Takdir Cinta Yang Kau Pilih

Takdir Cinta Yang Kau Pilih
Bab. 36. Keluargaku Jauh Lebih Kaya.


__ADS_3

Nova segera mengambil ponselnya untuk menghubungi Yara, dia mengirim pesan pada wanita itu untuk datang ke tempat yang dia inginkan agar bisa bicara mengenai pembagian harta.


"Awas saja jika dia tidak datang, aku pasti akan langsung menemuinya di rumahnya."


Nova beranjak pergi dari rumah itu dengan menaiki taksi, dia tidak bisa tinggal diam lagi dan harus menyelesaikan semuanya.


Pada saat yang sama, Yara sedang duduk santai di halaman rumahnya. Hari ini dia kembali tidak membuka klinik karena ingin mengantar kepergian sang papa, sekaligus bertemu dengan River.


Kling.


Yara langsung menoleh ke arah ponselnya yang berbunyi. Dia segera mengambil benda pipih itu untuk melihat siapakah yang mengirim pesan padanya.


"Temui Ibu di pinggir danau indah, ada hal penting yang harus kita bicarakan."


Hyuna mengernyitkan keningnya saat membaca pesan dari sang mantan mertua, dia bertanya-tanya kenapa wanita paruh baya itu ingin bertemu dengannya.


Tidak mau ambil pusing, Yara segera berjalan masuk ke rumah untuk bersiap. Dia mengambil tasnya dan berlalu pergi menemui orang tua Aidan.


Sementara itu, Aidan yang sudah membongkar semua isi lemarinya tidak bisa menemukan surat-surat berharga satu pun. Dia hanya bisa menemukan buku nikahnya dan juga beberapa dokumen lain tentang barang-barang.


"Si*alan. Ternyata kau sudah menyiapkan semua ini, Yara. Rupanya kau adalah orang yang licik, tapi lihat saja. Aku tidak akan mengemis cinta lagi darimu, aku akan membuktikan bahwa aku layak mendapatkan wanita yang lebih darimu."


Aidan mengepalkan tangannya dengan erat menunjukkan kemarahan yang sedang di rasakan. Dia tidak menyangka ternyata Yara sudah membawa semua sertifikat kepemilikan dan surat-surat berharga lainnya, sungguh wanita yang sangat licik.


"Sebentar lagi aku akan naik jabatan, dan aku pasti akan berhasil sukses dan membuat kalian menyesal."

__ADS_1


Dia lalu bergegas keluar dari kamar dan berlalu pergi ke apartemen Rosa. Persetan dengan Yara atau pun yang lainnya, dia hanya ingin bersenang-senang karena sudah lama tidak merasakan sentuhan wanita.


Di sisi lain, Nova dan Yara kini sudah bertemu dan berdiri saling berhadapan. Yara yang berniat menyalim tangan wanita paruh baya itu langsung di tepis dengan kasar.


"Tidak usah sok baik dan ramah, Yara. Kau pikir ibu tidak tau apa yang sudah kau lakukan, hah?"


Yara mengernyitkan keningnya dengan bingung. "Apa maksud Ibu?"


Nova terdenyum sinis. "Bukan hanya sok baik, ternyata kau sok polos juga ya."


Yara menghela napas kasar. Entah apa yang terjadi sehingga wanita paruh baya itu mencelanya seperti ini.


"Katakan saja apa yang Ibu inginkan," ucap Yara dengan penekanan membuat Nova semakin menatap tajam. Jika lawan bicaranya tidak bisa di ajak baik-baik, maka dia juga bisa melakukan hal yang sama dengannya.


"Kembalikan rumah anakku!"


Yara menatap Nova dengan heran saat mendengar ucapan wanita paruh baya itu. Mengembalikan rumah? Tunggu, jangan-jangan Nova marah karena tuntutannya?


"Apa kau pikir bisa mengambil hak Aidan begitu saja, hah?" bentak Nova membuat Yara tersentak kaget. "Selama ini dia sudah susah payah kerja cari uang, bagaimana mungkin rumah dan mobil menjadi milikmu?"


Yara tidak habis pikir dengan apa yang Nova lakukan. Apakah Aidan tidak menceritakan semuanya pada wanita paruh baya itu? Bagaimana mungkin malah dia yang dituduh mengambil hak orang lain?


"Aidan memang orang yang baik, tapi bukan berarti kau bisa menipu dan membod*ohinya. Kau menjadikan perselingkuhannya sebagai alasan untuk mengambil semuanya, pantas saja kau dan keluargamu sangat ngotot ingin berpisah. Ternyata kalian sudah menyiapkan semua ini, benar-benar sangat licik."


Yara yang sejak tadi diam benar-benar tidak bisa mengendalikan diri lagi. "Jadi Ibu menganggap akulah pemeran antagonisnya dalam rumah tangga kami, begitu?"

__ADS_1


"Tentu saja, kau sudah menipu dan membuat Aidan seperti itu. Dia mungkin bersalah karena sudah selingkuh, tapi apa yang kau lakukan ini jauh lebih rendah dari pada semua itu," ucap Nova dengan penuh kebencian, bagaimana pun juga dia harus menyelamatkan hak putranya.


"Ibu mengatakan jika aku dan keluargaku sudah menyiapkan semua ini, jadi apakah perselingkuhan mas Aidan adalah rencana kami juga?"


"Hah, kau selalu saja-"


"Tentu saja tidak 'kan, Bu?"


Nova terdiam membuat Yara tersenyum miris. "Maaf jika aku berkata seperti ini, tapi biar aku ingatkan." Yara maju selangkah agar lebih dekat dengan wanita paruh baya itu membuat Nova mendadak jadi takut.


"Kekayaan orang tuaku jauh lebih banyak dari harta yang kami miliki saat menikah. Setengahnya, seperempatnya, bahkan seujung kuku pun tidak bisa dibandingkan. Apa Ibu tidak tau itu?" tanya Yara dengan tajam membuat Nova semakin tersudut.


"Walau orang tuaku kaya raya, tapi aku sama sekali tidak ingin memakai uang mereka saat sudah menikah. Aku kerja keras setiap hari untuk rumah tanggaku sendiri, dan soal rumah. Apa Ibu lupa, jika kami pernah membeli rumah yang sederhana dulu?" Yara menatap dengan tajam dan tidak punya rasa kasihan lagi.


"Orang tuaku menentang rumah itu hanya karena takut Ibu tidak nyaman, sementara saat itu mas Aidan masih seorang karyawan biasa yang gajinya hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Aku terpaksa kerja keras agar bisa membeli rumah yang lebih bagus dan layak, semua itu hanya demimu, Ibu." Yara menghela napas kesal.


"Beberapa hari belakangan aku sedang mempertimbangkan agar rumah itu untuk mas Aidan dan Ibu saja, tapi sekarang tidak lagi. Jika aku sangat buruk di mata Ibu, maka biarlah aku menjadi lebih buruk lagi. Aku akan mengambil semua harta yang menjadi hakku, karena selama ini gajiku lebih banyak dari mas Aidan. Aku permisi, Bu. Assalamu'alaikum."


Yara langsung berbalik dan pergi dari tempat itu meninggalkan Nova yang terpaku dan tercengang dengan apa yang dia katakan.


"Jika memang Ibu menganggap aku dan keluargaku buruk, maka aku akan mengabulkan pikirannya itu."



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2