Takdir Cinta Yang Kau Pilih

Takdir Cinta Yang Kau Pilih
Bab. 94. Pikiran Buruk.


__ADS_3

Yara menatap Ryder dengan tajam membuat Ansel dan Weny yang ada di tempat itu merasa semakin penasaran, apalagi saat mendengar apa yang dia ucapkan.


Ryder sendiri masih diam sambil terus menatap Yara. Dia merasa heran kenapa wanita itu bisa berada di tempat seperti ini, mungkinkah Yara salah satu Dokter yang ditugaskan menjadi relawan di tempat ini?


"Kenapa kau diam? Cepat katakan apa yang kau lakukan di sini!" ucap Yara dengan emosional. Dia benar-benar tidak menyangka bisa bertemu dengan Ryder di tempat seperti ini, sebenarnya apa yang laki-laki itu lakukan? Kenapa dia bisa berada di negara ini?


Ryder menunduk untuk mengambil piring yang tadi disebutkan oleh Weny tanpa menanggapi ucapan Yara, setelah itu dia berbalik dan berlalu pergi ke dapur membuat Yara mengernyitkan keningnya dengan geram.


"Kau-"


Yara tidak bisa melanjutkan ucapannya saat tiba-tiba tangannya dipegang oleh seseorang membuatnya langsung melihat ke arah Weny.


"Maaf, Dokter. Apa Anda mengenal Ryder?" tanya Weny dengan lirih. Mulai dari pertama kali dia mengenal Ryder, inilah kali pertama dia melihat raut wajah laki-laki itu yang dipenuhi dengan ekspresi.


Yara terdiam saat mendengar pertanyaan Weny, lalu sesaat kemudian dia menganggukkan kepalanya. "Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa dia bisa sampai ke negara ini dan berada di desa ini?" Berbagai pertanyaan memenuhi kepala Yara saat ini, tetapi dia memilih untuk menyimpannya karena ingin bertanya langsung pada laki-laki itu.


Weny mengangguk-anggukkan kepalanya, dia lalu memilih untuk tidak bertanya lagi karena sepertinya Yara enggan untuk menjawabnya.


Yara lalu bertanya berapa biaya yang harus dia bayar untuk pijatan kakinya, lalu segera memberikan sejumlah uang yang sedikit dilebihkan dari besaran yang Weny katakan.


Setelah itu, Yara mengucapkan banyak terima kasih lalu beranjak pamit dari tempat itu bersama dengan Ansel. Sepanjang perjalanan pulang, dia tidak mengeluarkan sepatah kata pun membuat Ansel yang ingin bertanya terpaksa diurungkan.


Setelah kepergian Yara, Weny berjalan masuk ke dalam kamar Ryder untuk bertanya apa yang sebenarnya terjadi, tetapi ternyata laki-laki itu tidak berada di sana.


"Ryder, Ryder!" panggil Weny sambil melangkahkan kakinye ke dapur untuk mencari keberadaan laki-laki itu, mendadak perasaannya menjadi tidak tenang.


"Ryder, kau ada di-" Weny tidak dapat melanjutkan ucapannya saat melihat Ryder berdiri di samping tumpukan kayu untuk memasak, sambil melihat ke arah jalanan.

__ADS_1


Weny segera menghampiri Ryder lalu menyentuh lengannya, membuat laki-laki itu langsung memalingkan wajah ke arahnya.


"Ada apa, Ryder? Apa kau mengenal Dokter Yara?" tanya Weny dengan lirih, berharap agar laki-laki itu mau terbuka dengannya.


"Kenapa malam-malam gini kalian di sana?"


Belum sempat Ryder menjawab pertanyaan sang nenek, terdengar teriakan dari Domi yang sedang berdiri di pintu dapur sambil menatap ke arah mereka.


"Aku akan ceritakan nanti, Nek." Lirih Ryder lalu berjalan kembali ke arah rumah.


Weny merasa kaget saat melihat raut wajah Ryder saat ini. Wajah laki-laki itu terlihat sendu dengan gurat kecewa yang dangat besar, mungkinkah ada masalah antara Ryder dengan wanita bernama Yara tadi?


