Takdir Cinta Yang Kau Pilih

Takdir Cinta Yang Kau Pilih
Bab. 98. Kenapa Harus Berbohong.


__ADS_3

Dengan langkah lebar Ryder berjalan untuk menghampiri Yara yang saat ini sedang duduk bersama dengan para pemuda desa ini. Lupa sudah niatnya yang tidak akan lagi berharap pada Yara, padahal belum sampai 1 jam kata-kata itu keluar dari mulutnya.


"Apa Dokter punya pacar?"


Deg.


Langkah Ryder terhenti saat mendengar pertanyaan dari salah satu lelaki yang sedang duduk bersama dengan Yara, sementara Yara sendiri tersenyum saat mendengar pertanyaan itu.


"Saat ini saya cuma mau fokus dengan pekerjaan saja, tidak dengan yang lain," jawab Yara membuat ketiga lelaki itu langsung lemas tidak bertenaga.


Ryder sendiri langsung tersenyum lebar saat mendengarnya. Tidak masalah jila Yara berkata seperti itu, toh di masa depa tidak akan ada yang tahu bagaimana akhir dari ceritanya.


"Tapi Dokter, sekali-kali Anda harus jalan-jalan keliling desa ini. Kami akan mengantarnya," ucap lelaki yang lain, terlihat jelas jika dia ingin mengambil kesempatan dalam keseimpitan.


"Benar, Dokter. Kalau Anda butuh sesuatu, katakan saja pada kami. Maka kami akan langsung membantu," sambung yang lain.


Yara hanya tertawa saja untuk menanggapinya, sementara Ryder terus memperhatikan dari balik pohon karena tidak mau jika Yara melihatnya.


Tidak berselang lama, datanglah rekan-rekan Yara yang lain beserta masyarakat yang belum melakukan pemeriksaan. Dengan cepat Yara membuka pintu ruangan itu dan masuk ke dalamnya, membuat ketiga lelaki tadi saling menatap satu sama lain.


"Tadi kan dia bilang gak bisa masuk, tapi kenapa dia yang buka kuncinya?" bisik lelaki itu ke telinga teman-temannya.


"Iya benar. Sepertinya dia membohongi kita karena enggak mau meriksa, atau gak mau kalau kita masuk."


Cih.


Mereka langsung berdecih dengan geram saat melihat apa yang Yara lakukam tadi, Berani sekali wanita itu membohongi mereka? Mentang-mentang mereka baik jadi bisa ditipu seperti itu.


"Lihat saja, kita akan memberi dia pelajaran," ucap lelaki yang merupakan ketua dalam geng mereka. Mereka jugalah yang selalu iri dan tidak suka dengan Ryder, padahal laki-laki itu tidak melakukan apa-apa.

__ADS_1


Pada saat yang sama, di tempat lain terlihat Vano dan River sedang menghadiri sebuah peresmian perusahaan baru yang sudah bekerja sama dengan mereka, yaitu perusahaan kedua orang tua William.


Kedua orang tua William kini sudah resmi membangun perusahaan baru di kota itu, dengan dibantu oleh Vano sebagai investor dalam perusahaan itu.


Setelah menghadiri peresmian perusahaan, mereka menikmati makan siang di salah saru restoran yang berada tidak jauh dari perusahaan itu.


"Terima kasih untuk semua bantuanmu, Van. Aku tidak bisa kembali membangun perusahaan tanpa bantuan darimu," ucap Felix sambil menikmati hidangan yang sudah tersaji di atas meja.


"Aku ngasi bantuan 'kan dalam bentuk menjadi inverstor, jadi bukan secara cuma-cuma ngasi gitu aja. Jadi kau tidak perlu berterima kasih," balas Vano. Tidak perlu berterima kasih padanya karena dia melakukannya karena ingin mendapat ke untungan juga.


Felix mengangguk-anggukkan kepalanya sambil tetap menikmati makanan itu, begitu juga dengan Vano yang ikut menikmati makanan yang telah tersaji itu.


River sendiri hanya diam di tempat itu tanpa bersuara. Sebenarnya ada sesuatu yang saat ini sangat mengganggunya, tetapi dia sama sekali belum memberitahukannya pada sang tuan


Setelah selesai, Vano dan River segera kembali ke perusahaan. Hari ini jadwal mereka sangat padat sekali, itu sebabnya merasa tidak sempat untuk berbincang lagi dengan yang lain karena harus segera kembali ke perusahaan.


