Takdir Cinta Yang Kau Pilih

Takdir Cinta Yang Kau Pilih
Bab. 104. Percayakan Saja Pada Tuhan.


__ADS_3

"Yara!"


Yara tersentak kaget saat mendengar panggilan seseorang. Dia yang tidak sengaja melamun langsung tersadar dari lamunannya.


"Kenapa kau melamun sambil melihat wajahku? Apa wajahku tetap tampan walau sedang terluka seperti ini?" tanya Ryder dengan sangat pede sekali.


Yara menyipitkan kedua matanya dengan tatapan tidak percaya. Bagaimana mungkin Ryder bisa mengatakan sesuatu dengan sepeda itu? Dan sia*lnya apa yang laki-laki itu katakan adalah benar.


"Dih, pede sekali kau berkata seperti itu," tukas Yara sambil mencebikkan bibir, bisa-bisanya ada laki-laki seperti Ryder yang super duper pede.


Ryder tersenyum saat mendengar ucapan Yara. "Tapi sejak di sini ketampananku sedikit luntur, karena terus bermain kotor-kotor yang membuat kulitku menjadi sedikit gelap." Lirihnya sambil melihat ke arah tubuhnya sendiri yang memang sedikit lebih hitam dari yang dulu.


"Hitam jika balasannya kebaikan, maka itu sama sekali tidak rugi," ucap Yara tanpa sadar, membuat dada Ryder langsung berdegup dengan kencang.


Jelas jantung Ryder langsung berdebar-debar saat mendengar apa yang Yara katakan. Wanita itu seolah berkata jika tidak masalah kulitnya menjadi hitam, asal apa yang dia lakukan adalah hal baik dan menghasilkan kebaikan.


Ternyata bukan dada Ryder saja yang berdegup kencang, bahkan Weny sejak tadi sudah senyum-senyum sendiri saat melihat interaksi antara Ryder dan Yara. Terlihat jelas ada hubungan yang tidak biasa di antara mereka, mungkin inilah yang di sebut dengan CLBK. Cinta lama belum kelar.


Yara yang baru menyadari ucapannya langsung beranjak pergi dari tempat itu. Wajahnya berubah merah padam karena merasa malu atas apa yang sudah dia katakan.


"Dasar mulut! Kenapa lancar sekali sih kayak air?" gumam Yara dengan kesal. Dia lalu berjalan cepat meninggalkan tempat itu untuk kembali ke rumah di mana dia tinggal.

__ADS_1


Ryder tergelak sambil menggelengkan kepalanya saat melihat Yara pergi dari tempat itu. Dia tahu jika saat ini wanita itu pasti sedang merasa malu, dan raut wajah Yara pasti akan sangat menggemaskan sekali.


"Sepertinya kau senang sekali ya, Ryder," sindir Weny membuat gelak tawa Ryder langsung terhenti, dan berubah menjadi senyum malu-malu. "Apa selama ini dia wanita yang kau sukai, sehingga kau sama sekali tidak tertarik dengan wanita-wanita yang ada di desa ini?"


Ryder langsung menganggukkan kepalanya saat mendengar ucapan Weny. "Dia bukan hanya wanita yang aku sukai, tapi juga wanita yang aku cintai. Tapi sayang, dia juga wanita yang telah aku sakiti dan lukai sangat dalam."


Weny terkesiap saat mendengar ucapan Ryder, sepertinya memang ada kisah masa lalu yang telah terjadi di antara mereka berdua.


"Percayalah pada takdir Tuhan, Ryder. Selagi kau berusaha untuk berubah dan memperbaiki kesalahan yang telah kau lakukan, maka Tuhan juga akan memperbaiki segala yang telah terjadi. Termasuk hubunganmu dengan Dokter Yara," ucap Weny sambil menepuk bahu Ryder, membuat laki-laki itu tersenyum simpul sambil menganggukkan kepala.


"Terima kasih karena tidak bertanya apapun tentang masa laluku dan Yara, Nek. Terima kasih juga karena tidak berusaha mencari tahu siapa aku yang sebenarnya, walau kakek Domi sudah mengetahuinya." Lirih Ryder.


Weny kembali terkejut saat mendengar apa yang Ryder katakan. Sebenarnya dia merasa penasaran dengan asal usul laki-laki itu, apalagi saat melihat gerak-gerik suaminya yang sepertinya mengetahui sesuatu. Namun, semua diurungkan saat melihat Ryder. Sepertinya laki-laki itu tidak berniat untuk memberitahu siapa pun tentang identitasnya, itu sebabnya dia memutuskan untuk diam dan hanya menganggap Ryder sebagai cucunya saja.


"Halo, Tuan Vano," ucap Eric dengan ramah. Dia yang sedang berada di kamar hotel segera beranjak ke balkon.


"Halo, Tuan Eric. Apa saya sedang mengangganggu Anda?"


"Tidak, tidak sama sekali, Tuan Vano. Saya senang bisa mendengar suara Anda," jawab Eric dengan jujur. Mungkinkah Vano sudah mengetahui jika saat ini Yara sedang bersama dengan Ryder? Atau jangan-jangan laki-laki itu menelepon karena marah?


"Syukurlah kalau seperti itu. Ada sesuatu yang ingin saya katakan pada Anda, sekaligus ingin meminta bantuan dari Anda," ucap Vano membuat kekhawatiran yang tiba-tiba menerjang Eric langsung lenyap.

__ADS_1


Namun, tiba-tiba Eric merasa penasaran dengan apa yang akan Vano katakan. Apalagi sampai meminta bantuannya.


"Katakan saja, Tuan. Jika bisa, maka saya pasti akan membantu."


Vano merasa sedikit lega saat mendengarnya, dengan cepat dia menceritakan semua yang telah terjadi. Mulai dari kedatangan Felix, sampai sesuatu yang dia dengar dari River.


Eric tercengang saat mendengar cerita Vano. Kedua matanya terbelalak lebar dengan mulut yang juga terbuka, bagaimana mungkin mereka bisa sampai berurusan dengan mafia seperti itu?


"Aku tidak habis pikir dengan apa yang sedang Anda alami sekarang, Tuan Vano. Bukankah tuan River juga berasal dari kelompok mafia itu juga?"


Kali ini giliran Vano disebrang telepon yang terkejut. "Apa, apa Maksud Anda, Tuan?" Dia bertanya dengan bingung.


"River adalah tangan kanan dari seorang ketua mafia, dan mafia itu bernama Luke. Dia adalah mafia yang sama yang saat ini sedang menyerang Anda,"


"Apa?"




__ADS_1


Tbc.


__ADS_2