"Ada apa, Nak? Kau baik-baik saja 'kan?" tanya Domi yang dijawab dengan anggukan kepala Ryder.


"Aku lelah, Kek. Aku mau istirahat dulu." Ryder mengayunkan langkahnya untuk masuk ke dalam kamar. Dia menutup pintu kamar itu membuat Weny dan Domi menatap dengan heran.


Weny menghela napas kasar. Dia lalu mendudukkan tubuhnya di kursi yang ada di dapur. "Entahlah, aku tidak tau." Dia menggelengkan kepalanya. "Dia jadi seperti itu setelah bertemu dengan salah satu Dokter yang datang ke desa ini, namanya Yara." Jelasnya pada sang suami.


Domi mengernyitkan keningnya dengan bingung, dia lalu meminta dang istri untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada laki-laki itu.


Sementara itu, di dalam kamar tampak Ryder duduk diam di atas ranjang. Dia menatap lurus ke arah dinding, dengan pikiran yang kembali mengingat pertemuannya dan Yara beberapa saat yang lalu.


"Dasar bod*ih!" Umpat Ryder sambil mengusap wajahnya dengan kasar. "Kenapa aku diam saja saat mendengar pertanyaannya, kenapa?" Dia menggeram kesal. Bisa-bisanya dia hanya diam dan malah pergi dari tempat itu meninggalkan Yara yang menatapnya dengan bingung.


Ryder datang ke negara di mana Yara tinggal karena memang ingin menemui wanita itu, tetapi tidak disangka mereka malah bertemu dalam keadaan seperti ini. Bukankah itu sangat mengerjutkan sekali?


Dia yang melihat Yara langsung mengepalkan kedua tangannya dengan erat untuk mengendalikan emosi yang sudah meletup-letup. Bukan karena dia marah atau pun membenci wanita itu, tetapi karena rasa rindu, rasa bersalah, dan rasa kecewa untuk dirinya sendiri.

__ADS_1


Sekuat tenaga Ryder menahan semua gejolak itu di dalam hatinya. Jika tadi dia tidak pergi dari tempat itu, maka pasti dia akan memeluk tubuh Yara dengan erat.


Pada saat yang sama, saat ini Yara juga sedang duduk termenung di atas ranjang. Dia benar-benar tidak percaya bisa bertemu dengan Ryder di tempat ini, itu artinya suara teriakan yang dia dengar tadi benar-benar sedang memanggil laki-laki itu.


"Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa laki-laki itu ada di negara ini, dan ada di tempat seperti ini?"


Yara sama sekali tidak mengerti. Ada banyak sekali pertanyaan yang memenuhi kepalanya saat ini, dan ingin sekali langsung menanyakan semua itu pada Ryder.


"Tapi tunggu." Tiba-tiba Yara mengingat kejadian di mana Ryder menjadikannya sebagai bahan taruhan. Lalu, Jangan bilang Ryder ada di tempat ini karena berniat ingin melakukan hal seperti itu juga?


Yara mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Wajahnya berubah tajam dengan gigi yang saling bergesekan.


"Awas saja kalau kau berani melakukan semua itu pada wanita yang ada di sini, Ryder. Aku tidak akan pernah membiarkannya, dan aku akan  membalasmu sampai kau berlutut di kaki para wanita yang telah kau sakiti," gumam Yara dengan geram.


Mulai sekarang, tugas Yara bukan hanya mengobati dan memeriksa keadaan masyarakat yang ada di desa itu, tetapi juga mengawasi setiap pergerakan Ryder. Laki-laki itu pasti akan mengambil kesempatan untuk menyakiti para wanita yang ada di desa ini.


Setelah merasa lebih tenang, Yara memutuskan untuk segera istirahat. Apapun yang terjadi, besok dia harus bertanya apa yang Ryder lakukan di desa ini, sekaligus memastikan jika laki-laki itu tidak akan punya kesempatan untuk membawa wanita lain.


"Kau lihat saja, Ryder. Aku tidak akan melepaskanmu."





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2