
Yara dan River langsung menggelengkan kepala mereka saat mendengar ucapan Vano. Betapa luar biasa narsisnya laki-laki itu. Bukan hanya narsis, tetapi juga tidak tahu malu.
"Ayo Om, kita keluar! Jangan sampai nanti ketularan narsis seperti Papa," ajak Yara sambil berpura-pura beranjak bangun dari sofa.
"Cih, papa kam berkata jujur," seru Vano. "Coba kau katakan, dibagian mana dari ucapan papa tadi yang tidak benar." Dia berucap dengan bangga.
Yara tergelak. Memang sih apa yang papanya katakan itu benar, hanya saja sang papa terlalu pede dalam memuji diri sendiri.
"Iya-iya, Papalah yang paling-paling segalanya. Apa Papa sudah puas?" tanya Yara.
Vano langsung tergelak saat mendengar ucapan sang putri, tidak berselang lama masuklah Zafran ke dalam ruangan itu.
"Ayo Mbak, kita pulang!" ajak Zafran kemudian.
Yara mengangguk. Dia lalu pamit pada papanya dan juga pada River, setelahnya berlalu keluar dari ruangan itu bersama dengan sang adik.
*
*
Setelah beberapa jam berada di dalam pesawat, akhirnya sampai juga Ryder ke negara asalnya. Rasanya sudah sangat lama sekali dia pergi meninggalkan tempat itu, tempat di mana menyimpan segala kenangan sejak dia kecil.
"Sayang!"
Ryder yang sedang berjalan bersama dengan kakek Domi dan nenek Weny tersentak kaget saat mendengar teriakan seseorang, dengan cepat dia menoleh ke arah kiri dan langsung tersenyum lebar melihat sang mama sedang berlari ke arahnya.
"Anakku!" seru Riani dengan kata berkaca-kaca. Dia langsung memeluk tubuh Ryder dengan erat karena benar-benar merindukan putranya itu.
Ryder juga membalas pelukan sang mama dengan tidak kalah erat, dia juga sangat merindukan mamanya itu karena sudah lama tidak bertemu.
"Bagaimana kabar Mama, apa Mama baik-baik saja?" tanya Ryder sambil mengusap punggung sang mama dengan lembut.
Mendengar pertanyaan Ryder, Riana langsung melepaskan pelukannya. "Tentu saja kabar mama tidak baik! Apa kau pikir ada, seorang ibu yang baik-baik saja setelah ditinggal minggat oleh putranya, hah?" Dia berucap dengan kesal.
Ryder tergelak mendengar kemarahan sang mama, sementara orang-orang yang berada di sekitar mereka langsung memperhatikan karena mendengar suara teriakan mamanya.
"Pelankan suaramu, Sayang. Lihat, kau membuat tamu kita jadi takut," seru Eric yang baru saja sampai akibat ditinggal oleh sang istri.
Riana langsung tersadar karena ucapan suaminya, lalu melihat ke arah sepasang suami istri yang ada di samping Ryder.
__ADS_1
"Maafkan saya Tuan, Nyonya. Suara saya pasti sudah mengagetkan Anda berdua," ucap Riana dengan tidak enak hati.
Kakek Domi dan nenek Weny langsung melirik ke arah Ryder karena tidak mengerti dengan bahasa yang ibunya ucapkan, karena mereka menggunakan bahasa inggris dan tidak tahu bahasa indonesia.
"Kakek dan nenek tidak mengerti bahasa indonesia, Ma. Jadi Mama harus bicara dalam bahasa inggris," ucap Ryder dalam bahasa inggris, sebagaimana bahasa yang dia gunakan sehari-hari selama berada di London.
Ah, Riana mengangguk paham. Dia lalu mengulang ucapannya dengan menggunakan bahasa inggris, dan untungnya dia fasih dalam berbasa internasional itu.
"Tidak apa-apa, Nyonya. Kami mengerti kalau Anda sangat merindukan Ryder," balas kakek Domi.
Eric lalu mengajak mereka semua untuk pulang ke rumah, karena mereka pasti sangat lelah setelah melakukan perjalanan yang sangat panjang, dan sekarang pun sudah hampir pukul 1 pagi dini hari.
Dalam perjalanan, Eric dan Riana terus mengajak kakek Domi dan nenek Weny mengobrol. Mereka juga mengucapkan banyak terima kasih karena selama ini sudah memperlakukan putra mereka dengan baik, bahkan menganggap Ryder sebagai cucu mereka sendiri.
Beberapa saat kemudian, mereka sudah sampai di tempat tujuan. Terlihat pelayan dan petugas keamanan menyambut kedatangan mereka, apalagi sudah beberapa bulan tuan muda mereka tidak kembali ke rumah itu.
"Selamat datang kembali, Tuan Muda," ucap semua pekerja yang ada di tempat itu secara bersamaan.
Ryder tersenyum melihat sambutan yang mereka lakukan. "Wah, ternyata sudah lama sekali ya, aku tidak pulang. Sampai-sampai kalian menyambutku seperti ini." Dia tergelak karena merasa lucu.
