Takdir Cinta Yang Kau Pilih

Takdir Cinta Yang Kau Pilih
Bab 200. Kekuatan Sedekah.


__ADS_3

Jean langsung mencubit lengan River membuat suaminya tergelak. "Jangan bicara sembarangan!" Tegurnya dengan kesal. Namun, ada kesedihan yang terlihat kedua matanya karena sampai saat ini belum hamil.


"Maaf, aku hanya becanda," ucap River sambil memeluk tubuh sanh istri dengan erat. Dia tahu jika istrinya pasti memikirkan tentang anak.


"Aku tahu. Hanya saja rumah ini pasti akan ramai jika ada tangisan seorang bayi," sahut Jean dengan lirih.


River tersenyum. "Ada atau tidaknya bayi itu tidak penting, yang penting adalah kita kita hidup sehat dan bahagia. Urusan anak biarlah Tuhan yang memberi jika waktunya sudah tepat."


Jean mengangguk paham. Dia lalu memejamkan kedua matanya dan mencoba untuk tidur, sementara River mengusap puncak kepala sang istri dengan sayang.


*


*


Keesokan harinya, seperti biasa Zafran pergi ke perusahaan bersama dengan sang papa. Namun, dia memutuskan untuk membawa mobil sendiri karena akan hari ini akan pulang cepat.


Sesampainya di perusahaan, Zafran segera menuju ruang kerjanya. Beberapa karyawan yang berpapasan dengannya menyapa dengan ramah, dan dibalas dengan senyuman manisnya.


"Selamat pagi, Tuan," sapa Junior yang sudah lebih dulu sampai ke perusahaan.


Zafran menganggukkan kepalanya. "Bagaimana, apa kau sudah menemukan gurunya?" Dia langsung bertanya perintahnya tadi malam.


"Sudah, Tuan. Dia akan datang ke sini jam sebelas nanti," jawab Junior.


Zafran mengangguk senang, dia lalu meneruskan langkahnya menuju ruangan untuk mengerjakan pekerjaan hari ini. Apalagi nanti dia pulang cepat jadi harus menyiapkan semuanya sebelum pukul empat.


Beberapa jam kemudian, Junior membawa seorang lelaki paruh baya ke dalam ruangan Zafran. Laki-laki itu adalah guru lukis yang sudah terkenal di mana-mana, itu sebabnya dia meminta agar datang ke perusahaan.


"Silahkan duduk," ucap Zafran dengan ramah sambil mempersilahkan lelaki paruh baya itu untuk duduk.


"Terima kasih, Tuan. Saya merasa terhormat karena bisa bertemu dengan Anda," sahut lelaki bernama Arvin.


Zafran tersenyum. "Saya yang harus mengucapkan terima kasih karena Anda sudah bersedia datang ke sini. Langsung saja, saya ingin Anda menjadi guru privat untuk seseorang. Apa Anda bersedia?" Dia langsung menjelaskan tujuannya memanggil Arvin tanpa basa-basi.


Arvin mengangguk. "Tentu saja, Tuan. Tapi saya harus bertemu dengan calon murid saya dulu agar tahu bagaimana kemampuannya, supaya bisa menyiapkan paket pembelajaran yang tepat."

__ADS_1


Zafran tersenyum senang. Sebelumnya, dia sudah membaca data diri Arvin yang menurutnya sangat baik, apalagi kemampuan laki-laki itu sudah diakui oleh para seniman yang lain.


"Baiklah. Besok Anda boleh datang ke rumah saya dan bertemu langsung dengannya. Dia wanita yang sangat berbakat, jika Anda memberikan pengetahuan yang memadai dan rajin berlatih, saya yakin dia akan menjadi pelukis yang hebat," ucap Zafran.


Arvin merasa bersemangat saat mendengar ucapan Zafran. Jika orang sehebat laki-laki itu saja sudah mengakui bakat calon muridnya, itu artinya orang tersebut benar-benar berbakat.


"Baik, Tuan. Besok siang saya akan datang ke rumah Anda dan melihatnya secara langsung, saya tidak akan mengecewakan Anda," sahut Arvin.


Zafran lalu mengulurkan tangannya sebagai tanda kerja sama mereka dan dibalas dengan Arvin. Kemudian mereka mulai membahas masalah gaji, dan juga waktu untuk melakukan les melukisnya.


Sementara itu, di tempat lain terlihat Hana sedang menonton televisi seorang diri. Kedua pembantu Via sedang pergi ke pasar untuk membeli kebutuhan pribadi mereka, sementara Via sendiri sedang menemani sahabatnya ke suatu tempat.


"Aku bosan," gumam Hana sambil menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa.


Selama berada di rumah keluarga Zafran, dia terlalu banyak istirahat dari pada bekerja. Berbanding terbalik dengan saat dia berada di rumah Dion, bahkan dulu dia sama sekali tidak bisa istirahat.


