Takdir Cinta Yang Kau Pilih

Takdir Cinta Yang Kau Pilih
Bab. 52. Aku Akan Merawatnya.


__ADS_3

Tubuh Nova terjatuh ke lantai saat mendengar semua ucapan Aidan. Matanya terbelalak dengan mulut terbuka, pandangannya tampak kosong seperti sebuah tubuh yang kehilangan nyawa.


"Ti-tidak, itu, itu tidak mungkin."


Tetes demi tetes air mata mulai membasahi wajah Nova, tangannya naik ke dada dan menekannya dengan kuat saat merasa sesak.


"Tidak. Aku, aku harus menemui wanita itu."


Nova beranjak bangun dari lantai dan berjalan tertatih ke arah meja. Dia harus mengambil ponselnya untuk menghuhungi Rosa, dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi pada Aidan.


Aidan yang sudah berada di dalam kamar tampak menghancurkan semua barang-barang yang ada di tempat itu, dia terus meluapkan semua amarah yang ada dalam diri.


"Kenapa, kenapa semua ini terjadi padaku? Kenapa, Tuhan?"


Brak.


Pyar.


Aidan meninju kaca yang ada di hadapannya, hingga membuat darah segar mengalir dari punggung tangannya. Semua barang-barang yang ada di kamar itu sudah hancur tidak bersisa karena pelampiasan amarahnya.


"Kenapa, kenapa semua ini bisa terjadi?"


Tubuh Aidan terjatuh ke atas lantai, dia menjambak-jambak rambutnya sendiri dengan geram dan penuh sesal.


Sementara itu, di negara lain terlihat Vano dan River sudah kembali ke rumah Mahen. Setelah bertemu dengan Eric, mereka memutuskan untuk pulang karena memang tidak ada tujuan yang lain.


Sesampainya di rumah, Vano mengajak Via ke ruang kerja Mahen di mana sang kakak sudah berada di sana. Sebelumnya dia sudah meminta kakaknya untuk pulang, Karena ada hal penting yang harus dibicarakan.


Vano, Via, dan Mahen saat ini sudah duduk saling berhapan di ruang kerja Mahen. Dia lalu bertanya pada sang adik alasan mereka berkumpul di ruangan ini.


Vano langsung saja menceritakan tentang permintaan Eric, dia juga menjelaskan siapa laki-laki itu karena istrinya jelas tidak tahu.


Mahen dan Via tercengang saat mendengar cerita Vano. Bagaimana mungkin ada permintaan seperti itu?


"Aku tidak bisa membuat keputusan, jadi harus kakak dan Via lah yang menentukannya,"

__ADS_1


"Tapi kenapa dia meminta hal seperti itu, Vano? Bukankah itu aneh sekali?" Mahen menggelengkan kepalanya dengan tidak percaya. "Atau jangan-jangan dia punya niat jahat pada Yara, itu sebabnya meminta dia untuk merawat laki-laki itu."


Via langsung tersentak kaget dengan wajah khawatir. Tidak, dia tidak boleh membiarkan Yara berada dalam bahaya apapun alasannya.


"Itu tidak mungkin, Kak. Mereka tahu jelas siapa kita, hanya orang gila saja yang akan melakukan semua itu."


Betul juga sih. Mahen menganggukkan kepalanya, tetapi tetap saja semua itu terasa sangat aneh sekali.


"Terlepas dari apapun tujuan mereka, kita tidak bisa membiarkan Yara dalam bahaya," ucap Via dengan khawatir, apalagi dia tidak akan berada di dekat sang putri jika Yara tinggal di sini.


"Tapi Eric sudah sangat memohon, Sayang. Anaknya tidak mau dirawat oleh orang lain selain Yara."


Dasar gila!


Ingin sekali Mahen dan Via memaki laki-laki itu, memangnya seorang pasien berhak memilih-milih Dokter? Kenapa dia sangat kekanak-kanakan sekali?


"Menurutmu sendiri bagaimana, Van?" tanya Mahen.


Vano lalu mengatakan jika dia tidak masalah jika Yara mau merawat laki-laki itu, karena dia melihat ketulusan dan harapan yang sangat besar dari tatapan mata Eric. Tentu saja hatinya merasa tidak tega, karena dia sendiri juga seorang ayah.


"Baiklah, kalau gitu panggil Yara ke sini. Biarkan dia yang mengambil keputusan."


Keadaan yang sama terulang kembali saat Vano menceritakan semuanya pada Yara, jelas wanita itu terkejut dan merasa heran karena baru pertama kali mengalami hal seperti ini.


"Semua terserah padamu, Yara. Kalau kau mau, maka kami juga akan setuju. Jika tidak, maka papa akan mengatakannya pada Eric."


Yara diam sejenak untuk memikirkan ucapan sang papa. Sebagai seorang Dokter, jelas sudah menjadi kewajibannya untuk merawat pasien. Namun, dia masih dibingungkan dengan keadaan saat ini.


"Apa kau butuh waktu untuk memikirkannya, Nak?" tanya Via.


Yara menarik napas panjang lalu menghembuskannya dengan perlahan. "Tidak, Ma. Insyaallah aku akan merawat laki-laki itu."


Setelah Yara membuat keputusan, Vano segera menyuruh River untuk menghubungi Eric, dan mengatakan jika Yara besok akan datang ke rumah sakit.


"Jika terjadi sesuatu yang salah dan tidak sepantasnya terjadi, maka kau harus mengatakannya pada kami."

__ADS_1


Yara menganggukkan kepalanya. "Tentu saja, Pa. Aku kan bukan anak kecil lagi." Dia mencebikkan bibirnya.


Mahen, Vano dan juga Via hanya menggelengkan kepala mereka saja. Kemudian semua orang bubar barisan dari tempat itu.


"Perintahkan seseorang untuk mengawasi Yara, pastikan jika laki-laki itu tidak melakukan sesuatu."


River langsung menganggukkan kepalanya mendengar perintah Vano. "Baik, Tuan."


*


*


Keesokan harinya, seperti biasa semua orang sedang bersiap untuk aktivitas masing-masing. Begitu juga dengan Yara yang sudah rapi dengan kemeja dan juga celana wolfis berwarna hitam.


Yara segera berangkat ke rumah sakit dengan di antar oleh Vano dan juga River, tentu saja mereka harus bertemu dengan laki-laki yang akan di rawat oleh Yara.


Sesampainya di rumah sakit, Eric dan sang istri menyambut kedatangan Yara dan yang lainnya. Mereka sampai menunggu dilobi karena ingin melakukan penyambutan.


"Terima kasih karena sudah mau merawat anak kami, Tante benar-benar bersyukur."


Yara tersenyum sambil menganggukkan kepala. Dia lalu mengusap punggung tangan Adena yang sejak tadi menggenggam tangannya.


"Itu sudah menjadi kewajiban saya, Tante. Insyaallah saya akan merawat anak Tante dengan baik,"


"Tante percaya, Nak. Tante sudah menyerahkan anak Tante sepenuhnya padamu, jadi terserah jika kau ingin melakukan apapun."


Baik Yara, Vano, River, bahkan Eric tampak terkejut dengan ucapan Adena. Memangnya wanita itu sedang menjualnya anaknya, sehingga pakai acara menyerahkan segala?


Yara lalu kembali mengangguk dan mengiyakan apa yang wanita paruh baya itu katakan. Kemudian mereka semua segera pergi ke ruangan di mana Ryder berada.


"Pantas bocah kurang ajar itu ngotot ingin dirawat oleh Yara, rupanya wanita itu bukan manusia. Melainkan bidadari."



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2