Takdir Cinta Yang Kau Pilih

Takdir Cinta Yang Kau Pilih
Bab. 92. Definisi Diam-diam Menghanyutkan.


__ADS_3

Ryder dan Bayu menoleh ke arah kiri saat mendengar panggilan seseorang, terlihat kepala desa sedang melambaikan tangan ke arah mereka berdua.


"Bayu, sini sebentar!" teriak laki-laki paruh baya itu kembali dengan memanggil nama yang berbeda.


Yara yang masih berada di dalam kamar kembali mendengar suara teriakan itu, dia lalu memukul keningnya karena telah salah dengar.


"Betulkan kalau aku salah dengar. Dasar telinga swasta," gerutu Yara sambil menggelengkan kepalanya. Dia lalu membongkar tas makeup miliknya untuk mengambil bedak agar wajahnya tampak segar.


Sementara itu, Bayu dan Ryder yang dipanggil oleh kepala desa terpaksa mendekat ke tempat itu. Mereka mengayunkan kaki dengan pelan, apalagi Ryder yang terlihat malas sekali untuk menghampiri mereka.


"Apa kalian baru pulang dari pabrik?" tanya laki-laki paruh baya bernama Seno, yang merupakan kepala desa di tempat tersebut.


"Iya, Pak," jawab Bayu sambil menganggukkan kepalanya, sementara Ryder hanya menganggukkan kepalanya saja untuk menjawab pertanyaan itu.


"Wah, sepertinya para petugas medis sudah datang ya Pak?" tanya Bayu kemudian, yang dijawab dengan anggukan kepala Seno.


"Iya benar, padahal tadi Bapak nungguin kalian supaya bisa menyambut mereka," ucap Seno. Kemudian dia beralih melihat ke arah Romi yang sejak tadi terus menatap Ryder. "Perkenalkan, Tuan. Ini Ryder." Dia memperkenalkan Ryder pada Romi.


"Jadi, Anda yang bernama Ryder?" tanya Romi sambil mengulurkan tangannya. "Nama saya Romi, saya Direktur di rumah sakit Griya."


Ryder membelas uluran tangan laki-laki itu. "Saya Ryder." Dia lalu melepaskan jabatan tangannya sambil tersenyum tipis.


"Saya sudah mendengar cerita tentang Anda. Saya benar-benar tidak menyangka jika Anda bisa menemukan trobosan untuk pengolahan teh baru seperti itu, benar-benar sangat hebat," ucap Romi dengan penuh pujian. Dia sendiri juga sudah mencoba teh yang laki-laki itu ciptakan, rasanya benar-benar enak dan hangat di tubuh.


"Anda terlalu berlebihan, Tuan. Saya hanya memberi saran saja, dan yang menjalankannya adalah masyarakat. Jadi mereka lah yang hebat," bantah Ryder membuat semua orang yang ada di sana tersenyum. Walau wajahnya selalu datar dan terkesan angkuh, tetapi dia selalu rendah hati membuat semua orang merasa suka.


Kemudian Seno dan Romi mengajak mereka untuk menikmati makan malam bersama dengan para petugas medis yang lain, tentu saja ajakan itu langsung ditolak secara halus oleh Ryder.

__ADS_1


"Maaf. Nenek saya sudah menyiapkan makanan yang lezat untuk saya, jadi saya akan makan bersama dengannya," ucap Ryder memberi alasan, padahal dia tidak tahu saat ini Weny sudah masak atau belum.


"Baiklah. Kalau gitu senang bisa bertemu dengan Anda, sampai jumpa di lain waktu," ucap Romi sambil kembali mengulurkan tangannya, dan tentu di balas oleh Ryder.


"Senang bertemu dengan Anda juga. Di sini banyak anak-anak yang terkena demam berdarah, dan masih kurangnya pengetahuan tentang kesehatan. Jadi terima kasih sudah datang ke desa ini." Ryder berucap dengan tulus dan sedikit mengulas senyum, membuat Romi tersenyum lebar sambil menganggukkan kepalanya.


Ryder dan Bayu lalu beranjak pergi dari tempat itu menuju rumah masing-masing. Terlihat Weny dan Domi sedang duduk di teras rumah, seperti sedang menunggu kedatangannya.


