
Zafran menunjuk ke arah sepeda motor yang berada di belakang mereka membuat Hana langsung menoleh ke tempat tersebut, sementara Myra merasa terkejut dengan apa yang laki-laki itu katakan.
"Aku akan mengantarmu pulang," ucap Zafran kemudian.
Hana tercengang mendengar tawaran yang Zafran berikan, dia merasa tidak percaya jika laki-laki itu berniat untuk menolongnya seperti ini. Padahal tadi malam Zafran terlihat sangat dingin sekali.
"Apa maksudmu, Zafran?" pekik Myra dengan tajam membuat Zafran dan Hana langsung melihat ke arahnya. "Kalau kau mengantar dia, terus aku sama siapa?" Dia berucap dengan kesal. Seenaknya saja laki-laki itu mengajak wanita lain, lalu bagaimana dengannya?
Zafran mengendikkan bahunya. "Kakimu tidak sakit, sementara dia sakit. Jadi, siapa yang menurutmu harus naik ke motor itu?" Dia malah balik bertanya.
"Kau-" Myra mengepalkan kedua tangannya dengan geram. Si*al, Zafran benar-benar membuatnya tidak bisa membantah ucapan laki-laki itu. Namun, tunggu dulu. Itu kan motornya, kenapa tidak dia saja yang membawa wanita itu?
Di tengah lamunan Myra, Zafran sudah menyuruh Hana untuk segera naik ke motor itu supaya mereka bisa cepat pergi dari tempat tersebut.
Hana sendiri merasa bingung. Namun, dia langsung mendekati motor itu saat mendapat tatapan tajam dan menusuk yang Zafran layangkan.
"Ka-kalau gitu kami duluan, Buk Myra," ucap Hana setelah naik ke atas motor dan duduk tepat di belakang Zafran.
Myra tersadar dari lamunan saat mendengar suara Hana, sontak kedua matanya membelalak lebar saat melihat apa yang kedua manusia itu lakukan.
"Tunggu, mau ke mana kalian?" teriak Myra dengan wajah merah padam. Dia bergegas mendekati mereka yang sudah duduk manis di atas motornya.
Melihat Myra mendekat, Zafran segera menghidupkan mesin motor itu dan langsung tancap gas dari sana membuat Hana terlonjak kaget. Dia sama sekali tidak mempedulikan teriakan Myra yang saat ini tengah dipenuhi dengan amarah karena perbuatannya.
"Kembali kalian dasar kurang ajar!" teriak Myra dengan wajah merah padam. Rahangnya mengeras dengan urat-urat yang menonjol disekitar leher, menunjukkan bahwa saat ini dia benar-benar sangat emosi.
Hana yang merasa terkejut karena Zafran melajukan motor itu dengan tiba-tiba, spontan meletakkan kedua tangannya dipinggang laki-laki itu dan berpegangan dengan erat. Dia juga memejamkan kedua matanya dengan takut saat mendengar teriakan Myra.
"Ya ampun, apa yang sudah kami lakukan?" gumam Hana dengan gelisah. Dia takut karena sudah menyinggung perasaan Myra, wanita yang dikenal baik oleh orang lain, tetapi tidak untuknya yang tahu bagaimana sifat asli wanita itu.
Zafran yang mendengar gumaman Hanna mengernyitkan kening heran, apalagi saat melihat ke arah bawah di mana tangan wanita itu sedang melingkar erat diperutnya.
__ADS_1
"Apa yang dia lakukan? Kenapa dia memelukku seperti ini, apa kakinya sangat sakit?" Zafran merasa heran sendiri. Pasalnya Hana benar-benar mencengkram perutnya dengan kuat, bahkan sampai membuat napasnya menjadi sesak.
"Apa yang kau lakukan, apa kakimu sakit?" tanya Zafran kemudian.
Hana langsung membuka kedua matanya saat mendengar suara Zafran. Tubuhnya yang mungil membuat kepalanya tepat berada di punggung laki-laki itu.
"Ti-tidak, Tuan. Sa-saya hanya takut melihat kemarahan buk Myra," jawab Hana dengan tergagap.
