Takdir Cinta Yang Kau Pilih

Takdir Cinta Yang Kau Pilih
Bab. 47. Pengusiran Para Dokter.


__ADS_3

Rosa langsung menganggukkan kepalanya membuat kedua lelaki itu beranjak pergi dari sana, dia lalu ambruk ke atas lantai dengan menahan rasa sakit disekujur tubuh. Terutama bagian bawahnya yang terasa berdenyut sakit.


*


*


Keesokan harinya, Aidan terbangun saat merasakan getaran ponsel yang berada di bawah tangannya. Perlahan dia beranjak duduk sambil memegangi kepala yang terasa sangat pusing.


Aidan lalu mengambil benda pipih itu dan mengangkat panggilan dari seseorang.


"Halo,"


"Kau ada di mana, Aidan?"


Aidan tersentak kaget saat mendengar suara teriakan dari sang ibu, kemudian dia kembali mendekatkan benda pipih itu ke telinga setelah dijauhkan saat mendengar teriakan yang cetar membahana tadi.


"Em ... ada apa, Bu? Sebentar lagi aku pulang."


Aidan merenggangkan otot-otot tubuhnya yang terasa sangat kaku, kemudian dia menyandarkan tubuhnya ke sofa karena kepalanya benar-benar sangat sakit.


"Sebentar lagi apanya? Ini sudah siang, Aidan. Apa kau sudah berangkat ke kantor?"


Aidan mengernyitkan kening lalu menurunkan ponselnya untuk melihat sudah jam berapa saat ini, dia sedikit kesulitan untuk melihatnya karena jarum jam itu terasa berputar-putar tidak jelas.


"Apa kau mendengar ibu, Aidan?"


Nova kembali berteriak dari sebrang telepon. Sejak semalam dia menunggu kepulangan putranya setelah mencari di mana keberadaan Yara, tetapi laki-laki itu malah tidak kembali sampai detik ini.


"Astaga!"


Brak.


Aidan langsung menjatuhkan ponselnya saat sudah berhasil melihat jam, dan ternyata sekarang sudah pukul 10 pagi. Dia lalu menoleh ke arah jendela di mana matahari sudah bersinar terang.


"Rosa, Rosa!"


Aidan berteriak untuk memanggil Rosa sambil kembali memakai pakaiannya, tetapi wanita itu tidak juga menampakkan diri membuatnya berdecak kesal.


"Apa dia sudah ke kantor?"


Aidan lalu menyambar ponselnya yang berada di lantai dan bergegas keluar dari apartemen itu. Dia berjalan gontai sambil berpegangan pada dinding karena kepalanya benar-benar berat, apalagi baru pertama kali dia meminum minuman beralkohol dan langsung mabuk parah.


Aidan terpaksa menaiki taksi karena tidak bisa mengendarai mobilnya sendiri, dia kemudian pergi dari tempat itu menuju rumah.


Beberapa saat kemudian, Aidan sudah sampai di halaman rumahnya dan bergegas masuk ke dalam rumah tersebut.

__ADS_1


Jeglek, jeglek.


Berulang kali Aidan mencoba untuk membuka pintu rumah itu, tetapi pintunya terkunci dari dalam membuatnya semakin kesal saja.


"Bu, buka pintunya Bu!" teriak Aidan sambil mengggedor pintu rumah itu, dia harus segera bersiap untuk pergi ke perusahaan.


"Tuan Aidan?"


Aidan lalu membalikkan tubuhnya saat mendengar suara seseorang, dan terlihat penjaga kebun di rumahnya yang lama sedang berdiri di tempat itu.


"Loh, apa yang bapak lakukan di sini?" tanya Aidan dengan bingung.


Laki-laki paruh baya itu mengernyitkan kening dengan bingung juga. "Saya memang disuruh untuk menjaga rumah ini oleh nona Yara, Tuan. Tapi maaf, apa yang sedang Anda lakukan di sini?"


Aidan langsung mendongakkan kepalanya untuk melihat bangunan rumah yang ada di hadapannya saat ini, dan dia baru sadar jika sedang berada di rumah lamanya bersama dengan Yara.


"Si*al! Kenapa aku malah ke sini sih?"


Aidan berdecak kesal dengan kebod*ohan yang telah dilakukan. Dia lalu berbalik dan langsung pergi dari tempat itu tanpa menjawab pertanyaan laki-laki paruh baya yang sedang menatapnya heran.


"Apa yang terjadi dengan tuan Aidan? Dia terlihat sangat kacau dan tubuhnya juga bau, sepertinya bau itu berasal dari minuman beralkohol."


Laki-laki paruh baya itu melihat kepergian Aidan dengan nanar. Padahal dulu laki-laki itu selalu rapi dan juga ramah pada semua orang, tetapi saat ini Aidan terlihat sangat tidak terurus.


