Takdir Cinta Yang Kau Pilih

Takdir Cinta Yang Kau Pilih
Bab. 43. Bersyukur Kunci Utama.


__ADS_3

Vano tercengang saat mendengar apa yang Aidan katakan. Apakah laki-laki itu sudah gila sehingga berkata seperti itu? Atau dia salah minum obat?


"Apa kau sudah tidak waras?" tanya Vano dengan smirik iblisnya.


Via yang baru saja selesai shalat bergegas turun ke lantai 1, dia mengernyitkan kening saat melihat keberadaan Aidan.


"Kalian yang sudah tidak waras. Sebenarnya apa lagi mau kalian, hah? Aku dan Yara sudah bercerai sekarang, tetapi kalian masih saja mengangguku bahkan sampai pekerjaanku juga. Apa kalian berniat untuk menginjakku sampai hancur?"


Vano benar-benar tidak paham dengan apa yang Aidan katakan. Mungkinkah laki-laki itu benar-benar sudah gila?


"Ada apa ini?"


Aidan dan Vano langsung melihat ke arah tangga di mana Via berada, kemudian Aidan melihat melihat ke sekeliling tempat dan tidak melihat keberadaan Yara.


"Sekarang katakan di mana Yara, aku yakin jika Yara pasti tidak tau apa yang sudah kalian lakukan."


"Cukup!" Vano mengangkat tangannya untuk menggentilan ocehan laki-laki gila itu. "Sebelum bicara, sebaiknya kau periksa dulu ke rumah sakit. Barang kali ada salah satu sarafmu yang bermasalah."


"Mas!"


Via membulatkan matanya saat mendengar ucapan sang suami, sementara Vano merasa tidak peduli karena apa yang dia katakan adalah benar.


"Sebenarnya ada apa, Aidan? Kenapa kau datang ke sini dan marah-marah, bukankah masalah kita sudah selesai?" tanya Via dengan pelan agar tidak memancing emosi.


Aidan menghela napas kasar lalu mulai menceritakan apa yang terjadi padanya, sekaligus tuduhan terhadap Zafran dan juga Vano yang menjadi biang keladi atas apa yang menimpanya.


"Kau bermimpi terlalu tinggi, Aidan. Seharusnya aku sadar siapa kau yang sebenarnya, sehingga tidak terlalu sakit saat terjatuh."


Aidan mengepalkan tangannya dengan erat. "Jangan berkilah, Tuan Vano. Selama ini aku selalu giat dan bekerja keras dalam pekerjaan, jadi tidak mungkin jika apa yang tuan Surya katakan itu benar. Dia pasti hanya membual saja."


Vano mengendikkan bahunya. "Terserah kau mau berkata apa, tapi asal kau tahu bahwa sesungguhnya kau benar-benar tidak layak dalam hal apapun. Baik dalam suatu hubungan, juga dalam pekerjaan. Dan ingat satu hal, aku bisa melakukan apapun untuk menggancurkanmu termasuk menendangmu dari perusahaan. Tapi aku tidak melakukan itu karena tidak ingin berurusan dengan makhluk rendah dan tidak penting sepertimu. Lalu, apa gunanya aku menyuruh Surya untuk menggagalkan kenaikan jabatanmu?"

__ADS_1


Zafran yang baru sampai di rumah menatap Aidan dengan tajam, sementara Aidan sendiri terdiam dengan apa yang Vano katakan.


"Tidak ada untungnya bagiku dan juga Zafran berurusan dengan orang sepertimu, terserah kau mau melakukan apa. Bahkan jika kau mati sekalipun, kami tidak akan peduli. Jadi cepat pergi dari tempat ini sebelum aku benar-benar menghancurkanmu!" usir Vano dengan penuh penekanan.


Aidan langsung berbalik dan keluar dari rumah itu karena tidak bisa membantah apa yang Vano ucapkan. Matanya berkilat marah saat melihat keberadaan Zafran.