Hana lalu mematikan televisi itu dan beranjak pergi menuju kamar. Dia memutuskan untuk melukis dari pada tidak mengerjakan apa-apa, hitung-hitung sebagai latihan supaya lebih mahir lagi.


Hana membawa peralatan melukisnya ke taman yang ada di samping rumah. Tidak lupa membawa minuman dan sekotak kue agar tidak bolak-balik masuk ke dalam rumah.


Hana lalu memutuskan untuk melukis Via, wanita paruh baya yang masih sangat cantik dan modis walau sudah berumur lebih dari lima puluh tahun. Wanita baik hati yang sudah menerima dan memperlakukannya dengan lembut, bahkan Via mendukungnya secara penuh dan memperbolehkannya tinggal di rumah ini.


Hana memejamkan kedua matanya untuk sejenak, mencoba mengingat setiap inci wajah Via yanh cantik dan mempesona. Setelah cukup, dia mulai mencoret kanvas putih itu sesuai dengan apa yang sedang dipikirkan.


Pada saat yang sama, Via masih berada di mal bersama dengan salah satu sahabatnya. Sebenarnya dia ingin mengajak Hana, tetapi saat tahu sahabatnya sedang ada masalah, dia jadi mengurungkan niat itu karena sahabatnya pasti tidak nyaman jika bersama dengan orang lain.


"Sebenarnya ada masalah apa, Jessy?" tanya Via dengan khawatir.


Wanita yang bernama Jessy itu terdiam, dia lalu mengambil sesuatu dari dalam tasnya dan memberikannya pada Via.


"Aku hamil, Via. Aku hamil," seru Jessy sambil tersenyum bahagia.


Via tercengang saat melihat tespek yang Jessy berikan padanya, lalu tersentak kaget saat mendengar ucapan wanita itu.


"Ya ampun. Selamat, Sayang," ucap Via dengan mata berkaca-kaca. Dia langsung memeluk Jessy dengan bahagia.

__ADS_1


Setelah menunggu selama sepuluh tahun, akhirnya jessy hamil dan usia kehamilannya sudah masuk sembilan minggu.


"Aku ikut senang dengan kabar ini, Jessy," sambung Via sambil melepaskan pelukannya. Sebelumnya dia merasa khawatir karena katanya Jessy sedang ada masalah, ternyata wanita itu memberikan kabar baik seperti ini.


"Terima kasih, Via. Aku merasa sangat bahagia dengan kehamilan ini," ucap Jessy dengan terisak.


Via menepuk bahu sang sahabat dengan lembut dan mencoba untuk menenangkannya, dia sangat paham dengan apa yang wanita itu rasakan saat ini.


"Untuk merayakannya, hari ini aku akan mentraktir apapun yang kau inginkan. Ayo, kita habiskan uang suamiku!" ajak Jessy sambil menghapus air matanya.


Via menggelengkan kepalanya mendengar ajakan Jessy. "Aku bisa diamuk sama mister Roy nanti."


"Enggak-enggak. Aku sudah bilang padanya, dan dia memperbolehkanku untuk membeli apapun yang kau inginkan. Dia benar-benar senang dengan kehamilanku ini. Terima kasih atas saran yang kau ucapkan waktu itu, Vi. Aku merasa kehamilan ini berkat saran darimu," ucap Jessy dengan mata berkaca-kaca, merasa sangat beruntung karena punya sahabat seperti Via.


Via tersenyum. "Kehamilan itu berkat dari Tuhanmu, Jessy. Aku hanya memberi saran untuk kebaikanmu saja, dan ternyata Tuhan mengabulkan keinginanmu."


Jessy mengangguk. Selama satu tahun belakangan, dia dan sang suami rutin mengunjungi panti asuhan sesuai dengan saran Via. Wanita itu memberi saran agar mereka rajin bersedekah pada anak-anak yang kurang beruntung dan mengasihi mereka, mana tau do'a dari anak-anak itu lebih cepat dikabulkan oleh Tuhan.


Ternyata apa yang Via katakan benar-benar menjadi kenyataan. Saat ini Jessy dinyatakan hamil setelah sepuluh tahun membina rumah tangga bersama sang suami, dan semua itu sangat membahagiakan sekali.


"Aku juga akan merayakannya bersama dengan anak-anak panti. Jadi hari ini aku juga ingin memberi hadiah untuk mereka. Apa kau membantu?" tanya Jessy.


"Tentu saja. Ayo, kita cari hadiah yang bagus untuk mereka!"


Kedua wanita itu lalu berbelanja dengan sangat bersemangat. Mereka membeli berbagai hadiah untuk anak-anak panti dan juga untuk mereka sendiri.


Langkah Via terhenti saat melewati toko handphone. Tiba-tiba dia teringat dengan Hana yang tidak memiliki ponsel dan ingin membelinya untuk wanita itu.


"Hana pasti menyukainya."




__ADS_1


Tbc.


__ADS_2