
Dion terkesiap saat mendengar ucapan Zafran, dia tidak menyangka jika laki-laki itu akan berkata dengan tajam dan penuh kemarahan seperti itu, memangnya apa urusannya dengan Zafran?
"Jangan salah paham. Aku sama sekali tidak peduli dengan istrimu, aku hanya tidak suka dengan tingkah lakumu yang menganggap orang lain seperti sampah. Padahal kau sendirilah yang seperti binatang," sambung Zafran dengan sarkas dan menohok.
Kedua tangan Dion terkepal erat karena merasa tersinggung dengan ucapan Zafran. Dasar bangs*at, berani sekali laki-laki itu mengatainya binatang! Namun, dia tidak bisa melakukan apa-apa karena takut dengan kekuasaan Zafran.
"Ma-maaf, Tuan. Saya tidak akan mengulanginya lagi," ucap Dion dengan suara tertahan sambil menahan emosi yang mulai membara dalam jiwanya.
Tanpa menanggapi ucapan Dion, Zafran langsung melangkah pergi dari tempat itu, begitu juga dengan Junior yang ikut pergi bersama dengan sang tuan.
Namun, langkah Junior terhenti saat berdiri tepat di hadapan Dion membuat laki-laki itu menajamkan pandangannya.
"Tolong jaga sikap Anda di hadapan tuan Zafran, Tuan. Jangan sampai Anda menyesal nanti," ucap Junior dengan pelan. Namun, ucapannya penuh dengan penekanan membuat Dion menelan salivanya dengan kasar. Dia sangat paham dengan ancaman yang Junior berikan padanya.
Junior lalu melanjutkan langkah kakinya tanpa menunggu jawaban Dion, dia merasa puas melihat wajah laki-laki itu berubah pias karena dia juga tidak suka dengan apa yang Dion lakukan.
Sementara itu, di tempat lain terlihat Hana sedang menyandarkan tubuhnya di dinding rumah sakit bagian samping. Dia sengaja sembunyi dari Dion karena tidak ingin melihat laki-laki itu.
Tubuh Hana lalu terduduk di pinggiran lantai karena kakinya kembali berdenyut sakit. Dia tidak sanggup lagi untuk berdiri dan memutuskan untuk berada di tempat itu sampai sedikit membaik.
Helaan napas frustasi terdengar sampai beberapa kali, bahkan tatapan mata Hana tampak kosong dengan wajah pucat pasi bak tidak teraliri oleh darah.
Hana lalu memejamkan kedua mata karena benar-benar merasa lelah dengan kehidupannya. Selama ini dia sudah berlaku baik dan menuruti semua ucapan mereka, tetapi kenapa mereka tetap memperlakukannya dengam buruk seperti ini? Apakah dia memang pantas diperlakukan layaknya hewan?
"Tuhan, kenapa tidak kau cabut saja nyawaku." lirih Hana dengan getir, ingatannya lalu kembali pada kejadian beberapa saat yang lalu hingga membuat kakinya terluka.
__ADS_1
Beberapa jam yang lalu, Hana sedang fokus mengerjakan pekerjaan rumah seperti biasa. Namun, tiba-tiba sang mertua menjerit dan memanggilnya untuk datang ke kamar.
Dengan terburu-buru, Hana segera naik ke lantai dua menuju kamar sang mertua. Napasnya tersengal-sengal akibat berlari menaiki anak tangga, lalu terlihat mertuanya sedang duduk di atas ranjang.
Dengan santai, wanita itu menyuruh Hana untuk membereskan lemari pakaian yang terlihat berantakan karena dia mengambil pakaian dengan tidak hati-hati.
Hana yang sudah panik saat mendengar jeritan itu tentu saja merasa emosi. Bisa-bisanya sang mertua berteriak hanya karena pakaian yang berantakan, padahal yang membuat pakaian itu berantakan adalah mertuanya sendiri.
Hana lalu mengatakan jika akan membereskan pakaian itu nanti karena sedang mengepel lantai. Jika tidak dilanjutkan, maka ditakutkan seseorang akan terjatuh saat melewatinya.
Reny langsung murka mendengar ucapan Hana. Tanpa merasa kasihan, dia langsung menjambak rambut wanita itu hingga Hana memekik kaget dan sakit secara bersamaan.
Tidak hanya itu saja, cacian dan makian kembali Reny layangkan untuk Hana. Padahal wanita itu tidak menolak perintahnya, melainkan tunggu sebentar karena ada pekerjaan lain.
Dengan cepat Hana mendorong tubuh Reny agar melepaskan cengkraman tangannya, dan dia tidak sengaja membuat wanita itu terjatuh ke lantai.
Amarah Reny semakin menjadi-jadi, begitu juga dengan Dion yang sedang berusaha bangun dari lantai. Ternyata laki-laki itu terpeleset dan jatuh ke lantai dengan kuat karena licin, itu sebabnya dia langsung memanggil Hana dengan penuh kemurkaan.
Hana yang merasa panik dan bingung segera melanjutkan langkahnya untuk menemui sang suami, dia lalu terkejut saat melihat celana Dion basah dibagian belakang.
Tanpa bertanya terlebih dahulu, Dion langsung meluapkan amarahnya pada Hana karena sudah membuatnya terjatuh, ditambah Reny juga yang semakin memanaskan suasana.
Hana yang merasa sangat frustasi dan tidak tahan dengan keadaan memutuskan untuk lari dari rumah. Persetan dengan semuanya, dia benar-benar tidak sanggup lagi berada di rumah itu.
Namun, kaki Hana tidak sengaja tersandung karpet saat berlari hingga membuat tubuhnya menabrak guci mewah kesayangan Reny yang langsung hancur berkeping-keping.
__ADS_1
Reny merasa semakin murka melihat semua itu. Dengan cepat dia mengangkat kursi yang terbuat dari kayu lalu membantingkannya ke tubuh Hana, hingga mengenai kaki wanita itu.
Dia terus melakukannya secara berulang-ulang tanpa peduli dengan teriakan kesakitan Hana, sampai akhirnya Dion terpaksa menghentikan perbuatan sang mama.
Hana mengusap wajahnya saat kembali teringat dengan siksaan itu, sungguh rasanya sangat sakit sekali. Baik untuk tubuhnya, juga untuk jiwanya.
Sekarang Hana tidak ingin lagi kembali ke rumah itu, tetapi dia merasa bingung ingin pergi ke mana. Tidak mudah hidup seorang diri di tengah kota yang sangat maju itu, apalagi dia tidak mengenal siapapun selain Dion dan keluarga laki-laki itu.
Ingin sekali Hana kembali ke desa, tetapi ayah dan ibu tirinya nanti pasti akan kembali menyiksanya, bahkan akan kembali mengirimnya pada Dion.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang, Ibu? Kenapa Ibu tidak membawaku pergi?" gumam Hana dengan getir. Matanya menatap ke arah jalanan di mana banyak kendaraan sedang berlalu-lalang.
Yah, mungkin hanya ada satu pilihan saja untuknya saat ini, yaitu mati. Mungkin dengan meninggalkan dunia ini, dia tidak lagi akan mengalami perlakuan buruk dari orang-orang.
Dengan perlahan Hana bangkit dari ranjang dan berjalan ke arah jalanan. Dia terus berjalan lurus ke depan tanpa peduli dengan banyaknya kendaraan yang sedang melaju kencang.
"Awas!"
•
•
•
Tbc.
__ADS_1