Takdir Cinta Yang Kau Pilih

Takdir Cinta Yang Kau Pilih
Bab 204. Sebuah Tuduhan.


__ADS_3

Zafran tertegun melihat semangat yang berkobar dahsyat dikedua mata Hana. Untuk pertama kalinya dia melihat semangat yang membara dalam diri wanita itu, hingga membuatnya sangat yakin jika Hana akan benar-benar jadi orang yang sukses.


"Baiklah, akan aku tunggu," ucap Zafran sambil tersenyum dengan hangat. Senyum yang selama ini tidak pernah dia berikan kepada selain keluarga dan orang-orang terdekatnya, hingga membuat Hana terpaku dan terhipnotis dengan senyum itu.


Zafran lalu melajukan mobilnya dengan kencang agar bisa cepat sampai di rumah. Namun, dalam perjalanan tiba-tiba sang mama menelepon dan menyuruhnya untuk singgah ke butik langganan sang mama untuk mengambil pakaian.


Hana yang merasa ngantuk seketika mulai terlelap di dalam mobil sampai tidak sadar saat mobil itu berhenti, membuat Zafran menggelengkan kepalanya.


"Bisa-bisanya dia tidur," gumam Zafran sambil memperhatikan wajah Hana. Wajah manis dengan lesum pipi yang ada di kedua pipi Hana, membuat setiap mata yang melihatnya tidak pernah merasa bosan.


Sebenarnya wajah Hana cukup cantik, apalagi ditambah dengan lesum pipi yang membuatnya terlihat manis dan menggemaskan. Namun, wajah Hana selalu terlihat pucat dan lemas. Juga tidak terawat karena banyaknya pekerjaan yang harus dilakukan, belum lagi beban psikis yang berhasil merusak kesehatan mentalnya.


Kulit Hana juga terbilang putih walau tidak melakukan perawatan apapun karena selama ini tinggal di daerah pegunungan. Tinggi tubuhnya sekitar 158 cm, lebih pendek dari Via dan Yara yang memiliki tinggi 160 dan 167 cm. Itu sebabnya Hana tampak menggemaskan dan imut di mata orang-orang.


Apalagi beberapa hari ini Hana terlihat lebih ceria dan selalu tersenyum, sangat berbeda jauh pada saat bertemu dengan Zafran dulu. Wajah yang dulu selalu pucat dan lemas, kini tampak lebuh segar dan selalu dihiasi dengan senyuman. Walau wanita itu selalu bersikap konyol karena kepolosannya.


"Dasar gila. Apa yang sedang aku pikirkan?" gumam Zafran kembali sambil menggelengkan kepalanya. Bisa-bisanya dia mengagumi kecantikan seorang wanita yang sedang tertidur pulas, bukankah itu sama saja dengan pelec*ehan *****ual?


Tidak mau semakin menjadi gila, Zafran bergegas keluar dari mobil dan masuk ke dalam butik untuk mengambil pesanan sang mama, sementara Hana tidur dengan nyenyak tanpa sadar dengan apa yang terjadi saat ini.


Setelah mengambil pakaian pesanan mamanya, Zafran kembali masuk ke dalam mobil dan bergegas pergi dari tempat itu. Dia terus menatap lurus ke depan dan sama sekali tidak melihat ke arah Hana, dia takut kejadian yang tadi terulang kembali.


Tidak berselang lama, akhirnya mereka sampai juga di rumah. Zafran sedikit melirik ke arah Hana yang masih saja terlelap. Memangnya mau sampai kawan wanita itu tidur?


"Hana, bangun! Kita sudah sampai," ucap Zafran dengan nada suara yang sedikit pelan. Namun, Hana tetap diam dan tidak merespon ucapannya. "Bangun, Hana. Kita sudah sampai!" Ucapnya kembali dengan sedikit kuat membuat wanita itu terlonjak kaget.


"Ma-maafkan saya, Tuan," ucap Hana dengan panik saat baru sadar jika dia tidak sengaja tertidur.


"Cepat turun!"

__ADS_1


"Ba-baik, maafkan saya," ucap Hana kembali sambil bergegas keluar dari mobil, tidak lupa membawa peralatan perangnya yang dibeli oleh Zafran dengan harga selangit.


Zafran langsung tertawa terbahak-bahak saat Hana sudah keluar dan masuk ke dalam rumah. Dia merasa sangat lucu saat mengingat ekspresi kaget dan panik yang bercampur diwajah wanita itu saat dibangunkan tadi, membuatnya merasa sedikit bersalah.


"Suruh siapa tidur kayak batu," gerutu Zafran. Dia lalu keluar dari mobil dan berlalu masuk ke dalam rumah.


Setelah bertemu dengan Via dan Vano, Hana langsung menunjukkan alat lukis yang Zafran belikan untuknya membuat sepasang suami istri itu ikut merasa senang, walau dia sudah memberitahukan harga dari alat lukis itu, tetapi mereka malah tidak peduli.


"Sesuatu yang bagus memang mahal, begitu juga dengan lukisanmu. Bahkan ada sebuah lukisan yang tidak bisa dinilai dengan uang," ucap Vano.