Dia lalu segera mengambil ponselnya untuk menelepon sang nona, dia harus memberitahu wanita itu tentang apa yang Aidan lakukan.


"Baiklah Pak, terima kasih sudah memberitahuku ya. Kalau gitu aku tutup dulu, assalamu'alaikum."


Yara langsung mematikan panggilan itu saat sudah mendengar jawaban salam dari orang yang meneleponnya, kemudian dia kembali meletakkan benda pipih itu ke atas meja.


"Ada apa, Yara? Semua baik-baik saja 'kan?" tanya Mahen membuat Yara langsung melihat ke arahnya.


"Tidak ada apa-apa, Pa. Tadi Pak Amri nelepon, terus dia mengatakan jika ada orang yang datang ke rumah."


Mahen mengangguk-anggukkan kepalanya, tetapi dia melihat seperti ada sesuatu yang sedang Yara pikirkan. Namun, dia memilih diam karena mungkin ada sesuatu yang sedang putrinya itu pikirkan.


Suara adzan maghrib berkumandang untuk memberitahukan semua umat islam jika sudah saatnya masuk waktu shalat. Yara dan keluarganya yang lain bubar dari ruangan itu untuk mengerjakan shalat, baik di kamar maupun di mushalla yang ada di rumah itu.


Selesai shalat, Yara lalu menengadahkan tangannya untuk berdo'a pada yang maha kuasa. Dia meminta ampunan atas segala dosa yang telah dilakukan, tidak lupa dosa-dosa semua keluarganya juga.


Setelah selesai, Yara segera melipat mukena dan juga sajadahnya lalu meletakkan alat shalat itu di atas ranjang. Ucapan dari penjaga rumahnya tadi benar-benar mengganggu pikiran, benarkah Aidan berkeliaran seperti itu dalam keadaan mabuk?


Yara lalu menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan segala pikiran yang tidak penting. Dia hanya bisa berdo'a semoga Aidan baik-baik saja.


Sementara itu, di rumah sakit pelita harapan terlihat Ryder sudah sadar setelah koma beberapa saat. Para dokter segera memeriksa keadaannya, untuk memastikan bahwa kondisi laki-laki itu baik-baik saja.

__ADS_1


"Di mana dia?"


Para Dokter yang sedang memeriksa keadaan Ryder merasa bingung saat mendengar pertanyaan laki-laki itu.


"Maaf, Tuan. Apa Anda mencari seseorang?"


Ryder menganggukkan kepalanya. "Mana dokter yang menolongku?"


Semua orang saling pandang saat mendengar ucapan Ryder. "Apa yang Anda maksud itu Dokter yang menolong Anda pada saat-"


"Iya. Dia mana dia?"


Belum sempat Dokter itu menyelesaikan ucapannya sudah langsung dipotong oleh Ryder. Dia sudah merasa kesal karena harus terus bertanya tanpa mendapat jawaban.


"Maaf, Tuan. Dokter itu tidak ikut kemari,"


"Kenapa? Dia kan juga seorang Dokter."


Ryder menatap mereka semua dengan tajam membuat suasana berubah tegang. Para perawat memilih mundur karena tidak ingin berurusan dengan laki-laki sepertinya.


"Maaf, Tuan. Dokter itu tidak bekerja di rumah sakit ini, jadi beliau tidak berada di sini."


Ryder langsung berdecak kesal saat mendengarnya. "Baiklah. Kalian bisa keluar sekarang."


Deg.


Semua orang langsung menegang saat mendengar ucapan Ryder. Apakah mereka sudah membuat kesalahan, sehingga diusir seperti itu?


"Maafkan kami jika sudah membuat kesalahan, Tuan," ucap Dokter senior yang ada di ruangan itu, tentu saja dia harus maju mewakili yang lainnya.


Ryder menghela napas berat sambil mencoba untuk duduk, tentu saja apa yang dia lakukan itu membuat semua orang berubah panik.


"Aku tidak akan mati hanya karena duduk," ucap Ryder sambil menepis tangan salah Dokter yang memegangi pahanya. Naik sedikit saja sudah pasti tangan lucknut itu menyentuh pusakanya yang berharga.


"Anda masih harus banyak istirahat, Tuan. Kondisi Anda masih belum stabil, dan kita juga masih harus memperhatikan efek samping dari operasi semalam,"


"Bukannya aku sudah menyuruh kalian semua keluar?"


Semua orang langsung terkesiap saat lagi-lagi diusir oleh laki-laki itu, sementara Ryder menatap mereka dengan tajam.


"Aku hanya mau dirawat oleh dokter itu."



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2