Takdir Cinta Yang Kau Pilih

Takdir Cinta Yang Kau Pilih
Bab. 88. Kilas Balik Setelah Perpisahan.


__ADS_3

Yara kembali melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam rumah sakit dengan tetap ditatap oleh Aidan, sampai dia sudah tidak bisa melihat wanita itu lagi.


Aidan menghela napas kasar, lalu menyandarkan tubuhnya di atas motor yang baru 3 bulan ini dia beli, itu pun dengan cicilan selama 1 tahun.


"Kau semakin bersinar saja, Yara," gumam Aidan sambil tersenyum tipis. "Tidak. Sejak dulu kau memang sudah bersinar, tapi sayangnya mataku buta sehingga menyia-nyiakan sinar itu." Dia mendessah frustasi sambil mengusap wajahnya dengan kasar.


Tangan Aidan lalu masuk ke dalam saku celana saat mendengar ponselnya berdering, dengan cepat dia menjawab panggilan dari seseorang.


"Halo,"


"Kau ada di mana, Aidan? Kenapa belum kembali ke kantor?"


Aidan terpaksa menjauhkan ponselnya dari telinga saat mendengar teriakan dari sebrang telepon, lalu kembali mendekatkan benda pipih itu setelah beberapa saat.


"Saya sedang di jalan, Buk," jawab Aidan sambil naik ke atas motornya, dan bersiap untuk pergi dari tempat itu.


"Gerakmu lambat sekali, udah banyak orang yang mau ngambil pinjaman ini," ucap seorang wanita yang merupakan atasan Aidan di kantor.


"Baik, Buk. Saya akan segera sam-"


Tut.


Panggilan itu langsung terputus begitu saja saat Aidan belum menyelesaikan ucapannya. Dia kembali menghela napas kasar sambil memasukkan ponselnya ke dalam saku celana.


Aidan lalu menghidupkan motornya, dan berlalu pergi dari tempat itu untuk kembali mengais rezeki. Susah payah dia mendapatkan pekerjaan ini, jangan sampai hilang lagi atau biaya pengobatan ibunya tidak bisa dia bayar.


Selama beberapa bulan belakangan ini hidup Aidan benar-benar hancur berantakan. Setelah uangnya dicuri oleh Rosa, dia berusaha untuk mencari wanita itu dan menuntut keadilan pada pihak yang berwajib.

__ADS_1


Namun, semua usahanya itu tidak ada yang membuahkan hasil. Semua raib dalam sekejap mata, padahal hanya itulah satu-satunya tabungan yang dia punya.


Tidak sanggup menerima kenyataan bahwa anaknya telah ditipu, membuat Nova jatuh pingsan dan terkena serangan jantung. Sejak saat itu, dia harus keluar masuk rumah sakit untuk melakukan pengobatan, dan tentu saja menghabiskan uang yang tidak sedikit.


Aidan terpaksa menjual mobil dan beberapa barang berharga lainnya untuk pengobatan sang ibu, dia bahkan sudah tidak tinggal di rumah yang dulu sengaja dia sewa karena tidak bisa membayar biayanya.


Aidan lalu menemui kakaknya berharap sang kakak mau membantu keuangannya, tetapi Aidan malah harus menelan kehampaan saat hidup kakaknya malah lebih tragis darinya.


Saat ini, dia mengontrak rumah yang terletak tidak jauh dari tempatnya kerja. Rumah sederhana yang sangat jauh berbeda dari rumahnya dulu, tetapi dia tetap bersyukur masih bisa memberikan tempat berteduh untuk sang ibu.


Aidan memarkirkan motornya di bawah pohon agar tidak terkena sinar matahari yang sangat terik hari ini, dia lalu melepas helm dari kepalanya dan berlalu turun dari motor dengan keringat yang membasahi keningnya.


Beberapa orang tampak berdiri di depan kantor yang sudah hampir 4 bulan ini menjadi tempatnya mencari rezeki, setelah luntang-lantung dijalanan mencari pekerjaan.


Tidak disangka jaman sekarang persaingan kerja sangatlah berat. Dia adalah tamatan S1, dan sudah punya pengalaman kerja yang lumayan lama. Namun, banyak perusahaan yang tidak mau mempekerjakannya.


Begitu juga dengan perusahaan kecil, entah kenapa tidak ada satu pun yang mau menerima lamaran kerjanya. Hingga akhirnya dia bekerja di salah kantor yang melayani jasa pinjaman uang, dengan gaji yang terbilang lumayan untuk hidup sehari-hari.


"Lama sekali sih kamu, Aidan,"


Lagi. Aidan kembali mendapat omelan dari bosnya, tepatnya anak dari pemilik tempatnya bekerja.


"Maaf, Buk. Tadi di jalan macet." Bohong Aidan, dia malas jika harus kembali mendengar omelan dari wanita itu.


"Ya sudah. Sindi dan Wulan sudah mencatat pinjaman mereka, terus mereka maunya didampingi sama kamu. Dasar," ucap wanita bernama Mela itu dengan kesal. Para pelanggannya hanya mau dilayani oleh Aidan, padahal ada karyawan laki-laki lain di tempat itu.


"Baik, kalau gitu saya permisi dulu," ucap Aidan sambil menganggukkan kepalanya. Dia lalu masuk ke dalam ruangan untuk melayani para pelanggan.

__ADS_1


Mela terus menatap ke arah Aidan yang sudah duduk di kursi kerja, dan mulai mencatat siapa-siapa saja yang akan mengajukan pinjaman.


"Cih, mereka mau sama dia cuma karena wajahnya. Memang sih, kantor ini jadi rame sejak dia bekerja di sini. Atau aku buka jasa pinjaman dia saja dari pada uang? Pasti banyak yang mau," gumam Mela. Dia bukannya tidak senang, hanya saja dia merasa kesal karena semua orang yang datang hanya mencari Aidan.


Pada saat yang sama, di tempat lain terlihat seorang lelaki sedang mengampak belahan-belahan kayu yang akan dipakai untuk memasak. Tubuhnya mengkilap terkena keringat yang terus menetes, apalagi terkena sinar matahari yang sangat terik hari ini.


Beberapa orang yang melintas dari depan rumahnya tidak bisa memalingkan wajah mereka saat melihat tubuhnya, apalagi saat ini dia sedang bertelanjang dada dan menunjukkan bentuk tubuhnya yang luar biasa.


"Istirahat dulu, Nak. Nenek udah buatin pisang goreng sama kopi untukmu," teriak Weny dari teras rumahnya, membuat pekerjaan laki-laki itu terhenti.


"Iya, sebentar."


Laki-laki itu meletakkan kampaknya di atas kayu, lalu berjalan ke arah tempat penampungan air untuk mencuci tangan dan kakinya yang sedikit kotor. Setelah selesai, dia lalu berjalan untuk menghampiri Weny yang menatapnya dengan hangat.


"Ke mana kakek, Nek? Kok gak kelihatan?" tanyanya sambil duduk di kursi kayu buatannya, lalu mengambil pisang goreng yang sudah tersedia di atas meja.


"Kakek ke kantor kepala desa, besokkan orang-orang dari pemerintah pusat datang ke desa ini," jawab Weny. Dia ikut duduk di samping laki-laki itu, lalu ikut menikmati pisang goreng buatannya.


"Mereka ingin bertemu denganmu, Ryder. Apa kau tidak mau menemui mereka?"





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2