Takdir Cinta Yang Kau Pilih

Takdir Cinta Yang Kau Pilih
Bab 143. Kena Kau!


__ADS_3

Setelah mendengar semua cerita Ryder dan Zafran, Edward menugaskan semua anak buahnya untuk menyelidik Bayu. Bukan itu saja, dia bahkan kembali berurusan dengan polisi yang mengurus kasus kecelakaan putranya dulu.


Edward meminta agar pihak kepolisian kembali memeriksa kecelakaan putranya, tetapi secara rahasia. Tidak peduli walau dia harus mengeluarkan banyak uang, atau bahkan menghabiskan semua hartanya.


"Edwin," gumam Edward sambil mengusap foto putranya. Kedua matanya mulai menggantung mendung. "Sebenarnya apa yang terjadi, Nak. Kenapa kau menampakkan diri di hadapan Zafran, apa kau ingin menunjukkan sesuatu pada kami?" Dia mulai terisak.


Kematian Edwin begitu sangat mengguncang hidupnya. Setelah kematian sang istri puluhan tahun silam, dia hanya hidup berdua dengan putranya itu. Dia bekerja keras demi Edwin, sampai akhirnya kesuksesan menghampirinya dan dia menjadi orang terkaya di desa itu.


Namun, tiba-tiba Edwin terkena musibah yang sangat tragis. Mobil yang dikendarai putranya terperosok masuk ke dalam jurang dengan kedal*am*an sekitar 20 meter.


Mobil itu hancur tidak bersisa. Namun, mayat Edwin memang tidak ditemukan di mana pun walau sudah melakukan pencarian besar-besaran ditempat itu.


Polisi lalu menyatakan jika mungkin mayat Edwin terbawa arus sungai yang berada tidak jauh dari tempat itu, atau bahkan dimakan oleh binatang buas. Sampai akhirnya Edward hanya bisa ikhlas menerima semuanya.


"Jika memang ada yang sengaja melakukan hal buruk padamu, maka ayah sendiri yang akan membunuhnya, Nak. Ayah akan membunuh orang yang sudah melukaimu," ucap Edward dengan wajah merah padam berselimut luka.


*


*


Tidak terasa, waktu sangat cepat berlalu. Pagi sudah berubah menjadi siang, dan siang juga sudah berganti dengan sore.


Para masyarakat terlihat sangat antusias untuk menghadiri acara perpisahan yang diadakan oleh Yara dan rekan-rekannya. Bukan hanya itu saja, mereka bahkan menyiapkan hadiah kenang-kenangan untuk masyarakat.


Ryder dan Zafran juga sudah berada di tempat itu. Setelah berperang dengan waktu, Zafran berhasil mengumpulkan segala kejahatan yang Bayu lakukan. Dia bahkan sudah menggabungkan semua tayangannya bak sebuah film yang nanti akan ditonton oleh semua orang, agar masyarakat tahu jika selama ini Bayu adalah manusia bermuka dua.


Edward juga hadir dalam acara perpisahan itu, dan kehadirannya langsung disambut oleh Rayder dan Zafran.


"Selamat datang, Pak. Mari, silahkan." Ryder langsung mengajak Edward untuk duduk dikursi yang telah disiapkan. Namun, sebelum itu dia harus memamerkan Yara dulu pada laki-laki paruh baya itu.

__ADS_1


"Selamat datang, Pak," ucap Yara. Dia lalu menyalim tangan Edward sebagai tanda bahwa menghormati laki-laki itu.


Edward tersenyum sambil menatap Ryder penuh makna. "Anda pasti menipu saya 'kan, Tuan Ryder? Bagaimana mungkin wanita berwajah bidadari ini kekasih Anda?"


Semua orang yang mendengar ucapan Edward tertawa lucu, sementara Ryder tampak mencebikkan bibirnya.


"Tentu saja dia kekasih saya. Lihat kedua matanya itu, jelas ada cinta yang sangat besar untuk saya di sana," ucap Ryder dengan tidak punya malu.


Wajah Yara langsung memerahbak kepiting rebus saat mendengar ocehan Ryder, sementara Edward langsung tertawa terbahak-bahak melihat kepedean Ryder yang setinggi langit-langit.


"Ya ya ya, saya melihatnya," sahut Edward. "Tapi Nona, Anda harus hati-hati dengan kekasih Anda itu, kareba dia adalah seorang lelaki bermulut manis bak gula. Anda bisa kena diabetes nanti."


Yara menggelengkan kepalanya sambil terkekeh pelan. "Kalau begitu saya akan selalu mengingatnya, Pak." Dia lalu mempersilahkan Edward untuk duduk dikursi bersama yang lainnya.


