
Via langsung beranjak pergi untuk menghampiri Hana, terlihat wanita itu sedang memisahkan pakaian yang akan dicuci bersama dengan pembantunya.
"Hana!"
Hana tersentak kaget dan langsung menoleh ke arah pintu saat mendengar panggilan seseorang. Seketika dia tersenyum saat melihat keberadaan Via sambil mendekati wanita itu.
"Selamat pagi, Nyonya," sapa Hana dengan senang, begitu juga dengan wanita yang ada di sampingnya.
Via menganggukkan kepalanya untuk menjawab sapaan mereka. "Apa yang kau lakukan di sini, Hana?" Dia bertanya walau sudah tahu apa jawabannya.
"Maaf, Nyonya. Saya ingin membantu mengerjakan pekerjaan di rumah Anda," jawab Hana dengan pelan. Dia merasa tidak enak hati karena sudah bersikap lancang tanpa bertanya dulu pada wanita itu.
"Kau tidak perlu melakukan itu, Hana. Bukankah kakimu masih sakit?" ucap Via dengan tajam membuat Hana menggelengkan kepalanya. "Ayo, ikut tante." Dia lalu menarik tangan Hana dan membawa wanita itu untuk menjauh dari ruang cuci.
Hana hanya diam sambil mengikuti langkah Via, ternyata wanita itu membawanya kembali ke dapur dan terlihat ada bahan-bahan masakan di atas meja.
"Zafran membawamu ke sini bukan untuk mengerjakan pekerjaan rumah, tapi untuk istirahat dan menenangkan diri. Tante juga tidak ingin melihatmu mengerjakan semua itu, apalagi kakimu sedang sakit dan wajahmu masih tampak pucat," ucap Via.
Hana tersenyum mendengar ucapan Via, sungguh wanita itu sangat lembut dan baik sekali padanya. Mungkinkah Via itu jelmaan bidadari yang turun dari kahyangan?
"Saya baik-baik saja, Nyonya. Seumur hidup baru kali ini saya merasa sangat baik, itu sebabnya saya ingin membantu membersihkan rumah Anda. Saya mohon izinkan saya melakukannya, Nyonya," pinta Hana sambil menangkupkan kedua tangan di depan dada. Tidak ada sesuatu hal pun yang bisa dia berikan untuk membalas kebaikan Via, yang bisa dia lakukan hanya melayani wanita itu saja.
Via menghela napas kasar. Dengan terpaksa dia menganggukkan kepalanya membuat Hana tersenyum senang.
"Kalau gitu bantu tante masak. Kau bisa 'kan?" tanya Via.
Hana langsung menganggukkan kepalanya dengan sangat antusias membuat Via terkekeh pelan sambil menggelengkan kepalanya. Dia lalu menjelaskan makanan apa yang akan mereka masak hari ini, juga menjelaskan bahan-bahan masakan yang ada di hadapan mereka.
Via dan Hana lalu mulai menyiapkan makanan untuk sarapan hari ini sambil mengobrol ria, walau kebanyakan Via yang bertanya tentang keadaan Hana hari ini dan tentang keseharian wanita itu saat berada di desa.
Beberapa saat kemudian, menu sarapan sudah selesai dimasak dan disajikan di atas meja makan. Untuk pertama kalinya Hana memasak makanan Imdonesia, dia merasa sangat senang saat melakukannya.
"Tante tinggal sebentar yah, kau tunggu saja di sini," ucap Via. Dia lalu beranjak pergi ke kamar untuk melihat sang suami setelah mendapat anggukan dari Hana.
Hana berdiri di depan westafel sambil menunggu kedatangan semua orang, sungguh hatinya benar-benar merasa sangat bahagia dan semangat hari ini. Apakah dia bisa terus bahagia seperti ini?
"Selamat pagi Kak!"
Hana yang sedang melamun terjingkat kaget saat mendengar suara Zafran. "Se-selamat pagi, Tuan." Dia membalas sapaan laki-laki itu dengan tergagap.
__ADS_1
Zayyan tergelak melihat raut wajah Hana yang berubah panik, padahal sesaat yang lalu wanita itu terlihat sedang melamun sambil senyum-senyum.
Dengan cepat Hana mendekat ke meja makan lalu menarik kursi untuk Zayyan, membuat laki-laki itu tercengang dengan apa yang dia lakukan.
"Apa yang Kakak lakukan?" tanya Zayyan sambil berdekap dada, merasa heran dan lucu dengan apa yang Hana lakukan.
"Si-silahkan duduk, Tuan. Maaf saya terlambat menarik kursi untuk-"
"Hahahaha." Zayyan tertawa terbahak-bahak saat mendengar ucapan Hana membuat ucapan wanita itu terhenti. Sungguh dia benar-benar merasa sangat lucu dengan apa yang wanita itu lakukan. Memangnya dia seorang raja atau pangeran yang harus diperlakukan seperti itu?
Hana menatap Zayyan dengan bingung dan takut saat melihat laki-laki itu tertawa. "Kenapa dia tertawa, apa aku sudah membuat kesalahan?" Dia merasa gelisah.
"Aduh, perutku sakit sekali," ucap Zayyan sambil memegangi perutnya yang terasa kram akibat terlalu banyak tertawa, hingga tawanya itu terdengar ketelinga sang kakak yang sedang menuruni tangga. "Kakak gak perlu menarik kursi seperti itu, memangnya kita sedang berada di istana kerajaan?" Dia kembali tergelak.
