Takdir Cinta Yang Kau Pilih

Takdir Cinta Yang Kau Pilih
Bab. 76. Kebaikan dibalas Dengan Penghinaan.


__ADS_3

Eric mengernyitkan kening bingung saat mendengar ucapan Mahen. "Maaf, Tuan. Sebenarnya apa yang sedang Anda katakan?" Dia benar-benar merasa tidak mengerti.


Mahen tersenyum sinis, apalagi saat melihat foto Ryder yang terletak di dinding ruangan itu.


"Lihat, dia. Dia benar-benar putra anda yang sangat gagah," ucap Mahen sambil menatap foto Ryder. Gurat kemarahan terlihat jelas di wajahnya, dengan napas yang mulai memburu.


Eric terdiam saat mendengar ucapan Mahen. Sejak tadi dia menerka-nerka apa yang sedang laki-laki itu katakan. Satu yang dia pahami, bahwa Mahen datang ke sini karena putranya.


"Saya akan mendengarkan apapun yang Anda katakan, jadi silahkan bicara, Tuan." Eric berjalan mendekati Mahen dan berdiri tepat di hadapan laki-laki itu. Dia menatap tajam, seolah-olah menyuruh laki-laki itu untuk segera mengatakannya.


"Anakmu menjadikan putriku sebagai bahan taruhan."


Deg.


Jantung Eric berdegup kencang saat mendengar ucapan Mahen. Wajahnya tampak tegang karena sangat terkejut mendengar apa yang putranya lakukan.


"Apa, apa maksud Anda?" tanya Eric dengan tergagap. Jelas dia terkejut dengan apa yang laki-laki itu katakan.


"Seharusnya Anda bertanya pada putra Anda sendiri apa yang telah dia lakukan. Bukan hanya menjadikan putriku sebagai bahan taruhan, dia bahkan menginjak-nginjak harga diri Yara di hadapan banyak orang," jelas Mahen dengan penuh penekanan. Wajahnya memerah dengan kemarahan yang mulai memuncak.


Eric kembali diam untuk memikirkan apa yang Mahen ucapkan. Sebenarnya apa yang sudah putranya itu lakukan, sampai-sampai menjadikan Yara sebagai bahan taruhan?

__ADS_1


"Tunggu, apa mungkin dia-" Eric mengepalkan kedua tangannya dengan erat saat mengingat tentang sesuatu. Mungkinkah putranya masih mengadakan pesta yang berisi pertaruhan para wanita?


"Panggil putraku ke sini, Rolan!" perintah Eric dengan tajam pada sekretarisnya. Rahangnya mengeras penuh emosi, dengan gurat kemarahan yang terlihat jelas di wajahnya.


"Baik, Tuan." Rolan bergegas pergi untuk memanggil Ryder.


"Apa Anda sudah tahu tentang perbuatan putra Anda itu?" tanya Mahen dengan tajam. Matanya menyipit penuh curiga saat melihat ekspresi Eric.


Eric menghela napas kasar sambil menundukkan kepalanya. "Maaf karena tidak bisa mendidik anak saya dengan baik, Tuan." Dia mengepalkan tangannya sampai kuku-kukunya memutih.


"Maaf? Apa Anda pikir dengan minta maaf maka harga diri anak saya akan kembali seperti semula?" ucap Mahen dengan menggertakkan giginya penuh amarah.


Untuk pertama kalinya Eric menundukkan kepala di hadapan orang lain, itu pun atas kesalahan yang telah putranya lakukan.


"Putra Anda sudah cukup umur untuk mempertanggung jawabkan semua perbuatan yang telah dia lakukan." Mahen berdekap dada, menahan tangan yang sudah gatal ingin memukul laki-laki yang saat ini ada di hadapannya.


"Saya mengerti, Tuan. Saya pasti akan memberikan hukuman yang sangat berat untuk dia, untuk itulah sebagai orang tuanya saya memohon maaf yang sebesar-besarnya pada Anda dan semua keluarga," ucap Eric dengan lirih, dan terdengar jelas rasa bersalah dari setiap kata-katanya.


Mahen menghela napas kasar saat melihat Eric menundukkan kepala di hadapannya, bahkan tanpa menegakkannya sedikit pun. Jelas semua itu adalah rasa malu yang harus di tanggung oleh seorang Ayah.


"Tegakkan kepala Anda, Tuan. Saya tidak bermaksud untuk menjatuhkan harga diri Anda," ucap Mahen sambil menepuk bahu Eric, membuat laki-laki itu menatap ke arahnya.

__ADS_1


"Harga diri seorang ayah langsung lenyap saat anak mereka membuat masalah, Tuan. Apalagi dia sampai melakukan sesuatu yang sangat tidak bermoral," balas Eric dengan tatapan tajam yang terhunus ke arah lantai, dadanya naik turun karena sejak tadi berusaha untuk menahan amarahnya.


"Anda benar." Mahen menganggukkan kepalanya. "Tapi hati seorang ayah akan hancur jika melihat putrinya di rendahkan seperti itu, bahkan putrinya juga dijadikan bahan taruhan untuk kepuasan para laki-laki itu."


Eric kembali diam dengan gurat kekecewaan diwajahnya. Dia benar-benar tidak bisa lagi membiarkan Ryder, dan dia bersumpah akan memberikan hukuman yang sesuai dengan apa yang putranya lakukan.


"Seorang anak yang terlahir kaya, maka dia tidak akan peduli dengan orang lain. Dengan seenaknya dia menginjak-nginjak harga diri putriku hanya karna uang." Kini suara Mahen mulai melemah, apalagi saat mengingat bagaimana perasaan Yara saat ini.


"Harta membuatnya buta akan kemanusiaan, hingga harga diri orang lain bisa dia injak-injak dengan senang hati. Sungguh rasanya aku ingin sekali membunuh laki-laki itu," sambung Mahen kemudian.


Eric tetap diam di tempatnya karena mengerti benar bagaimana perasaan Mahen saat ini, dan dia juga akan melakukan hal yang sama jika itu terjadi pada putrinya.


"Saya masih ingat cerita dari Vano bahwa Anda memohon dengan sangat saat meminta Yara untuk merawat putra Anda, dan kami menyerahkan putri kami yang berharga tanpa syarat. Tapi inilah balasan yang kami terima, kebaikan yang Yara lakukan di balas dengan penghinaan."





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2