Takdir Cinta Yang Kau Pilih

Takdir Cinta Yang Kau Pilih
Bab 162. Ryder Sumber Keramaian.


__ADS_3

Yara yang masih terpejam di bawah selimut sayup-sayup mendengar suara panggilan seseorang. Perlahan dia membuka kedua matanya lalu mata itu kembali terpejam karena terkena pantulan matahari.


"Yara, bangun Sayang."


Yara kembali mendengar suara panggilan seseorang diiringi suara ketukan di pintu kamarnya, dia yang masih mengumpulkan nyawa belum sadar jika sudah siang.


"Em, jam berapa ini?" gumam Yara sambil menggeliatkan tubuhnya yang terasa pegal dan remuk redam.


Seketika kedua mata Yara membola saat baru sadar jika matahari sudah sangat terik. Sontak dia langsung mendudukkan tubuhnya hingga membuat Ryder yang masih terlelap terlonjak kaget.


"Selamat pagi, Sayang," ucap Ryder dengan suara serak khas bangun tidur, dia lalu memindahkan kepalanya ke atas pangkuan Yara membuat wanita itu tidak bisa turun dari ranjang.


"Bangun, Mas. Ini sudah siang," seru Yara sambil melihatke arah jam yang sudah menunjukkan pukul 9 pagi. Mampuslah mereka berdua.


"Yara, kau belum bangun?"


Yara terperanjat kaget saat kembali mendengar suara sang mama. "I-iya Ma, aku sudah bangun". Dia sedikit berteriak agar mamanya mendengar suaranya. Lalu menarik tangan Ryder agar laki-laki itu bangun. "Bangun Mas, sudah jam 9." Dia menarik selimut dan membawanya masuk ke dalam kamar mandi dengan terburu.


Tubuh Ryder langsung merinding karena terkena dinginnya ac, apalagi saat ini dia hanya memakai celana pendek saja.


"Duh, hausnya," gumam Ryder sambil mendudukkan tubuhnya ke atas ranjang. Dia lalu memiringkan lehernya ke kanan dan kiri, tidak lupa melakukan peregangan agar otot-otot tubuhnya tidak terasa kaku.


Tiba-tiba senyum lebar terbit dibibir Ryder saat ingatan tentang apa yang terjadi tadi malam melintas dalam pikirannya. Bak hewan buas yang baru dilepas di hutan belantara, hingga membuatnya tidak bisa mengendalikam diri sendiri.


Ryder lalu menoleh ke arah kamar mandi saat mendengar pintu kamar mandinya terbuka, tidak berselang lama datanglah Yara yang baru selesai mandi dengan berbalutkan handuk saja.


"Ja-jangan menatapku seperti itu, Mas," ucap Yara. Dia merasa malu karena sejak tadi Ryder terus menatapnya dengan tajam. Sangking buru-burunya, dia sampai lupa mengambil jubah handuk yang ada di dalam lemari, karena yang ada dalam kamar mandi hanya handuk saja.


Ryder menelan salivenya saat melihat Yara, sesaat kemudian dia terkekeh saat merasa jika ada sesuatu yang bergerak-gerak di bawah sana.


"Astaga, aku sudah seperti seorang maniak," gumam Ryder sambil mengusap wajahnya yang memerah. Dengan cepat dia turun dari ranjang lalu berjalan masuk ke dalam kamar mandi untuk menenangkan diri. Tidak mungkin 'kan, dia kembali menyerang Yara di jam segini?


Yara yang sedang pura-pura memilih pakaian melirik ke arah Ryder saat mendengar langkah kaki laki-laki itu, dia lalu tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


Tentu saja Yara tahu jika tadi Ryder terus menatapnya karena menginginkan sesuatu. Dia yang sudah pernah membina rumah tangga sangat hapal bagaimana tatapan laki-laki saat ingin menerkam lawannya.


Setelah selesai bersiap, Yara segera keluar dari kamar tanpa menunggu Ryder. Namun, dia sudah menyiapkan pakaian untuk laki-laki itu di atas ranjang.

__ADS_1


"Wah wah wah, jam segini baru bangun, Sayang?" seru Vano saat melihat Yara menuruni tangga membuat semua mata langsung tertuju ke arah wanita itu.


Yara merasa sangat malu karena baru keluar kamar dijam segini. Bisa-bisanya dia bangun kesiangan padahal semua keluara sedang berkumpul di rumahnya, dan ada kedua orangtua Ryder juga.


"Maklumlah, mereka pasti kelelahan," sambung Eric yang sedang duduk di samping Vano.


Semua orang langsung terkikik geli saat mendengar ucapan Eric, terutama para kaum emak-emak yang pikirannta sudah terbang ke mana-mana.


"Maaf aku terlambat bangun Ma, Pa, Oma Opa," ucap Yara, memanggil semua orang yang ada di tempat itu.


