
Ryder tercengang saat mendengar ucapan Yara, seketika dia melerai pelukan wanita itu lalu memegang bahu Yara dengan tatapan tidak percaya.
"Apa, apa itu benar?" tanya Ryder dengan bibir gemetar, bahkan jantungnya berdegup kencang seolah ingin melompat keluar dari rongga dada.
Yara menganggukkan kepalanya. Dia lalu memberikan tespek yang sejak tadi dia pegang pada Ryder agar suaminya itu bisa melihat sendiri hasil pemeriksaannya.
"Dua garia berwarna merah itu tandanya aku senang hamil, Mas. Aku, aku sedang mengandung anak kita," ucap Yara dengan terisak haru.
Ryder langsung tersenyum lebar dengan mata berkaca-kaca saat mendengar ucapan Yara. Dengan cepat dia kembali memeluk istrinya itu dengan erat dan luapan kebahagiaan yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata.
"Kau hamil, Sayang. Kau hamil anak kita, buah cinta kita," seru Ryder dengan haru. Air mata tampak menetes dari sudut matanya.
Yara kembali menganggukkan kepalanya sampai beberapa kali. Dia lalu melerai pelukan mereka dan meletakkan kedua tangan Ryder diperutnya.
"Benar, Mas. Allah telah memberikan kepercayaan kepada kita, Allah memberikan buah hati yang kita harapkan," ucap Yara dengan sendu.
Seketika tubuh Ryder terjatuh ke lantai dan bersimpuh di hadapan Yara membuat wanita itu tersentak kaget. "Apa, apa yang terjadi Mas?" Wajahnya berubah pias.
Ryder menggelengkan kepalanya sambil mengusap perut Yara yang masih rata, dan berada tepat di depan wajahnya.
"Terima kasih karena sudah memberikan kepercayaan besar ini pada kami, ya Allah. Terima kasih," ucap Ryder dengan penuh syukur membuat hati Yara yang semula cemas berubah lega. "Aku janji akan selalu menjaga istri dan calon buah hati kami. Aku mohon lindungilah mereka, ya Allah." Dia memeluk perut Yara dengan erat.
Yara tersenyum haru mendengar ucapan Ryder. Dia lalu meminta laki-laki itu untuk kembali berdiri dan kini mereka kembali saling berhadapan.
"Kita akan menjaganya dengan baik, Mas. Insyaallah Allah akan selalu melindungi calon anak kita ini," ucap Yara sambil mengusap perutnya dengan lembut.
Ryder mengangguk. Dia lalu membawa Yara ke ranjang dan mendudukkan wanita itu di sana. Mulai sekarang Yara tidak boleh banyak beraktivitas, karena bisa membuat wanita itu kelelahan dan berakibat buruk untuk buah hati mereka.
"Aku seorang dokter, Mas. Aku tahu apa yang harus dilakukan seorang ibu hamil," ucap Yara saat mendengar larangan-larangan suaminya.
"Walau kau seorang dokter, tetap tidak ada bedanya dengan yang lain, Sayang. Pokoknya kau tidak boleh mengerjakan apapun, cukup istirahat dan makan yang teratur saja," sahut Ryder dengan penuh penekanan.
__ADS_1
Yara hanya diam sambil menghela napas kasar. Sepertinya Ryder akan menjadi sangat posesif dengan kehamilannya, tetapi biarlah. Semua itu suaminya lakukan juga demi kebaikannya.
Setelah mengetahui Yara hamil, Ryder langsung memerintahkan pembantu untuk menyiapkan makanan yang sehat dan bergizi untuk sang istri dan calon anak mereka.
Para pembantu ikut senang saat mendengar kabar kehamilan sang nyonya. Namun, Ryder tidak memperbolehkan mereka untuk memberitahu warga desa sebelum dia sendiri yang mengumumkannya.
"Aku ingin meminta bantuan pada kalian agar ikut menjaga dan mengawasi istriku, juga memastikan makanan untuknya sehat dan bergizi," pinta Ryder.
Dua orang pembantu dan satu tukang kebun mengangguk paham mendengar ucapan Ryder. Mereka pasti akan ikut menjaga dan memastikam keadaan nyonya rumah itu baik-baik saja, karena mereka juga merasa sangat senang dengan kabar kehamilan Yara.