"Kalau gitu lepaskan pegangan tanganmu ini, aku tidak bisa napas."
Hana membulatkan kedua matanya sambil menarik tangannya dari perut Zafran, dia benar-benar tidak sadar telah memeluk perut laki-laki itu.
"Ma-maafkan saya, Tuan," ucap Hana dengan wajah merah padam. Dia benar-benar merasa sangat malu dan tidak enak hati dengan apa yang baru saja dia lakukan.
Zafran menghela napas kasar. Dia lalu bertanya di mana rumah Hana dan memutuskan untuk melupakan apa yang terjadi barusan, juga melupakan keberadaan Myra yang saat ini sedang memakinya dengan kesal.
Sementara itu, di tempat lain terlihat Ryder sudah kembali ke tempat di mana dia hampir kehilangan nyawa. Matanya menatap tajam ke arah atas, tempat di mana pengait balok yang hampir menghantam kepalanya berada.
"I-ini-" Kedua pupil mata Ryder melebar saat melihat pengait yang sudah berada di depan matanya. Dia lalu mengangkat pengait itu agar bisa melihatnya dengan jelas.
"Pengait ini benar-benar terlihat sudah tua dan rapuh, bekas putusannya pun nampak jelas. Tapi, kenapa ucapan Zafran malah sebaliknya?" gumam Ryder dengan bingung.
Sesaat dia terdiam di tempat itu sambil memikirkan apa yang sebenarnya sedang terjadi saat ini, tanpa sadar jika ada sepasang mata yang sedang memperhatikan dari kejauhan.
"Cih, untung saja aku bergerak cepat. Jika tidak maka semua rencanaku akan hancur," gumam seorang laki-laki yang sedang mengintai Ryder. Dia tersenyum senang karena telah berhasil menukar pengait itu.
Tidak berselang lama, Ryder memutuskan untuk turun dari tempat itu dan berlalu pergi menemui Yara. Saat ini pikirannya sedang kalut, dan dia ingin melihat wajah wanita itu agar bisa berpikir dengan jernih.
Pada saat yang sama, Zafran sudah sampai di halaman sebuah rumah setelah berkendara sekitar 10 menit. Rumah itu tampak lebih besar dan mewah dibandingkan rumah yang di tempati oleh sang kakak.
"Terima kasih karena sudah mengantar saya, Tuan," ucap Hana setelah turun dari motor itu.
__ADS_1
Zafran menganggukkan kepalanya sambil memperhatikan rumah yang ada di hadapannya. Jarang sekali dia melihat ada rumah besar seperti rumah Hana di desa itu, karena rata-rata rumah yang ada di sana sangat sederhana sekali.
"Apa ini rumah orang tuamu?" tanya Zafran.
Hana mengangguk. "Ini rumah mendiang kakek dan nenek, lalu mereka-"
"Dari mana saja kamu?"
Ucapan Hana langsung terhenti saat mendengar seruan seseorang, dia langsung menoleh ke arah belakang dengan wajah pias, sementara Zafran juga melirik ke arah orang tersebut.
Dion menajamkan pandangannya dengan wajah penuh amarah melihat Hana bersama dengan laki-laki lain.
"Siapa dia, kenapa kau bersamanya?" tanya Dion dengan sarkas. Tangannya langsung menarik lengan Hana membuat wanita itu memekik kesakitan.
Hana mendesis menahan sakit dikakinya saat ditarik dengan kasar oleh Dion, sementara Zafran tampak menatap laki-laki itu dengan tajam karena mulai terpancing emosi.
"Kenapa kau diam? Apa kau-"
"Bagaimana dia bisa menjawab kalau kau menyakitinya seperti itu?" potong Zafran dengan cepat.
Dion langsung memalingkan wajahnya saat mendengar ucapan Zafran, sementara Hana terlihat panik saat melihat kemarahan calon suaminya itu semakin menjadi.
"Siapa kau, apa urusanmu dengan calon istriku, hah?" tanya Dion dengan penuh penekanan.
Zafran tersenyum tipis. "Aku tidak punya urusan apapun dengan calon istrimu itu, aku hanya orang lewat yang membantunya saat terluka."
•
•
•
__ADS_1
Tbc.