Setelah semuanya berkumpul di tempat itu, acara pun segera dimulai dengan dipandu oleh Yara sendiri. Acara di awali dengan kata-kata sambutan dari orang-orang penting yang ada di tempat itu. Baik kepala desa, Edward, dan bahkam Ryder juga turut memberikan kata-kata sambutan.


"Terima kasih pada para petugas medis yang telah membantu dan memberikam banyak ilmu untuk semua masyarakat, kami tidak akan bisa membalasnya. Kami do'akan agar para Dokter dan suster sukses di mana pun berada, juga diberikan kesehatan. Walau baru pertama kali ini saya bertemu dengan Anda semua," ucap Edward saat memberikan kata-kata sambutan.


Edward juga mengucapkan terima kasih pada Ryder karena telah mengurus dan mengembangkan perkebunan serta pabrik dengan sangat baik. Dia merasa bangga pada kerja keras dan kemampuan laki-laki itu, bahkan dia sendiri tidak bisa melakukannya.


"Saya jadi teringat dengan mendiang putra saya. Apa Anda semua juga masih mengingatnya?"


Semua orang langsung bersorak iya saat mendengar pertanyaan Edward. Tentu saja mereka masih ingat dengan sosok ramah dan suka menolong itu, bahkan mereka juga merasa sedih saat mendengar tentang kematian Edwin.


"Dulu Edwin selalu berkata akan membuat perkebunan teh dan pabrik miliknya berkembang pesat, juga ingin memajukan kehidupan di desa ini. Sekarang, keinginan putraku itu terwujud melalui Ryder. Melalui laki-laki hebat yang dikirim oleh Tuhan ke desa ini," sambung Edward.


Tepuk tangan yang sangat meriah masyarakat berikan untuk Ryder, karena memang semua yang Edward katakan itu adalah benar. Tidak ada lagi anak-anak yang kelaparan di desa itu, bahkan perekonomian setiap rumah tangga mulai membaik.


"Semoga Edwin tenang di alam sana, tenang berada dipangkuan Tuhan," ucap Edward dengan penuh harap. "Dan semoga orang-orang jahat yang telah menyakitinya juga mendapat ganjaran dari Tuhan."

__ADS_1


Deg.


Semua orang merasa kaget saat mendengar ucapan terakhir Edward, begitu juga Ryder dan Zafran.


"Putraku orang yang sangat baik, tetapi ada saja manusia terkutuk yang berbuat hal buruk padanya. Aku bersumpah pasti akan membunuh dan membalas dendam atas kematiannya," sambung Edward sebelum menutup sambutannya.


Semua orang langsung riuh mendengar semua ucapan Edward. Mereka langsung berspekulasi di sana sini, sementara Zafran terus memperhatikan Bayu yang tampak panik.


Wajah Bayu berubah pias saat mendengar ucapan Edward. Keringat dingin mulai mengucur deras di keningnya, bahkan dadanya juga sedang berdebar kencang.


"Apa, apa yang terjadi? Kenapa dia kembali membahas tentang kematian Edwin?" Bayu menjadi gelisah. Kakinya tidak bisa diam dan tampak bergerak ke sana sini dengan kedua tangan saling bertautan.


Zafran tersenyum sinis. Kini dia yakin sekali jika Bayu benar-benar ada hubungannya dengan kematian laki-laki bernama Edwin itu.


"Dasar bod*oh. Kau menggali lubang kematian untukmu sendiri," gumam Zafran. Dia lalu mengirim pesan pada Edward agar semua anak buah laki-laki terus mengawasi Bayu, jangan sampai laki-laki itu melarikan diri. Mereka memang sempat bertukar nomor ponsel saat bertemu di rumah tadi.


Yara lalu kembali mengambil alih acara dan mencoba untuk menenangkan orang-orang. Dia segera memulai acara yang selanjutkan agar perhatian semua tidak lagi terarah pada apa yang Edward katakan.


Beberapa jam kemudian, acara demi acara berjalan dengan baik walau sempat riuh karena ucapan Edward. Namun, Yara berhasil mengembalikan fokus semua orang.


"Kini, masuklah kita ke acara yang terakhir. Yaitu pembagian hadiah untuk anak-anak, juga ada hadiah kenang-kenangan untuk semua orang," ucap Yara membuat semua orang bertepuk tangan dengan senang.


Para petugas medis dibantu oleh beberapa orang masyarakat tampak membagikan hadiah-hadiah itu pada semua orang. Jangan ada satu pun orang yang tidak kebagian.


"Sambil menunggu hadiah dibagikan, saya ingin memberikan tontonan film yang sangat menarik sekali. Tolong fokuskan perhatian Anda ke layar monitor yang ada di depan."



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2