"Ada apa denganmu, River. Seperti orang tua saja yang selalu mengernyitkan kening," ucap Vano. Sudah beberapa hari ini dia memperhatikan River, sepertinya ada sesuatu yang sangat penting yang sedang laki-laki itu pikirkan.


"Cih." Vano mencebikkan bibirnya. Memang benar sih jika River banyak membantu dalam mengurus anak-anak ya selama ini, bahkan merekan malah lebih dekat dengan laki-laki itu dari pada dengan dia yang merupakan ayah kandung mereka sendiri.


"Bagaimana kalau aku mengenalkan wanita padamu, River? Sudah diumur segini, seharusnya kau sudah menikah," ucap Vano. Entah sudah berapa kali dia menyuruh laki-laki yang sudah hampir berusia hampir setengah abad itu, tetapi River sendiri yang memang tidak mau.


"Saya bahagia seperti ini, Tuan." Itulah jawaban yang selalu dia berikan ketika disuruh untuk menikah, karena baginya kebahagiaan saat ini sudah cukup.


Beberapa saat kemudian, mereka sudah sampai di tempat tujuan. Kedua lelaki itu segera keluar dari mobil dan berjalan masuk ke dalam perusahaan.


Beberapa karyawan yang berpapasan dengan mereka langsung menyambut dengan ramah, sementara kedua lelaki itu hanya menganggukkan kepalanya untuk menanggapi sapaan mereka.


Setelah sampai di dalam ruangan, tampak River juga duduk di sofa yang ada di dalam ruangan Vano membuat laki-laki itu menatap dengan heran.

__ADS_1


"Tuan, ada sesuatu yang ingin saya katakan pada Anda," ucap River sambil melihat ke arah Vano yang sedang berdiri di samping meja kerja, dan hendak segera duduk dikursi panas untuk melanjutkan pekerjaannya.


Vano menghela napas kasar lalu berjalan ke arah sofa yang mendudukkan tubuhnya di tempat itu, tepatnya di hadapan River yang sudah memasang wajah seriusnya.


"Ada apa sebenarnya? Sudah beberapa hari ini aku perhatikan kau seperti sedang banyak pikiran," ucap Vano sambil menyandarkan tubuhnya yang terasa lelah.


River menganggukkan kepalanya. "Sebenarnya ada hal penting yang beberapa hari ini belum saya katakan Anda, Tuan. Ini mengenai kontrak kerja bersama dengan tuan Felix."


Vano mengernyitkan kening saat mendengar nama yang disebut oleh River. "Felix, ada apa dengannya?" Dia bertanya dengan bingung.


River lalu menceritakan jika beberapa hari yang lalu dia tidak sengaja mendengar obrolan Felix dengan sekretaris laki-laki itu. Lalu samar-samar mereka membahas tentang hutang yang sangat besar, dari situlah dimerasa curiga dan mencoba untuk mencari.


Setelah mencari tahu tentang utang itu, ternyata pencarian River mengarah pada suatu kelompok mafia di Italia yang ternyata pernah bekerja sama dalam perusahaan yang bangkrut itu. Lalu, yang lebih mencengangkan, ternyata perusahaan menggelontorkan uang yang besar untuk membiayai senjata para mafia yang kala itu sedang berperang dengan kelompok lain.


Setelahnya River segera memerintahkan anak buahnya untuk mencari tahu semua itu, dan terbang langsung ke Italia untuk mencaritahunya.


Rupanya Felix sendiri tergabung dalam mafia yang ada di Italia, bukan hanya itu saja, bahkan istri laki-laki itu juga bergabung dalam kelompok tersebut. Sampai akhirnya perusahaan tidak mampu untuk memikul beban mereka dan berakhir bangkrut.


"Dan kebenaran itu sangat bertolak belakang sekali dengan apa yang tuan Felix katakan pada kita. Kenapa dia harus berbohong, kenapa dia tidak mengatakam yang sesungguhnya saja?" ucap River setelah selesai menceritakan semuanya.


Vano terdiam saat mendengar ucapan River. Apa yang laki-laki itu katakan memang benar, kenapa sejak awal Felix tidak jujur dengannya dan menyembunyikan semua ini.


"Jangan-jangan dia ingin menjadikan perusahaan baru itu sebagai pondasi untuk membiayai kelompoknya?"




__ADS_1


Tbc.


__ADS_2