
William tersentak kaget saat mendengar ucapan Zafran, begitu juga dengan Yara yang refleks menjauhkan diri dari William karena merasa terkejut dengan seruan adiknya itu.
"Ca-calon suami mbak Yara?" tanya William dengan bingung.
Zafran menganggukkan kepalanya. Dia lalu menunjuk ke arah Ryder yang terus menatap William dengan tajam, sementara yang lain tampak tertawa geli saat melihat raut wajah Ryder yang seperti akan menelan William hidup-hidup.
Melihat kemarahan diwajah laki-laki yang saat ini berada tepat di hadapannya, William langsung kembali menoleh ke arah Yara. "Apa Mbak benar-benar akan menikah dengannya?" Dia bertanya dengan berbisik.
Yara memalingkan wajah malu untuk menjawab pertanyaan William. "Su-sudahlah, mbak mau ke dapur dulu." Dia bergegas pergi ke dapur karena benar-benar sudah merasa sangat malu, sampai-sampai lupa jika akan pergi ke rumah sakit.
"Bukankah kita mau ke rumah, Yara?" tanya Ryder saat melihat kepergian Yara, membuat langkah wanita itu seketika terhenti.
Benar juga, dia tadikan sudah berkata pada laku-laki itu untuk langsung ke rumah sakit begitu semua pekerjaannya selesai, tetapi sekarang malah dia yang lupa. Yara merutuki dirinya sendiri karena sudah berbuat konyol seperti ini.
"A-aku ingin minum sebentar," ucap Yara sebagai alasan. Dia langsung cepat-cepat pergi dari tempat itu sebelum bertambah malu.
Ryder terkekeh pelan saat melihat apa yang Yara lakukan, dia yakin sekali jika wanita itu pasti merasa sangat malu saat ini.
Setelah itu, Ryder memutuskan untuk menunggu Yara di mobil. Sebelum keluar, Via lebih dulu menyuruhnya untuk makan karena memang sejak siang mereka belum makan apa-apa. Namun, dia menolak tawaran calon mertuanya itu dengan alasan supaya makan berdua dengan Yara, membuat semua orang merasa tidak habis pikir.
"Kalau gitu Tante akan siapkan makanan itu, supaya dibawa ke rumah sakit dan kalian bisa memakannya bersama," ucap Via tidak kehabisan akal, dia tidak mau Ryder makan sembarangan dalam keadaan sakit seperti ini.
Tidak bisa lagi menolak, akhirnya Ryder menganggukkan kepalanya dan berlalu pergi keluar rumah untuk menunggu Yara yang belum juga kembali.
"Apa tidak apa-apa membiarkan mereka pergi berdua saja, mungkin nanti Ryder butuh bantuan?" ucap Via dengan khawatir.
__ADS_1
Vano menghela napas kasar sambil merangkul bahu sang istri. "Justru kalau kita ikut, itu malah sama sekali tidak membantu Ryder, Sayang."
Via mengernyitkan kening bingung saat mendengarnya. "Apa maksudnya?" Dia merasa tidak mengerti.
"Biarkan mereka pergi berdua, mereka butuh waktu untuk saling bicara. Lagipula luka Ryder tidak parah, dan peluru yang ada dilengannya juga tidak dalam," ucap Vano menjelaskan.
Via akhirnya mengangguk paham dengan apa yang suaminya katakan, kemudian dia beranjak ke dapur guna menyiapkan bekal makanan untuk Yara dan Ryder.
Beberapa saat kemudian, Yara dan Ryder berlalu pergi ke rumah sakit sambil membawa bekal makanan yang Via buatkan. Saat ini, Yaralah yag sedang mengemudikan mobil itu. Dia sengaja melarang Ryder menyetir karena lengan laki-laki itu terluka, padahal Ryder sama sekali tidak merasa sakit.
"Aku baru tahu kalau kau dekat dengan laki-laki bernama William itu, Yara," ucap Ryder dalam perjalanan.
Yara menoleh sebentar ke arah Ryder, lalu kembali melihat lurus ke depan. "Dan aku juga baru tahu kalau kau sangat mudah sekali mengucapkan sesuatu yag sangat penting, Ryder."
Yara tersenyum simpul. "Dengar, Ryder. Sebuah pernikahan adalah sesuatu yang sangat penting dan suci, sesuatu yang tidak bisa dijadikan permainan semata."
Ah, Ryder baru paham sekarang. Ternyata Yara sedang membahas tentang pengakuannya tadi, yang mengatakan jika akan segera menikah dengan wanita itu.
"Aku tahu bahwa pernikahan itu sesuatu yang sangat suci, Yara, dan aku sama sekali tidak menjadilannya sebagai permainan. Aku serius dengan semua ucapanku, dan aku benar-benar serius saat berkata jika akan segera menikahimu," sahut Ryder.
Yara terdiam saat mendengarnya. Bukannya dia tidak merasa senang saat mendengar pengakuan Ryder, hanya saja masih ada rasa trauma tentang apa yang terjadi di masa lalu. Di mana laki-laki itu mempermainkan perasaanya, bahkan sampai menjadikannya sebagai bahan taruhan.
"Setelah ini aku akan pulang untuk mempersiapkan semuanya, kemudian aku akan kembali lagi untuk melamarmu. Apa kau bersedia menungguku?"
Spontan Yara langsung menginjak rem saat mendengar ucapan Ryder, sampai membuat kepala laki-laki itu hampir membentur bagian depan mobil.
__ADS_1
"Astaga!" pekik Ryder dengan kuat saat melihat apa yang Yara lakukan. Untung saja mulutnya tidak mengeluarkan kata-kata kotor di hadapan wanita itu.
Yara sendiri juga terkejut dengan apa yang terjadi. Dia tidak sengaja menginjak rem saat mendengar ucapan Ryder, dan untung saja tidak ada mobil yang melintas di belakang mereka.
"Apa kau baik-baik saja, Yara?" tanya Ryder dengan khawatir.
Yara terkesiap saat tangan Ryder menepuk bahunya, dia lalu menoleh ke arah laki-laki itu dengan tatapan tajam.
"Apa yang kau lakukan, Ryder? Kenapa kau-" Yara tidak dapat melanjutkan ucapannya saat menyadari sesuatu. Tidak seharusnya dia marah pada laki-laki itu, karena dia sendiri yang sudah menginjak rem secara mendadak. Namun, dia kan melakukan itu karena merasa terkejut saat mendengar ucapan laki-laki itu. Bukankah itu artinya Ryderlah yang salah?
"Yara, kau, kau baik-baik saja 'kan?" tanya Ryder kembali.
Yara yang sedang berperang dengan dirinya sendiri langsung menghela napas kasar saat kembali mendengar suara Ryder. "Aku tidak apa-apa, Ryder. Tapi aku mohon tolong jangan katakan apapun sampai kita tiba di rumah sakit." Dia kembali melajukan mobil itu tanpa menoleh ke arah Ryder sedikit pun.
Ryder tersenyum saat mendengarnya, apalagi ketika melihat wajah Yara yang sedang bersemu merah. "Baiklah, aku tidak akan mengatakan apapun. Tapi, aku bolehkan diam saja sambil terus menatapmu dan mencintaimu?"
"Ryder!"
•
•
•
Tbc.
__ADS_1