Takdir Cinta Yang Kau Pilih

Takdir Cinta Yang Kau Pilih
Bab 111. Datangnya Bantuan.


__ADS_3

Ryder tersenyum saat mengerti maksud dari ucapan Zafran. "Aku baik-baik saja, kakakmu sudah mengobatinya. Kau tau 'kan, kalau kakakmu dokter yang hebat?"


"Tentu saja," jawab Zafran dengan cepat. Benar apa yang mamanya katakan, setiap orang bisa berubah, dan perubahan Ryder sangat terasa sekali.


"Jadi ..., apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Ryder, walau sebenarnya dia sudah menduga ke mana arah pembicaraan laki-laki itu nanti.


"Kau masih mencintai mbak Yara?"


"Tentu saja," jawab Ryder dengan cepat.


"Kau berubah bukan hanya sekedar untuk mengambil hati kami, 'kan?" tanya Zafran dengan tajam.


Ryder tersenyum. "Aku tidak memaksa kalian untuk mempercayaiku, dan aku juga tidak ada waktu untuk membuat kalian percaya. Lagi pula tidak ada yang berubah dariku, aku tetap seperti ini sejak dulu."


Zafran tersenyum tipis saat mendengarnya. Ya, sekilas memang tidak ada yang berubah dari laki-laki itu. Namun, cara bicara Ryder sudah tidak sombong dan meninggi lagi. Lak-laki itu bahkan bisa bercerita dengan hangat pada kedua orang tuanya.


"Kalau gitu mohon bantuannya, kakak ipar,"


"Okey, kau-" Ryder tidak dapat melanjutkan ucapannya saat baru menyadari apa yang baru saja Zafran katakan.


"Semoga kali ini kau tidak membuat kesalahan lagi, Kak. Karena tidak semua orang mendapat kesempatan kedua, dan pastinya tidak akan ada juga kesempatan ketiga," sambung Zafran.


Ryder terdiam saat mendengar ucapan Zafran. Dia tidak menyangka jika laki-laki yang dulu sangat membencinya, bisa berubah secepat ini.


"Kau mungkin memberi kesempatan kedua, tapi kakakmu tidak, Zaf. Aku tidak akan memaksanya," ucap Ryder. Dia mengerti jika Yara pasti akan sangat susah memaafkan apa yang sudah dia lakukan.


"Percaya saja dengan hatimu, Kak. Kalau jodoh pasti akan bersama juga, 'kan?" ujar Zafran yang langsung diiyakan oleh Ryder.


Mereka lalu kembali masuk ke dalam rumah menunju ruang kerja Vano, masih ada banyak hal yang harus mereka persiapkan saat ini.


Pada saat yang sama, River masih terikat dan terkurung disuatu ruangan. Beberapa kali Luke datang mengunjunginya, tetapi dia sama sekali tidak memperdulikan itu.

__ADS_1


"Kau tidur, Junior?" River melihat ke arah laki-laki yang ada di sampingnya.


"Tidak, mana mungkin saya tidur," jawab Junior, dia lalu mendongakkan kepala dan menampakkan wajahnya yang banyak terdapat lebam.


River tersenyum tipis saat melihatnya. "Bertahanlah, aku akan mencari cara agar kita bisa keluar." Dia berucap dengan lirih.


"Keluar?" tanya Junior dengan geli. "Apa mungkin kita bisa keluar?"


"Tentu saja, kau tidak percaya padaku?"


Brak.


River dan Junior langsung melihat lurus ke depan saat mendengar suara pintu terbuka, tampak seorang wanita berdiri di ambang pintu membuat River memicingkan kedua matanya.


"Kau, Sasa?" tanya River. Wajah wanita itu tampak tidak asing dengan seseorang yang dia kenal, tetapi tubuhnya sudah dewasa.


Wanita itu berjalan cepat ke dalam ruangan dan langsung melayangkan tamparan ke wajah River.


Junior terlonjak kaget dengan apa yang wanita itu lakukan, sementara River hanya diam dengan tatapan tajam bak elang.


"Kenapa, kenapa kau kembali lagi?" pekik wanita bernama Sasa itu. Wajahnya merah padam menahan amarah. "Kenapa kau tidak menghilang saja selamanya?"


River tersenyum miris saat mendengarnya. "Aku sudah berusaha, tetapi kakakmu tidak melepaskanku sedikit pun."


"Dasar brengs*ek!"


Wanita itu langsung memeluk tubuh River dengan terisak, jelas saja membuat Junior membulatkan mata dengan tidak percaya. "Sebenarnya apa yang sedang terjadi?" Dia merasa bingung sekarang.


"Jangan memelukku, Sasha. Tubuhmu bisa kotor,"


"Diam!" bentak wanita itu. "Kau benar-benar jahat, kenapa kau pergi tanpa berpamitan denganku?" Lirihnya dengan sendu.

__ADS_1


Sasa adalah adik Luke, tepatnya adik tirinya dari ibu yang berbeda. Sejak berumur 10 tahun, dia sudah sering bersama dengan River. Bahkan laki-laki itu yang kadang menjaganya jika sedang keluar rumah, itu pun saat River tidak pergi bersama dengan Luke.


"Aku tidak sempat, Sasa. Aku bahkan tidak sempat memikirkan nyawaku," jawab River dengan jujur. Tidak disangka gadis kecil itu sudah dewasa sekarang.


"Kalau gitu kenapa dia bisa sampai menangkapmu, bukankah kau sudah pergi jauh?" tanya Sasa kemudian. Dia melepaskan pelukannya dan menatap River dengan tajam.


River terdiam. Dia sedang berpikir haruskah memanfaatkan Sasa atau tidak, tetapi jika tidak maka dia tidak akan punya kesempatan untuk keluar.


"Sebelum aku menjawabnya, apa kau bisa melepaskan kami dulu?" ucap River.


"Tentu saja."


River dan Junior terkesiap saat mendengar jawaban wanita itu. Kenapa gampang sekali? Pikir mereka.


"Aku datang ke sini karena memang ingin melepaskan kalian," ucap Sasa. Dia lalu memanggil anak buahnya yang menunggu diluar dan menyuruh mereka untuk melepaskan River dan Junior. "Aku banyak berutang nyawa denganmu di masa lalu, dan aku hanya bisa membalasnya dengan ini."


River tersenyum saat mendengar ucapan Sasa. Dia mengibas-ngibaskan tangannya yang sudah bebas dari rantai, rasanya sangat pegal sekali.


"Tapi sekarang nyamamu sedang berada dalam bahaya, Sasa," ujar River. Apa bisa dia menyelamatkan wanita itu lagi nanti?


"Aku sudah dewasa dan bisa menjaga diriku sendiri, jadi tidak perlu khawatir," jawab Sasa. Dia kembali memeluk tubuh River. "Senang bertemu lagi denganmu, River. Ayo kita bertemu lagi ditempat lain, aku akan menagih jawaban darimu nanti!" Dia lalu memasukkan kartu nama ke dalam saku celana River agar laki-laki itu bisa menghubunginya.


River menganggukkan kepalanya lalu mengusap puncak kepala Sasa, kemudian wanita itu segera keluar dan menyuruh mereka untuk bergegas pergi sebelum anak buah Luke kembali.


"Waktunya beraksi, Junior."




__ADS_1


Tbc.


__ADS_2