Hana terdiam mendengar ucapan Vano. Yah, semua itu memang benar. Namun, bagi orang sepertinya sangat sayang sekali jika harus mengeluarkan uang sebanyak itu. Apalagi untuk orang-orang yang hidup serba kekurangan. Jangankan mengeluarkan ratusan juta, untuk makan sehari-hari saja masih sangat susah.


Sementara itu, di tempat lain terlihat Dion sedang membanting perabotan yang ada di dalam kamarnya. Dia benar-benar merasa murka saat mendapat surat panggilan dari pusat perceraian regional. Ternyata Hana benar-benar mengajukan surat perpisahan, bahkan perpisahan itu sudah disetujui oleh pusat.


"Si*alan! Semua ini pasti gara-gara laki-laki itu. Kenapa dia ikut campur dalam urusan pribadiku, kenapa dia ikut campur masalah rumah tanggaku? Kenapa?" teriak Dion sambil melempar ponselnya ke arah kaca membuat kaca itu hancur berantakan.


"Bagus, aku tidak perlu melakukan apapun lagi," gumam Reny dengan tersenyum lebar. "Tapi kenapa dia berani sekali mengajukan perpisahan itu, siapa yang membantunya?" Dia merasa penasaran.


Terserahlah, yang penting saat ini Reny merasa senang karena Hana sudah keluar dari rumahnya. Dia bahkan sudah mencarikan wanita yang setara dengan putranya, bukan wanita kampungan yang memalukan seperti Hana.


Perlahan Reny membuka pintu kamar Dion saat sudah tidak mendengar keributan lagi. Kamar laki-laki itu terlihat seperti kapal pecah dengan barang-barang yang berserakan di mana-mana, sementara Dion tampak berada di balkon sambil menyesap rokok.


Dengan penuh kehati-hatian, Reny mendekati Dion sambil memperhatikan bawah. Jangan sampai ada pecahan kaca yang menusuk kakinya, atau kaki itu nanti akan terluka.


"Apa yang terjadi, Dion?" tanya Reny dengan pelan dan penuh perhatian, berpura-pura supaya putranya luluh.


Dion melirik sekilas ke arah sang mama lalu kembali melihat ke arah depan. Dia terus menyesap rokok itu tanpa menjawab ucapan mamanya, perasaannya sedang kacau saat ini.


Reny mengusap punggung Dion seolah memberikan perhatian dan kasih sayang. "Jangan seperti ini, Sayang. Jangan hancurkan dirimu sendiri karena orang lain." Dia berucap dengan lembut.

__ADS_1


Dion berdecak kesal saat mendengarnya. "Lalu apa yang harus aku lakukan? Beraninya wanita itu mengajukan perpisahan dariku!" Dia menggertakkan giginua dengan kuat.


Reny tersenyum. "Mama yakin kalau Hana tidak akan bisa melakukan semua itu sendiri, pasti ada orang lain yang membantunya." Dia mulai memasukkan bumbu-bumbu kehancuran.


"Ya, pasti laki-laki si*alan itu yang telah membantuanya. Brengs*ek!" umpatnya dengan kesal. Dia sama sekali tidak tahu harus melakukan apa untuk membalas Zafran, apalagi kedudukan dan kekuasaan laki-laki itu jauh berada di atasnya. Jelas dia yang kalah dan hancur jika berhadapan langsung dengan Zafran.


"Jangan-jangan selama ini Hana dan laki-laki itu selingkuh?"


Deg.


Kedua mata Dion menajam saat mendengar ucapan sang mama. "Apa maksud Mama?" Tanyanya dengan wajah merah padam.


Reny lalu mengatakan dugaan perselingkuhan yang Hana lakukan bersama dengan laki-laki yang telah menolong wanita itu. Tidak mungkin selama ini mereka tidak memiliki hubungan apapun, pasti semua sudah mereka rencanakan dengan matang.


"Tidak mungkin laki-laki itu mau membantu Hana jika tidak punya hubungan khusus, mama yakin kalau mereka sudah berhubungan sejak lama. Bukankah kau bilang Hana sudah bertemu dengan laki-laki itu sebelum menikah denganmu?" ucap Reny dengan penuh penekanan.


Dion terdiam mendengar ucapan sang mama, mencoba untuk memikirkan apa yang mamanya ucapkan. Benarkah jika selama ini Hana mengkhianatinya dan berselingkuh dengan Zafran?


Dion mengingat semua yang terjadi di desa antara Hana dan Zafran. Tidak berselang lama, mereka kembali bertemu di kota ini. Bahkan setelah itu mereka sering bertemu. Apakah sejak saat itu mereka saling berhubungan? Tapi kenapa selama ini tidak ada sesuatu yang mencurigakan dari Hana?


"Hana benar-benar sudah menipumu, Dion. Pantas saja selama ini dia selalu pulang terlambat saat belanja ke pasar, dia juga sering berkeliaran ke taman atau ke tempat lain. Saat itu dia pasti bertemu dengan selingkuhannya."





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2