Takdir Cinta Yang Kau Pilih

Takdir Cinta Yang Kau Pilih
Bab 196. Lawan Saja Kalau Berani.


__ADS_3

Orang-orang langsung menoleh ke arah kanan saat mendengar ucapan seseorang, begitu juga dengan Dion yang langsung membelalakkan kedua matanya saat melihat sosok lelaki yang saat ini ada di hadapannya.


"Tu-tuan Zafran?" ucap Dion dengan tergagap.


Ternyata Via sempat menelepon Zafran saat tadi Dion menghampiri mereka. Walaupun dia hanya diam dan tidak bicara, tetapi Zafran sangat paham dengan apa yang sedang terjadi karena mendengar seorang lelaki sedang memarahi Hana.


Zafran yang saat itu sedang berada tidak jauh dari tempat di mana mamanya berada segera menyuruh Junior melacak ponsel sang mama, mereka lalu segera pergi saat sudah tahu di mana mamanya berada.


Buak.


Tanpa mengatakan apa-apa, Zafran langsung melayangkam tinjunya ke wajah Dion membuat laki-laki itu terhuyung ke belakang. "Beraninya kau berkata kasar pada mamaku dengam mulut busukmu itu!" Bentaknya dengan tajam.


Semua orang tersentak kaget dengan apa yang Zafran lakukan, terutama Via dan Hana yang tercengang dengan kedua mata membelalak lebar.


Dion memegangi sudut bibirnya yang terluka akibat bogeman Zafran, dia lalu kembali berdiri tegak sambil melirik ke arah laki-laki itu.


"Kenapa Anda memukul saya?" tanya Dion dengan suara tertahan, menahan emosi dan amarah yang mulai membara.


Zafran tersenyum sinis. "Aku bukan hanya akan memukulmu, tapi juga memotong lidahmu yang telah berkata kasar pada orangtuaku."


Dion menelan salivenya dengan kasar saat mendengar ucapan Zafran, begitu juga dengan semua orang yang merasa merinding mendengar ancaman laki-laki itu.


"O-orangtua?" gumam Dion dengan tergagap sambil melihat ke arah Via. Benarkah wanita itu adalah orangtua Zafran? "Dia orangtua Anda?" Tanyanya dengan kaget.


Zafran mengangguk. "Dia orangtuaku, tapi dengan lancangnya kau menghinanya dengan kata-kata kasarmu."


Buak.


Zafran kembali melayangkan tinjunya ke wajah Dion yang masih terkejut saat mengetahui jika wanita yang bersama Hana adalah orangtuanya, bahkan sampai membuat tubuh Dion tersungkur ke atas tanah.


Darah segar mengalir dari sudut bibir Dion yang robek akibat dua kali menerima tinju dari Zafran, sampai akhirnya dia tidak bisa lagi menahan diri dan bergegas membangunkan tubuhnya sambil menatap laki-laki itu dengan tajam.

__ADS_1


"Kenapa orangtuamu bisa bersama dengan istriku, apa kalian yang sudah menculiknya?" tuduh Dion dengan sarkas membuat semua orang langsung berbisik-bisik.


Kedua tangan Zafran kembali mengepal kuat dan ingin sekali menghajar Dion sampai laki-laki itu tamat, karena dia tidak sudi untuk menjelaskan apapun pada Dion.


"Tidak, kami tidak menculik istrimu. Tapi istrimu sendirilah yang ingin bersama dengan kami," ucap Via.


Dion langsung tersenyum tipis mendengar ucapan Via. "Ingin bersama dengan kalian?" Serunya dengan sinis. "Siapa kalian? Dia sama sekali tidak mengenal kalian, bagaimana mungkin dia ingin bersama dengan kalian jika kalian tidak menculiknya, hah?" bentak Dion dengan murka. "Pantas saja aku tidak bisa menemukannya, ternyata kalianlah yang telah menyembunyikan istriku. Lihat saja, aku akan melaporkan kalian semua ke kantor polisi!" ancamnya.


Zafran tergelak mendengar ancaman Dion, sementara Hana tampak menggelengkan kepalanya dengan wajah pias.


"Tidak, mereka tidak menculikku. Aku sendiri yang ingin bersama dengan mereka. Aku, aku tidak mau kembali bersamamu, aku tidak mau lagi menjadi istrimu," ucap Hana dengan panik. Dia tidak mau Via dan Zafran terkena masalah gara-gara membelanya.


Dion benar-benar murka mendengar ucapan Hana. Tidak, dia yakin jika wanita itu tidak akan seberani ini jika tidak ada yang mempengaruhinya.


"Silahkan lapor polisi, dan lihat apa yang akan terjadi selanjutnya," ucap Zafran dengan tajam. Dia lalu mengajak mamanya dan Hana untuk pergi dari tempat itu.