Hana terlihat kebingungan. Kenapa dia tidak perlu menarik kursi? Padahal selama ini Dion dan mertuanya selalu menyuruhnya melakukan hal tersebut.
"Kenapa pagi-pagi kau sudah membuat keributan, Zayyan?" seru Zafran saat sudah masuk ke dapur.
Hana langsung berdiri tegak dan siap siaga saat melihat kedatangan Zafran, sementara Zayyan semakin tertawa melihat apa yang wanita itu lakukan.
"Lihatlah Kak, kak Hana sangat lucu dan unik sekali," sahut Zayyan sambil menarik kursi, memperagakan apa yang tadi Hana lakukan sambil kembali tertawa.
Zafran langsung melirik ke arah Hana yang saat ini sedang menatapnya dengan wajah pias. Wanita itu lalu menundukkan kepala sambil mengucapkan selamat pagi.
"Apa, anak setan?" seru Zayyan dengan tidak terima. Kurang ajar, bagaimana mungkin laki-laki setampan dia disamakan dengan anak setan?
"Kenapa pagi-pagi kalian sudah ribut?" tanya Vano yang baru datang dan bergabung dengan mereka bersama dengan sang istri.
"Pa, kata Kakak Papa itu setan," ucap Zayyan yang langsung mengadukan perbuatan sang kakak.
"Apa?" pekik Vano dengan tajam sambil menatap ke arah Zafran saat mendengar ucapan Zayyan, sementara Via hanya menggelengkan kepala melihat keributan para lelaki yang memang selalu terjadi.
"Kakak menyebutku anak setan, berartikan dia bilangkan papa itu setan," sambung Zayyan sambil mencebikkan bibirnya.
Vano berdecak kesal mendengar penjelasan Zayyan. Dasar anak-anak yang tidak sopan, bisanya hanya membuat keributan, tidak sadar padahal dia sendiri juga seperti itu.
Hana menatap mereka semua dengan perasaan hangat. Betapa bahagia dan senangnya melihat interaksi keluarga Via yang penuh dengan kasih sayang, walaupun ditutup dengan keributan seperti ini.
"Duduklah dan makan sarapan kalian, kenapa pagi-pagi sudah buat keributan sih?" seru Via sambil menatap Zayyan dan Zafran dengan mata melotot.
__ADS_1
Dengan patuh Zayyan dan Zafran duduk dikursi mereka dan mulai menikmati sarapan, sementara Via beralih mendekati Hana yang hanya diam sambil tersenyum.
"Ayo duduk, kita sarapan bersama!" ajak Via.
"Anda makan duluan saja, Nyonya. Biar saya yang melayani Anda dan keluarga Anda," ucap Hana.
Via tersenyum mendengar ucapan Hana, sementara para lelaki beralih melihat ke arah mereka.
"Tidak ada yang perlu dilayani, Hana. Kita kan sedang makan bersama di rumah, bukan direstoran. Ayo!" ajak Via lagi sambil menarik tangan Hana dan memaksa wanita itu untuk duduk.
Hana kembali tertegun mendengar ucapan Via. Dengan cepat dia menggelengkan kepalanya karena kembali membandingkan apa yang terjadi saat ini dengan saat dia masih di rumah Dion, di mana dia harus melayani mereka dan tidak boleh makan sebelum semua kerjaan siap.
"Makanlah yang banyak," ucap Via kemudian sambil duduk di samping sang suami. Dia lalu mengambilkan makanan untuk suaminya.
Melihat apa yang Via lakukan, dengan cepat Hana menahannya. "Bi-biar saya saja yang ngambil makanannya, Nyonya." Da merasa tidak enak hati.
Via terdiam mendengar ucapan Hana, begitu juga dengan Vano dan Zafran, sementara Zayyan kembali terkekeh dan selalu ingin tertawa saat melihat Hana.
"Kenapa, Hana? Tante kan ingin melayani suami tante, apa kau ingin melayaninya juga?" tanya Via sambil menahan senyum, sementara Vano langsung memberikan tatapan mautnya.
Hana menganggukkan kepalanya. "Biar saya yang melayani tuan, Nyonya." Dia kembali berdiri dan hendak mengambil piring yang sedang dipegang oleh Via.
"Wah, apa Kakak berusaha untuk merebut papa dari mama?" seru Zayyan dengan kuat.
"A-apa?" Hana tersentak kaget dengan wajah panik mendengar ucapan Zayyan.
"Lihat, Kakak ingin melayani papa dan menggantikan mama. Setelah itu Kakak pasti akan merebut papa dan mengusir mama dari rumah ini, lalu Kakak-"
"Tutup mulutmu, Zayyan!" potong Vano dengan tajam membuat ucapan Zayya terhenti.
Hana langsung menundukkan kepalanya dengan perasaan bersalah, sungguh dia sama sekali tidak bermaksud seperti apa yang Zayyan katakan.
"Ma-maafkan, saya Tuan, Nyonya. Saya tidak bermaksud seperti itu, Saya tidak ingin menggantikan Anda a-atau melakukan apapun. Saya, saya tidak berniat seperti itu. Maafkan saya, maafkan saya," ucap Hana sambil menundukkan tubuhnya dengan penuh penyesalan, wajahnya terlihat sangat pias dan panik karena sudah menyakiti hati mereka.
"Hahahaha."
•
•
__ADS_1
•
Tbc.