
Aidan membulatkan matanya saat melihat siapa yang berdiri di ambang pintu, dia lalu tersentak kaget saat laki-laki itu menarik bajunya dan langsung melayangkan pukulan.
Buak.
Aidan terjungkal ke belakang karena mendapat bogem mentah di wajahnya, darah segar mengalir dari sudut bibirnya yang pecah akibat pukulan itu.
"Dasar laki-laki biad*ab! Beraninya kau melakukan ini di belakang kakakku!"
Ya, ternyata Zafran lah yang masuk ke dalam unit apartemen itu. Dua hari yang lalu, dia mengantar salah satu temannya pulang ke unit apartemen yang berada tepat dilorong yang sama dengan unit apartemen ini.
Dia yang berniat pulang setelah mampir sebentar ke unit apartemen temannya, dikejutkan saat melihat Aidan keluar dari salah satu unit apartemen yang ada di tempat itu juga.
Matanya semakin menajam saat melihat seorang wanita berdiri di pintu sambil melambaikan tangan pada Aidan.
Sejak saat itu dia menyelidiki tentang apa yang Aidan lakukan di unit apartemen seorang wanita, dia mendapatkan semua informasi siapa pemilik apartemen itu, dan mendapatkan rekaman cctv jika Aidan selalu datang menemui wanita bernama Rosa yang merupakan rekan kerja laki-laki itu.
Zafran merasa sangat marah, darahnya mendidih saat mengetahui semua itu. Dia lalu kembali datang menemui temannya dan berniat untuk menunggu Aidan di tempat itu. Lalu ternyata dugaannya benar, laki-laki itu kembali datang ke apartemen Rosa.
"Kau benar-benar brengs*ek!"
"Hentikan, Zaf. Kau salah paham, aku tidak-"
Buak.
Zafran kembali melayangkan pukulan-pukulannya sampai membuat Aidan babak belur, sementara Rosa berteriak untuk menghentikannya membuat orang-orang yang ada disekitar apartemen memperhatikan mereka.
"Hentikan! Apa kau mau membunuh Aidan?" teriak Rosa sambil menarik tangan Zafran agar melepaskan cengkramannya dari leher Aidan.
"Ya. Aku akan membunuh bajing*an ini!"
Petugas keamanan yang datang ke tempat itu segera menarik Zafran dan berusaha memisahkannya dari Aidan.
"Hentikan semua ini atau kami akan melaporkannya pada polisi!" ancam salah satu dari petugas keamanan.
__ADS_1
"Minggir kalian semua! Laporkan saja aku pada polisi, dan bilang pada mereka bahwa aku membunuh laki-laki brengs*ek itu!" Zafran menunjuk tepat ke arah Aidan yang wajahnya sudah bersimbah darah.
"Tenangkan dirimu, Zaf. Kau bisa benar-benar membunuhnya!" ucap Kenzi, dia adalah teman Zafran.
Zafran menghela napas kasar dengan pandangan yang masih menatap tajam. "Kau lihat saja bajing*an, aku pasti akan benar-benar membunuhmu!" Dia lalu berbalik dan keluar dari tempat itu dengan diikuti oleh Kenzi.
Aidan hanya bisa diam sambil menahan rasa sakit disekujur wajahnya, sementara petugas keamanan membubarkan orang-orang yang berkerumun di tempat itu.
"Ayo kita ke rumah sakit, Ai!" ajak Rosa dengan khawatir.
Aidan menggelengkan kepalanya. "Tidak. Aku harus segera pulang."
Petugas keamanan lalu bertanya tentang apa yang terjadi, lalu apakah ingin melaporkannya pada polisi atau tidak.
"Tidak apa-apa, Pak. Laki-laki tadi adalah adik ipar saya, dia hanya salah paham sehingga membuatnya marah seperti itu."
Rosa tampak terkejut saat mengetahui jika laki-laki yang menghajar Aidan tadi adalah adik iparnya. "Tunggu, itu artinya dia adalah adiknya Yara?" Entah kenapa dia merasa senang, karena jika Yara mengetahuinya kedekatannya dengan Aidan, maka wanita itu dan Aidan pasti akan kembali bertengkar.
Setelah itu petugas keamanan pergi dari tempat itu, begitu juga dengan Aidan walaupun Rosa terus memaksanya untuk ke rumah sakit.
Zafran terus saja mengumpat untuk mengeluarkan segala amarahnya. Jika tidak ada yang menghentikannya tadi, maka dia pasti akan benar-benar membunuh Aidan.
"Tenangkan dirimu, Zaf. Mau sampai kapan kau seperti ini terus?" Kenzi berusaha untuk menenangkan temannya, tetapi tetap saja tidak mempan.
Zafran lalu menghempaskan tubuhnya dengan kasar ke atas ranjang sampai membuat tubuh Kenzi terpental ke atas.
"Dasar. Untung ranjang ini kuat, jika tidak pasti sudah roboh kena pantatmu itu."
Kenzi langsung menutup mulutnya rapat-rapat saat melihat lirikan tajam dari Zafran, tentu saja dia tidak berani lagi untuk berkomentar.
"Tapi Zaf, bagaimana dengan Mbak Yara? Apa kau akan memberitahukan semua ini padanya?"
Benar, Zafran belum memikirkan tentang kakaknya. Tentu saja dia akan mengatakan semua itu pada Yara, tetapi bagaimana dia mengatakannya? Dia pasti tidak akan sanggup memberikan bom seperti ini pada sang kakak.
__ADS_1
"Aku pasti akan mengatakannya, Ken. Pasti."
Walau bagaimana pun, Zafran akan tetap mengatakannya. Sejak awal dia sudah tidak suka dengan sikap Aidan pada kakaknya, apalagi ditambah dengan perselingkuhan laki-laki itu. Tentu dia akan menjadi garda terdepan untuk menghancurkannya.
"Baiklah. Aku juga akan membantumu untuk mengatakannya jika Mbak Yara tidak percaya,0 tapi bukti yang kita punya sudah cukup untuk menjelaskan tentang perselingkuhan kakak iparmu itu."
Zafran menganggukkan kepalanya, dia lalu pamit pulang untuk memikirkan bagaimana cara untuk memberitahu semua perbuatan Aidan pada sang kakak.
Aidan yang saat ini sudah sampai di rumah membuat ibunya hampir terkena serangan jantung. Wanita paruh baya itu sangat terkejut saat melihat luka yang ada di wajahnya.
"Apa yang terjadi padamu, Aidan? Siapa, siapa yang melakukan semua ini?" Nova benar-benar sangat terkejut saat melihat keadaan Aidan.
Aidan menghela napas kasar lalu mendudukkan tubuhnya ke atas sofa. "Aku akan cerita nanti, Bu. Sekarang obati wajahku dulu."
"Sebentar, biar ibu suruh Yara pulang supaya bisa mengobati wajahmu,"
"Tidak. Jangan katakan apapun padanya, Bu. Aku tidak mau dia tahu keadaanku."
Nova memandang Aidan dengan heran. Seharusnya putranya itu minta bantuan Yara sebagai seorang Dokter, tapi kenapa Aidan malah tidak mau?
"Sebenarnya ada apa, Aidan? Kenapa kau tidak mau Yara tahu tentang semua ini?" Nova semakin dibuat penasaran.
Aidan berdecak kesal saat mendengar pertanyaan sang ibu. Dia sudah menahan sakit diwajahnya, sekarang harus menahan kekesalan juga.
"Sudahlah, Bu. Pokoknya aku tidak mau kalau sampai Yara tau,"
"Tau apa, Mas?"
•
•
•
__ADS_1
Tbc.