"Kalian lihat saja, aku pasti akan menjadi orang sukses dan membuat kalian tidak bisa lagi menghinaku." Aidan terus melangkah lebar sampai ke luar rumah itu.


"Dasar laki-laki bod*oh. Sudah miskin, banyak gaya lagi. Masih baik aku membiarkanmu menghirup udara bebas."


Vano menendang-nendang udara untuk melampiaskan semua amarahnya. Dia tidak habis pikir kenapa ada manusia seperti Aidan, dan si*alnya laki-laki itu pernah menjadi menantunya.


Via sendiri hanya menghela napas kasar. Dia hanya diam dan tidak berkomentar karena apa yang suaminya katakan adalah benar, dan sepertinya Aidan telah salah paham pada keluarganya.


Zafran langsung mendekati sang papa dan bertanya apa yang Aidan lakukan tadi, walaupun sudah tahu inti dari kedatangan laki-laki itu.


"Manusia yang selalu melihat ke atas dan tidak mau sesekali melihat ke bawah pasti akan terjatuh. Baik karena kesombongan dan keangkuhannya, juga karena keegoisan dalam diri," ucap Vano setelah selesai menceritakannya pada Zafran.


"Itu benar, Mas. Sebagai manusia hendaknya kita selalu bersyukur dan rendah hati atas apa yang dimiliki, karena di atas langit masih ada langit. Apalagi untuk sesuatu yang bukan menjadi milik kita, dan sejatinya semua ini hanya titipan."


"Sekarang ayo kita makan, mama sudah sangat lapar!"


"Loh, bukannya tadi mas sudah memberimu makan dari mulut yang lain?" ucap Vano membuat kedua mata Via melotot dengan sempurna.


"Mas!"


Via benar-benar kesal melihat tingkah Vano yang tidak tahu tempat, padahal saat ini Zafran sedang bersama dengan mereka.


"Apa? Aku 'kan hanya mengatakan kebenarannya saja."


Via langsung berbalik dan pergi ke dapur membuat Vano langsung tergelak, sementara Zafran hanya menggelengkan kepalanya dan beranjak pergi ke kamar.

__ADS_1


*


*


Tepat pukul 6 pagi, Yara dan kedua adiknya sedang bersiap-siap untuk pergi jogging di area taman yang berada tidak jauh dari rumah. Mereka lalu pamit pada Mahen dan juga Riani lalu bergegas pergi ke tempat tujuan.


Sudah lama sekali Yara tidak menikmati waktu seperti ini. Setiap hari dia selalu disibukkan oleh pekerjaan, belum lagi tugas seorang istri untuk melayani sang suami.


Yara memperhatikan sekitar jalan di mana banyak orang-orang yang juga sedang jogging. Ingatan masa kecilnya dulu berlarian dalam pikiran saat masih tinggal di tempat itu.


"Mbak, kita beli itu yuk!"


Yumi langsung menggandeng tangan Yara dan mengajaknya ke sebrang jalan. Dasar Yumi, katanya aja jogging tetapi tetap makanan yang nomor satu.


Yara menggelengkan kepalanya dan mengikuti langkah Yumi dan juga Fahraz yang sudah duluan menyebrang jalan.


Tiinnn.


Yara tersentak kaget saat tiba-tiba sebuah mobil dengan kecepatan luar biasa melaju dari arah kanan dan melesat kencang ke arah mereka.


Dengan cepat Yara berlari ke arah Fahraz dan juga Yumi lalu mendorong tubuh mereka ke arah trotoar, membiat tubuh mereka bertiga tersungkur di atas tanah.


Brak.


Mobil itu hilang kendali dan langsung menabrak pembatas jalan hingga membuatnya terguling-guling dijalanan.


Semua orang berteriak histeris dengan apa yang terjadi, termasuk Yara yang membulatkan matanya saat melihat ada korban yang bersimbah darah di dalam mobil tersebut.



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2