Takdir Cinta Yang Kau Pilih

Takdir Cinta Yang Kau Pilih
Bab. 83. Sikapnya Sama Seperti Zayyan.


__ADS_3

Yara tersenyum sambil menawarkan diri pada laki-laki bernama William itu. Dari raut wajahnya, terlihat jelas jika laki-laki itu merasa malu.


"Ti-tidak usah, saya masih kenyang," ucap William beralasan. Lebih baik dia menahan lapar dari pada menahan malu seperti ini.


"Tidak apa-apa, William. Pergilah bersama Yara." Vano beranjak dari duduknya lalu menepuk bahu laki-laki itu, membuat William menganggukkan kepala dan berjalan mengikuti seorang wanita yang berada di depannya.


Dengan sigap, Yara kembali menyajikan makanan dan minuman untuk William. Dia meletakkan semuanya di atas meja, lalu mempersilahkan laki-laki itu untuk menikmatinya tanpa merasa malu.


"Apa Kakak bisa menemaniku? Aku merasa tidak enak jika makan sendiri," pinta William saat melihat Yara akan pergi dari tempat itu.


"Baiklah." Yara mengiyakan kemauan William dan duduk di hadapan laki-laki itu. Dia mengambil buah apel dan memakannya walau perut sudah terasa kenyang, tidak mungkin 'kan, dia hanya melihat laki-laki itu makan saja?


William tersenyum saat melihat apa yang wanita itu lakukan. Dia berdecak kagum melihat bibit unggul yang dihasilkan oleh sahabat papanya, bisa-bisanya mereka sekeluarga sangat cantik dan tampan-tampan.


"Maaf, Anda mendengarku?" Yara mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah William membuat laki-laki itu terkesiap.


"Ma-maaf, Kak. Aku, aku enggak sengaja melamun," ucap William salah tingkah. Dia lalu menundukkan kepalanya dengan rasa gugup dan malu yang menerpa.


"Tidak apa-apa, harusnya aku yang minta maaf karna sudah mengagetkan Anda," seru Yara dengan menahan tawa. Wajah panik William sama persis seperti wajah Zayyan jika sedang di marahi papanya.


"Dia lucu sekali, pasti sifatnya sama seperti Zayyan." Yara menggelengkan kepalanya dengan senyum simpul.


Yara yang tadi bertanya tentang pekerjaan William merasa heran saat melihat laki-laki itu terus menatapnya, itu sebabnya dia menyadarkan laki-laki itu yang ternyata sedang melamun.


"Makananya sangat enak, apa Kakak yang memasaknya?" tanya William saat sudah bisa menenangkan rasa malunya.


"Iya, tapi dibantu sama mama dan para Bibi yang ada di sini," jawab Yara dengan jujur sambil menikmati buah apel yang baru satu gigitan masuk ke dalam mulutnya.

__ADS_1


William menganggukkan kepala sambil tersenyum simpul. Sebenarnya dia suka sekali dengan makanan rumahan seperti ini, tetapi sayangnya sang mama tidak bisa memasak.


"Apa Anda menyukainya?" tanya Yara membuat William menatapnya. Dia merasa senang saat melihat lak-laki itu menyantap makanannya dengan lahap.


"Ya, makanannya benar-benar sangat lezat. Jarang sekali ada yang pintar memasak makanan seperti ini, dan aku menyukainya." Wajah William berseri-seri saat menjawabnya, karena memang dia benar-benar menyukai masakan rumahan seperti itu.


"Syukurlah, kalau gitu habiskan. Masih ada banyak makanan yang tersisa," ucap Yara sambil memajukan lauk yang tadi dia masak, yaitu cumi saos lada hitam yang menjadi menu kesukaan adik-adiknya.


"Aku udah kenyang, Kak. Aku juga 'kan malu," ucap William dengan semburat rona merah diwajahnya, yang menampakkan kalau dia benar-benar malu. Masak iya baru datang pertama kali ke rumah orang lain sudah menghabiskan makanan seperti ini?


Yara langsung tergelak saat mendengar ucapan William. Bagaimana mungkin ada laki-laki yang jujur dan menggemaskan sepertinya? Ingin sekali dia mencubit pipi William seperti yang biasa dia lakukan pada Zayyan.


"Kenapa harus malu? Anggap ini seperti rumah Anda sendiri, lagi pula orang tua kita berteman baik bukan?" ucap Yara menawarkan, membuat wajah William langsung berbinar-binar.


"Namaku William, Kak. Kakak bisa memanggil aku Willi, tidak perlu memakai bahasa formal," ucap William memperkenalkan diri, dia senang dengan keramahan dan kebaikan wanita yang saat ini ada di hadapannya.


"Aku akan memanggil kakak, boleh 'kan?"


Yara langsung menganggukkan kepalanya. "Tentu saja, Willi. Sekarang selesaikan makanmu. Enggak baik loh, kalau makan gk dihabisin."


William mengangguk paham lalu segera menghabiskan makanan yang masih tersisa dipiringnya. Lalu tidak berselang lama, Zafran juga bergabung bersama dengan mereka.


Sama seperti Yara tadi, William memperkenalkan diri dan mencoba untuk akrab pada Zafran. Walau laki-laki itu sangat kaku dan tidak banyak bicara, tetapi Zafran menyambut ucapannya dengan baik.


"Aku dengar selama ini kalian tinggal di Italia, Willi. Kenapa tiba-tiba kembali ke negara ini lagi?" tanya Zafran sambil menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi.


"Entahlah, sebenarnya aku tidak terlalu paham apa alasannya." William menggelengkan kepala dengan mimik wajah cemberut. "Aku kan memang menempuh pendidikan di sini, lalu tiba-tiba aku mendapat kabar dari papa kalau mereka juga akan pindah ke sini." Dia berucap dengan helaan napas kasar.

__ADS_1


"Kenapa, apa terjadi masalah?" tanya Yara dengan pelan. Sebenarnya dia tidak pantas untuk bertanya tentang masalah pribadi orang lain, apalagi saat pertemuan pertama seperti ini.


"Sepertinya begitu, tapi papa bilang semua baik-baik saja. Mereka hanya ingin membangun cabang perusahaan di negara ini," jawab William yang memang tidak terlalu mengetahui tentang masalah keluarganya.


Zafran terdiam sambil mendengarkan apa yang laki-laki itu katakan. Entah kenapa dia merasa sedikit aneh, dan terasa ada yang mengganjal dihatinya.


Setelah saling berbincang satu sama lain, Felix dan keluarganya bergegas pamit pada Vano dan semua orang yang ada di sana.


Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, dan saatnya semua orang masuk ke dalam kamar untuk mengistirahatkan tubuh masing-masing.


Sebelum tidur, Yara memeriksa akun media sosialnya. Dia lalu melihat ada satu email yang masuk dari salah satu rumah sakit terbesar yang ada di kota itu.


Yara lalu membaca email yang sudah masuk sejak pagi tadi, tetapi dia tidak mengecek ponselnya sehingga tidak mengetahui email itu.


Deg.


Mata Yara membulat sempurna saat membaca isi dari email tersebut, tangannya bahkan sampai gemetaran karena tidak menyangka akan mendapat tawaran pekerjaan yang sangat tidak disangka-sangka.


"Ya Allah, apa ini serius?"





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2