
Seluruh tubuh Hana bergetar saat mendengar ucapan sang suami. Entah sudah berapa kali Dion mengatakan hal seperti itu, tetapi tetap saja hatinya terasa perih bak teriris sembilu. Apakah dia memang pantas mendapatkan semua kebencian ini?
"Kau lihat keluargamu? Ayahmu sendiri tidak peduli padamu, apalagi ibu tiri dan saudara tirimu. Hanya kami yang peduli dan menyayangimu, tapi kenapa kah malah bersikap kurang ajar seperti ini?" ucap Dion kembali dengan tajam.
Kedua tangan Hana mengepal kuat mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Dion. Hatinya teras sakit, tetapi dia tidak bisa membantah ucapan laki-laki itu karena semua yang Dion katakan adalah benar.
"Jika bukan karena kami, mungkin kau sudah hidup dijalanan dan tidak dipedulikan. Kami memberikanmu tempat yang layak, makanan dan minuman, juga kasih sayang untukmu. Tapi balasan seperti ini yang kau berikan, apa kau layak membangkak dengan suami yang sudah sangat baik padamu?"
Ingin sekali Hana menutup telinganya rapat-rapat dan berlari pergi sejauh mungkin dari tempat ini agar tidak lagi mendengar ucapan Dion. Namun, dia harus pergi ke mana? Dia tidak mengenal siapapun, bahkam keluarganya sendiri pun tidak peduli. Mungkin memang hanya keluarga Dion saja yang peduli padanya walau harus merasakan sakit seperti ini.
"Kenapa diam, apa kau tidak punya mulut untuk bicara, hah?" bentak Dion dengan tatapan tajam.
Hana menggelengkan kepalanya. "Ma-maaf, maafkan aku. Aku, aku tidak akan mengulanginya lagi." Yah, hanya kata-kata maaf sajalah yang bisa dia ucapkan.
Dion lalu menarik tangan Hana membuat wanita itu tersentak kaget hingga tubuh mereka saling merapat. "Aku mencintaimu, aku hanya ingin kau patuh dan tidak banyak bicara. Itu 'kan, yang seharusnya dilakukan oleh seorang istri?"
Hana mengangguk sambil menggigit bibirnya sendiri. Lalu kedua matanya membelalak lebar saat tiba-tiba Dion melummat bibirnya dengan kasar dan menuntut, jika sudah seperti ini maka dia harus siap melayani keinginan laki-laki itu.
"Apa yang Dion katakan memang benar. Dia sudah menerimaku dan memberikan semua ini untukku, siapalah aku tanpa dia. Bahkan keluargaku saja tidak menganggapku ada, mungkin takdirku memang sudah seperti ini."
Kedua mata Hana terpejam menerima segala perbuatan yang suaminya berikan. Sesaat kemudian, suara rintihan dan errangan menggema di tempat itu. Keringat mengucur deras diseluruh tubuhnya, bahkan tubuh itu berguncang hebat karena Dion melakukannya dengan sangat kasar.
Sementara itu, di tempat lain terlihat Zafran dan Junior sudah sampai di perusahaan. Setelah mengantar mobilnya untuk diperbaiki, Zafran segera menuju perusahaan bersama dengan sang asisten.
__ADS_1
Perasaan kesal masih menyelimuti hati Zafran hingga membuat para karyawan yang melihat raut wajahnya tidak berani menyapa, sementara Junior hanya diam sambil menerka-nerka sebenarnya apa yang sedang terjadi dengan tuannya saat ini.
"Haha, energi terasa habis karena apa yang terjadi tadi. Aku jadi tidak mood untuk bekerja," gumam Zafran sambil mendudukkan tubuhnya ke kursi.
Junior yang ikut masuk ke dalam ruangan Zafran mendekati laki-laki itu. "Tuan, boleh saya menanyakan sesuatu pada Anda?"
Zafran langsung melirik ke arah Junior dengan tajam. "Aku tahu apa yang ingin kau tanyakan, Junior. Tapi saat ini aku malas menjawabnya." Dia lalu menyandarkan kepalanya yang berdenyut sakit.
Junior mengangguk paham. Dia lalu pamit untuk keluar dari tempat itu menuju ruangannya sendiri walaupun merasa sangat penasaran dengan apa yang terjadi.
"Sebenarnya apa yang terjadi, kenapa mobil tuan bisa sampai menabrak pembatas jalan?" guman Junior saat sudah sampai di dalam ruangannya
Tadi dia sempat bertanya pada Zafran tentang apa yang terjadi, tetapi laki-laki itu hanya berkata jika menabrak pembatas jalan saja.
Setelah hampir satu jam berdiam diri di dalam ruangan, akhirnya pikiran Zafran kembali tenang dan dia mulai mengerjakan pekerjaan yang sudah menumpuk di meja kerjanya.
Banyak sekali pekerjaan yang harus Zafran selesaikan menyangkut proyek baru yang akan berjalan, apalagi papanya dan dewan direksi yang lainnya menyerahkan semua tanggungjawab itu kepadanya.
Tidak berselang lama, tiba-tiba terdengar dering ponsel Zafran yang ada di dalam saku membuat fokusnya terganggu. Dia berdecak kesal karena ada saja yang mengganggu pekerjaannya, hingga memutuskan untuk mengabaikan panggilan tersebut.
Namun, panggilan itu tetap saja berlanjut membuat Zafran mau tidak mau melihat siapakah yang sejak tadi sibuk menghubunginya.
"Mau apa dia menelponku?" gumam Zafran saat melihat nama seseorang tertera dilayar monitor benda pipih itu.
__ADS_1
Zafran lalu menjawab panggilan masuk dari salah satu teman kuliahnya dulu. "Halo."
"Halo Zaf, apa aku menganggumu?" ucap seorang lelaki disebrang telepon. Dia adalah salah satu teman kuliah Zafran dulu bernama Frans.
"Tentu saja, inikan jam kerja," jawab Zafran tanpa basa-basi membuat Frans tertawa.
"Ayolah, Zaf. Sudah lama kita tidak saling bertemu, apa kau tidak merindukanku?" tanya Frans dengan nada menggoda.
"Cih, aku sama sekali tidak merindukanmu!" sahut Zafran dengan telak. "Kalau tidak ada kepentingan, lebih baik ku-"
"Tunggu, tunggu sebentar!" teriak Frans saat mengetahui jika Zafran akan mematikan panggilannya, membuat laki-laki itu sampai menjauhkan ponsel itu dari telinga.
"Kenapa kau berteriak, apa kau mau membuat telingaku pecah?" omel Zafran dengan kesal. Telinganya terasa berdenyut akibat teriakan laki-laki itu. "Cepat katakan apa maumu, atau kumatikan panggilan ini!"
Frans kembali tertawa sambil mengumpati Zafran karena laki-laki ittu selalu saja mematikan panggilannya. "Iya-iya. Dengar, nanti malam aku mengadakan pesta dan kau harus datang."
•
•
•
Tbc.
__ADS_1