"Tunggu, Hana!" teriak Dion dengan wajah merah padam melihat kepergian Hana.


Junior yang sejak tadi hanya diam sambil mengamati keadaan masih berdiri di tempat itu, dia yang melihat Dion akan menyusul Zafran segera menghentikannya.


"Minggir!" bentak Dion.


Junior tersenyum sinis. "Kau ingin mengejar mereka? Yakin, kau tidak akan menyesal jika keluargamu bisa hancur karenanya?" Dia berucap dengan tajam.


Dion mengepalkan kedua tangannya dengan erat dan dengan cepat melayangkan pukulan ke wajah Junior. Namun, Junior langsung menangkisnya dengan tangan membuat Dion terkesiap.


"Kekuatanmu hanya seujung kuku bagiku. Jika kau ingin mencobanya, maka coba saja. Maka aku tidak akan segan-segan untuk meremukkan seluruh tulang-tulangmu," ucap Junior dengan penuh penekanan.


Dion merinding mendengar ucapan Junior. Tiba-tiba dia merasa takut dengan laki-laki itu padahal dia masih merasa sangat marah.


"Lihat saja, aku pasti akan membalas kalian dan membawa Hana kembali padaku!" ucap Dion. Dia lalu berbalik dan pergi dari tempat itu dengan kesal. Namun, dia merasa bertanya-tanya kenapa Hana bisa bersama dengan mereka. Sebenarnya apa yang terjadi?

__ADS_1


Junior terkekeh melihat betapa pengecutnya Dion. Padahal laki-laki itu sudah memperlakukan Hana dengan buruk, tetapi baru digertak seperti itu saja sudah takut.


"Dasar pengecut," gumam Junior. Dia lalu berjalan ke arah mobil yang tadi digunakan oleh Via. terlihat supir menganggukkan kepala padanya lalu mereka segera pergi dari tempat itu.


Sepanjang jalan menuju rumah, Hana terus meminta maaf pada Via dan Zafran karena apa yang Dion lakukan. Dia juga meminta maaf karena sudah membuat keributan di deoan banyak orang, dan meminta maaf karena tidak bisa mengurus laki-laki itu.


"Kenapa kau minta maaf untuk perbuatan yang tidak pernah kau lakukan?" ucap Ryder dengan tajam membuat mamanya yang akan bicara mengurungkan niatnya. "Dia sudah dewasa dan bisa mempertanggungjawabkan semua perbuatannya sendiri, jadi kau tidak perlu meminta maaf atas namanya." Dia menatap lurus ke depan dengan wajah datar dan dingin.


Hana terdiam mendengar ucapan Zafran. Namun, dia meminta maaf bukan karena mewakili Dion, tetapi karena merasa tidak enak hati pada mereka. Gara-gara dia mereka harus berurusan dengan laki-laki itu.


"Zafran benar, Hana. Kau tidak perlu minta maaf, dan untuk ke depannya jangan pernah lagi meminta maaf jika terjadi hal seperti ini. Apa kau paham, hem?" tanya Via.


Hana menganggukkan kepalanya. Entah apa lagi yang akan Dion lakukan, semoga tidak terjadi hal buruk pada Zafran dan semua keluarga laki-laki itu.


Setelah mengantar mamanya dan Hana pulang, Zafran langsung kembali ke perusahaan tanpa turun dari mobil. Dia harus segera mengurus masalah Dion sebelum laki-laki itu membuat masalah.


Hana menatap kepergian Zafran dengan sendu. Padahal dia ingin mengucapkan terima kasih, tetapi laki-laki itu sama sekali tidak turun dari mobil. Bahkan raut wajah Zafran terlihat sangat dingin dan menyeramkan.


"Apa dia marah?" gumam Hana dengan bingung. Tidak mau ambil pusing, dia bergegas masuk ke dalam rumah untuk membersihkan diri. Setelah itu berkutat di dapur untuk menyiapkan menu makan malam.


Sementara itu, di tempat lain terlihat Zayyan sedang duduk di pinggir jalan bersama dengan motor kesayangannya. Dia sedang menunggu temannya membeli buku di toko yang berada tidak jauh dari tempatnya saat ini, dan malas sekali jika ikut masuk ke dalam toko buku tersebut.


Tidak berselang lama, sebuh mobil mewah berwarna merah tampak berhenti di samping Zayyan membuatnya merasa heran dan bertanya-tanya. Kenapa mobil itu berhenti di sampingnya sementara masih banyak tempat yang lain?


Sedetik kemudian keluarlah seorang wanita dari dalam mobil tersebut. "Zayyan!"




__ADS_1


Tbc.


__ADS_2