Para pekerja itu terkejut saat melihat Ryder tertawa, padahal dulu laki-laki itu sangat jarang sekali tertawa. Bahkan senyum saja pun bisa terhitung jumlahnya.
Para pekerja itu tampak menundukkan kepala sambil menahan senyum, mereka lalu pamit untuk istirahat karena sejak tadi menahan kantuk. Kecuali penjaga keamanan yang bertugas malam ini.
Nenek Weni dan suaminya berdecak kagum melihat apa yang para karyawan Rydeer lakukan, mereka juga takjub saat melihat kemewahan rumah orangtua Ryder. Ternyata laki-laki itu juga sangat kaya, sama seperti keluarga Yara.
"Ayo Kek, Nek. Aku akan mengantar kalian ke kamar!" ajak Ryder.
Sepasang suami istri itu mengangguk lalu mengikuti langkah Ryder menuju kamar tamu yang sudah disiapkan secara khusus untuk mereka, dan terletak di lantai satu supaya tidak perlu menaiki tangga.
"Nah, ini kamar Kakek dan Nenek. Jika Kakek dan Nenek butuh sesuatu, panggil saja pelayan yang ada di dapur." Ryder menunjuk ke arah dapur yang berada tepat di hadapan kamar itu.
Kakek Domi dan nenel Weny mengangguk paham, sebenarnya mereka merasa sungkan tinggal tempat mewah seperti ini. Sama saat mereka tidur di rumah orangtua Yara semalam.
Ryder lalu menunjukkan di mana kamar mandi dan lemari pakaian untuk mereka, bahkan di dalam lemari itu sudah tersedia pakaian dan segala pernak-perniknya.
"Ini ... pakaian siapa, Ryder?" tanya Weny. Dia takut jika nanti yang punya pakaian itu marah jika dia meletakkan pakaiannya ke dalam lemari.
Ryder tersenyum. "Ini pakaian untuk Nenek dan Kakek, itu sebabnya semalam aku melarang Nenek untuk membawa pakaian, karena mama sudah menyiapkan semuanya."
__ADS_1
Ah, Weny mengangguk paham. Dia benar-benar merasa senang melihat pakaian-pakaian bagus itu, selama ini dia hanya bisa membeli pakaian yang sedikit bagus. Itupun belum tentu setahun sekali.
Namun, sejak Ryder tinggal bersamanya. Laki-laki itu banyak memberikan barang-barang untuknya, juga untuk sang suami. Ryder juga memberikan sejumlah uang yang bahkan dia sendiri tidak bisa menghitungnya.
"Kenapa Nenek menangis?" tanya Ryder dengan kaget.
Nenek Weny menggelengkan kepalanya. "Tidak, Nak. Nenek hanya merada bersyukur dipertemukan dengan laki-laki sepertimu, kau sudah banyak membantu perekonomian kami." Dia merasa sangat berterima kasih.
Ryder tersenyum, dia lalu merangkul bahu nenek Weny. "Aku melakukan semua itu sesuai dengan apa yang aku dapat dari kalian, Nek. Apa kalian tahu, terkadang kasih sayang itu jauh lebih berharga dari pada materi, walau kenyataannya hidup ini sangat butuh uang. Tapi aku mendapatkan sesuatu yang lebih berharga dari itu, yaitu kasih sayang dan ketulusan yang kalian berikan padaku. Aku juga bersyukur dipertemukan dengan kalian."
Nenek Weny dan kakek Domi menatap Ryder dengan berlinang air mata, mereka merasa terharu saat mendengar ucapan laki-laki itu.
Bukan hanya mereka saja yang merasa terharu, tetapi Eric dan istrinya juga merasa sangat terharu mendengar ucapan Ryder. Putra mereka itu memang sudah sangat berubah, dan bersyukur dia dipertemukan oleh orang-orang baik.
*
*
Kepulangan Ryder ke rumah orangtuanya bukan hanya karena merasa rindu dengan mereka, tetapi karena ingin membicarakan masalah pernikahan.
Seperti hari ini, terlihat rumah Ryder sedang ramai oleh para keluarga yang sedang membahas rencana pernikahannya dengan Yara.
Ryder tidak ingin lagi mengulur waktu, jadi dia mengatakan pada kedua orangtuanya agar langsung datang ke rumah Yara untuk melemar wanita itu. Setelahnya mereka akan langsung mempersiapkan pernikahan.
"Ya sudah, kalau begitu Papa akan memberi kabar pada orangtua Yara jika lusa kita akan terbang ke sana untuk melamarnya. Setelah itu kita akan langsung mempersiapkan pernikahan," ucap Eric.
Semua orang mengangguk setuju, terutama Ryder yang tampak sangat senang sekali saat ini.
Setelah selesai, Eric segera menelepon Vano untuk memberitahukan rencana itu, sementara Ryder sendiri menelepon Zafran untuk meminta tolong perihal sesuatu.
"Tolong carikan rumah yang berada tidak jauh dari rumah orangtuamu, Zaf. Supaya nanti keluargaku bisa tinggal di sana sambil mempersiapkan pernikahan."
•
•
•
Tbc.
__ADS_1