yara.
"Dokter Yara nya ada, Bik?" tanya Ambar membuat wanita itu langsung terkesiap.
"Siapa Bik?"
Belum sempat Bik Asih menjawab pertanyaan Ambar, tiba-tiba Nova datang dan menghampiri mereka berdua.
"Selamat siang, Buk Nova. Saya ingin bertemu dengan Dokter Yara."
Ambar langsung mengatakan maksud dan tujuannya ke rumah itu, sebelum ditanya oleh Nova.
"Dia tidak ada di sini," jawab Nova dengan cepat.
"Apa Dokter Yara sedang pergi, Buk?" tanya Ambar kembali.
Nova lalu menatap Ambar dengan sinis. Hatinya kembali menggelora saat mendengar nama wanita itu disebut, sungguh dia tidak ingin mendengar atau pun bertemu lagi dengannya.
"Ya, dia sedang pergi dan tidak akan kembali. Jadi berhenti mencarinya ke sini!"
"Apa maksudnya? Kenapa dia bicara seperti itu?"
Ambar benar-benar tidak mengerti. Apa Yara sedang pergi ke tempat jauh, sehingga tidak bisa kembali? Tapi kenapa ucapan wanita paruh baya itu terdengar seperti Yara sudah tidak tinggal di rumah itu lagi?
Tidak mau semakin pusing, Ambar memilih untuk kembali ke klinik dan mencoba untuk kembali menghubungi Yara.
"Assalamu'alaikum, Ambar."
Setelah perjuangan panjang, akhirnya Yara mengangkat panggilan telponnya.
"Halo Dokter, kenapa belum datang ke klinik?" tanya Ambar dengan cepat dan dipenuhi kegelisahan.
"Maaf, Ambar. Sepertinya untuk beberapa hari ini klinik kita harus tutup dulu, karena aku sedang ada urusan penting," ucap Yara di sebrang telepon membuat Ambar mengernyitkan keningnya.
__ADS_1
"Kenapa mendadak, Dokter? Tapi Anda baik-baik saja kan?"
"Iya, aku baik, Ambar. Maaf karena tidak sempat memberitahumu, tolong katakan pada yang lain juga ya."
Ambar lalu mengiyakan ucapan Yara dan mematikan panggilan telepon itu. Walau merasa bingung dan heran, tetapi dia tetap menjalankan perintah dari wanita itu.
***
Malam harinya, Via masuk ke dalam kamar Yara yang saat itu sedang duduk di balkon. Dia lalu berjalan cepat untuk mendekati sang putri membuat lamunan Yara terhenti.
"Mama? Aku kira siapa." Yara mengusap dadanya yang berdebar-debar akibat terkejut dengan kebaradaan sang mama.
Via tersenyum lalu duduk di samping Yara. "Kenapa duduk di sini, Nak? Ini sudah larut, nanti masuk loh."
"Cuma ingin aja, Ma. Anginnya sejuk kok."
Via lalu menganggukkan kepalanya sambil melihat Yara dengan sayu. "Ada sesuatu yang ingin mama tanyakan denganmu, Nak. Apa kau benar-benar ingin berpisah dengan Aidan?"
Yara terdiam saat mendengar pertanyaan sang mama, sementara Via sendiri menggenggam kedua tangan putrinya dengan erat.
"Mama mengerti dengan apa yang sudah dia lakukan, Nak. Dan mama tau apa yang kau rasakan saat ini. Hanya saja kita tidak bisa memutuskan perpisahan dengan tergesa-gesa dan dipenuhi oleh kemarahan. Kau harus memikirkannya terlebih dahulu, agar tidak terjadi penyesalan dikemudian hari nanti."
Yara menganggukkan kepalanya. "Aku mengerti, Ma. Aku akan memikirkan semuanya dengan tenang, dan meminta petunjuk pada Allah untuk semua masalah yang sedang terjadi."
Via mengusap punggung Yara dengan lembut. Dia yakin jika anaknya pasti akan memikirkan semua itu dengan baik, agar tidak terjadi masalah yang jauh lebih besar lagi.
Setelah berbincang sebentar, Via memutuskan untuk kembali ke kamarnya dan menyuruh Yara untuk segera istirahat. Dia mengecup kening sang putri dan berlalu keluar.
"Semoga nantinya keputusanmu tidak salah, Nak. Dan apapun itu mama pasti akan mendukungnya."
•
•
__ADS_1
•
Tbc.