"Tidak apa-apa, Nak. Oma tahu kau pasti kelelahan," ucap mama Camelia sambil mengedipkan sebelah matanya. "Pasti tadi malam kau susah tidur 'kan?'


"Mama!" Via langsung memeluk lengan sang mertua saat melihat wajah Yara memerah, membuat semua orang kembali tertawa.


Walau bukan yang pertama kalinya, tetap saja Yara merasa sangat malu. Apalagi dulu dia tidak pernah mengalami hal memalukan seperti ini.


Tidak berselang lama, muncullah Ryder dengan berjalan santai menuruni anak tangga membuat semua perhatian langsung tertuju ke arahnya.


"Selamat pagi semuanya," ucap Ryder dengan ramah. Senyum lebarnya pun tetap terbit dibibirnya yang manis itu.


"Gimana, Ryder? Apa tadi malam udah ngecas?" tanya Vano sambil menaik turunkan alisnya.


"Apa kau pikir dunia ini cuma milik kalian berdua saja, hah? Terus kami cuma ngontrak?" hardik Mamanya sambil menarik telinga Ryder sampai membuat laki-laki itu memekik kesakitan.


"Duh ..., sakit Ma!" Ryder mengusap-usap telinganya yang terasa panas.


Semua orang menggelengkan kepala mereka melihat tingkah Ryder, keadaan di rumah itu pun semakin ramai sejak kehadirannya. Untung saja saat ini Zayyan sedang berada di sekolah, jika tidak maka keramaian itu akan menjadi tiga kali lipat.


Yara dan Ryder lalu pergi ke dapur untuk menikmati sarapan setelah diganggu oleh orangtua mereka, dan menu sarapan hari ini sangat lengkap karena ada banyak orang di rumah ini.


Sementara itu, di tempat lain terlihat Zafran sedang fokus mengerjakan pekerjaannya. Sebenarnya hari ini dia ingin libur karena merasa sangat lelah, tetapi tiba-tiba ada pekerjaan penting yang harus segera di selesaikan.


Tok, tok. "Tuan, ini saya."


"Masuklah," ucap Zafran saat mendengar suara Junior dibalik pintu.


Junior lalu masuk ke dalam ruangan sang tuan sambil membawa beberapa laporan yang harus ditanda tangani. "Ini laporan keuangan bulan lalu dan laporan pembukaan cabang daerah, Tuan." Dia memberikan meletakkan laporan itu di atas meja.

__ADS_1


Zafran mengangguk sambil merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku. "Untuk pertemuan nanti siang sudah disiapkan semua, Jun?"


Junior mengangguk. "Sudah, Tuan. Nanti siang kita akan bertemu dengan anak dari salah satu pemegang saham di perusahaan ini, dan saham miliknya ada 2%."


Zafran kembali menganggukkan kepalanya. Kemudian dia menyuruh Junior untuk membeli kopi karena matanya sangat ngantuk sekali saat ini.


Tepat pukul satu siang, Zafran dan Junior berlalu pergi menuju ke salah satu restoran karena sudah membuat janji dengan seseorang. Mereka juga bisa sekalian menikmati makan siang di tempat itu.


Saat akan masuk ke dalam restoran itu, tidak sengaja Zafran menabrak seorang wanita hingga membuat tubuh wanita itu terhuyung ke belakang. Dengan cepat dia menangkap pinggang wanita itu dan menahan tubuhnya agar tidak terjatuh.


"Anda tidak apa-apa?" tanya Zafran saat tubuh wanita itu berada dalam dekapannya.


Wanita yang tidak lain dan tidak bukan adalah Hana langsung membuka kedua matanya yang sempat terpejam karena berpikir tubuhnya akan terjatuh ke lantai. Dia lalu mendongakkan kepalanya yang tertunduk untuk melihat laki-laki tersebut.


"Ma-maaf, Tuan. Saya-"


"Kau?" Zafran memekik kaget saat melihat wajah Hana, ternyata dialah wanita yang baru saja bertabrakan dengannya.


Hana juga merasa kaget saat melihat Zafran, hingga seluruh tubuhnya terasa kaku dan tegang. Bahkan suaranya juga tidak dapat keluar.


Dengan cepat Zafran mendorong tubuh Hana lalu menarik tangannya dari pinggan wanita itu, membuat Hana terkesiap dan langsung memperbaiki posisi berdirinya.


"Maaf, aku tidak sengaja menabrakmu," ucap Zafran kemudian, walau dia merasa tidak menabrak wanita itu tadi.


Hana mengangguk. "Sa-saya juga minta maaf, Tuan. Senang bisa bertemu lagi dengan Anda." Dia berucap dengan takut-takut.


Zafran hanya diam sambil menatap Hana dengan tajam. Dia memperhatikan penampilan wanita itu yang tampak sedikit berbeda dengan saat berada di desa waktu itu.


"Lain kali tegakkan kepalamu saat sedang berjalan, kau tidak bisa selalu mengandalkan orang lain."





Tbc.

__ADS_1



__ADS_2