Setelah bicara dengan para pembantu, Ryder kembali ke kamar sambil membawa jus dan omlete untuk Yara. Terlihat sang istri sedang bermain ponsel karena tidak diperbolehkan turun dari ranjang.
"Kau sedang apa, Sayang?" tanya Ryder sambil berjalan masuk ke dalam kamar.
Yara yang akan menghubungi orangtuanya beralih melihat ke arah sang suami. Dia tersenyum senang melihat Ryder membawakan makanan dan minuman untuknya.
"Aku kan bisa makan di dapur, Mas. Gak perlu dibawa ke kamar seperti ini," ucap Yara sambil menggelengkan kepalanya. Walau dia merasa senang dengan perhatian Ryder, tetapi dia tidak mau terlalu menyusahkan laki-laki itu.
"Kau harus banyak istirahat, Sayang. Tidak baik kalau naik turun tangga," sahut Ryder sambil meletakkan makanan dan minuman yang dia bawa ke atas meja. Dia lalu kembali mengambil makanan itu dan bermaksud untuk menyuapi sang istri.
Ryder mengangguk. "Ya sudah. Bagaimana kalau kita hubungi semua orang dan memberitahu tentang kehamilanmu?"
Yara langsung menganggukkan kepalanya dengan semangat, karena memang itulah yang akan dia lakukan tadi sebelum Ryder masuk ke dalam kamar.
Yara lalu menghubungi sang papa untuk memberitahukan kabar kehamilan itu, tidak lupa menghubungi orangtua Ryder dan juga papa kandungnya untuk memberikan kejutan yang pasti akan membuat mereka semua bahagia.
"Ada apa, Sayang? Tumben nelepon jam segini," tanya Vano saat panggilan video call itu sudah terhubung. "Loh, tersambung dengan mertuamu juga?" Dia mengernyit heran saat melihat Eric.
Eric yang melihat Vani juga merasa heran, karena untuk pertama kalinya mereka melakukan panggilan video call bersama-sama seperti ini.
"Sebentar yah Pa, aku ingin menghubungi papa Mahen dulu," ucap Yara.
__ADS_1
"Memangnya ada apa, Sayang? Kau baik-baik saja 'kan?" tanya Vano dengan cemas.
Yara mengangguk, dia lalu tersenyum saat papa Mahen menjawab panggilan Videonya. "Halo Papa semua, aku sangat merindukan kalian."
Vano, Eric, dan Mahen menggelengkan kepala mereka saat mendengar ucapan Yara. "Papa juga merindukanmu, Nak? Kau dan Ryder baik-baik saja 'kan?" tanya Mahen.
Yara langsung menjawab bahwa keadaannya dan Ryder baik-baik saja, mereka bahkan merasa sangat baik saat ini.
"Aku ingin memberitahukan sesuatu pada Papa semua, tapi aku tidak mengganggu 'kan?"
Vano, Eric, dan Mahen langsung menggelengkan kepala mereka secara bersamaan karena memang sedang berada diperusahaan masing-masing. Walau mereka sibuk sekalipun, tetap Yara yang nomor satu dan pekerjaan apapun bisa dikerjakan nanti.
"Ada apa, Yara? Apa Ryder menyakitimu?" tanya Eric dengan khawatir. Jangan-jangan putranya kembali membuat ulah.
"Apa maksud Papa? Aku tidak mungkin menyakiti Yara!" ucap Ryder dengan tidak terima.
"Yah mana tau 'kan, kau kembali gila," sahut Eric sambil terkekeh, begitu juga dengan Vano dan Mahen.
"Tidak, Pa. Ryder tidak menyakitiku, dia malah memperlakukanku dengan sangat baik," ucap Yara membela sang suami, membuat ketiga papanya merasa lega. "Bukan hanya baik, dia bahkan berhasil menitipkan benihnya kepadaku."
Vano, Eric, dan Mahen merasa bingung mendengar ucapan Yara membuat Ryder tergelak karena merasa lucu melihat ekspresi wajah ketiga papanya.
"Apa, apa maksudmu, Nak? Apa kau sedang hamil?" tanya Mahen, membuat Vano dan Eric tersentak kaget.
"Benar, Pa. Aku sedang hamil."
"Apa?"
•
•
__ADS_1
•
Tbc.