"Kenapa Nenek dan Kakek duduk di luar?" tanya Ryder sambil melepas sendal yang dia pakai, lalu berjalan masuk menghampiri mereka.


"Tidak ada, Nak. Cuma cari angin saja, di dalam panas," jawab Domi sambil tersenyum lebar. "Oh ya, bagaimana pekerjaan hari ini? Lancar?" Dia bertanya dengan penuh perhatian, sesuatu yang berhasil membuat hati Ryder mencair.


"Semua berjalan lancar, Kek. Pabrik baru saja mengikat kontrak kerja sama dengan suplier dari kota sebelah, dan mereka meminta banyak stok setiap bulannya tanpa pengembalian," ucap Ryder menjelaskan hubungan kerja sama yang baru terjalin hari ini.


Domi menepuk punggung Ryder lembut. "Kakek benar-benar bangga padamu, Nak. Terima kasih telah memajukan desa ini." Dia merasa sangat senang dengan apa yang Ryder lakukan.


"Oh iya, ini uang untuk belanja Kakek dan Nenek," ucap Ryder sambil mengambil sesuatu di dalam saku celananya, lalu memberikan seikat uang sejumlah 4 jutaan pada mereka.


Domi tersenyum saat melihat uang yang Ryder berikan untuknya dan sang istri. Sejak kedatangan laki-laki itu, mereka sama sekali tidak diperbolehkan untuk bekerja, dan setiap minggu selalu diberi uang dengan jumlah yang banyak.


"Uang yang semalam masih banyak, Nak. Jadi simpan saja uang itu untuk masa depanmu," ucap Domi. Walau bagaimana pun, Ryder harus memikirkan masa depannya sendiri. Apalagi laki-laki itu belum menikah dan punya anak.


"Aku sudah ada kok." Ryder menarik tangan Domi dan meletakkan uang itu dalam genggamannya. "Aku mau mandi dulu, apa Nenek sudah masak? Kalau belum kita beli di warung saja." Dia beranjak dari kursi dan berdiri di depan pintu.


"Sudah, nenek masak makanan kesukaanmu," jawab Weny sambil menganggukkan kepalanya. "Sekarang cepat mandi, nenek akan menyiapkan makanan untuk kita."


Ryder menganggukkan kepalanya dan segera masuk ke dalam rumah untuk membersihkan diri, perutnya sudah keroncongan minta di isi amunisi.

__ADS_1


Dari kejauhan, sejak tadi seorang lelaki terus memperhatikan rumah Domi. Dia tersenyum lebar saat melihat kedatangan Ryder, dan semakin menajamkan pandangannya agar bisa menatap laki-laki itu dengan jelas.


"Tuan."


Laki-laki itu membalikkan tubuhnya saat mendengar suara seseorang. "Bagaimana, apa kau sudah memeriksanya?"


"Sudah, Tuan. Sesuai dugaan kita, tuan Ryder sudah membeli setengah dari lahan perkebunan teh itu. Beliau juga sepertinya ingin mengambangkannya dan membangun perusahaan sendiri," ucap laki-laki itu menjelaskan sepak terjang Ryder selama hampir 7 bulan berada di tempat ini.


Laki-laki itu tersenyum saat mendengar apa yang sudah Ryder lakukan. Setidaknya perasaan bersalah dalam hatinya sedikit berkurang saat melihat laki-laki itu baik-baik saja, dan dikelilingi oleh orang-orang yang baik juga.


"Persiapkan semuanya sebelum kita kembali. Sepertinya Ryder bisa melihat peluang yang sangat besar di desa ini, itu sebabnya kita juga harus ambil bagian," ucap laki-laki itu dengan nada perintah.


"Baik, Tuan."


Mereka lalu beranjak pergi dari tempat itu menuju hotel di mana mereka menginap selama beberapa hari ke depan, dan berjarak 1 jam dari desa ini.


Setelah selesai makan, semua Dokter tampak berkumpul di ruang tengah sambil membahas kegiatan yang akan mereka mulai besok hari, begitu juga dengan Yara.


Namun, beberapa kali Lewis melihat Yara mengernyitkan kening karena menahan sakit dikakinya yang siang tadi terkilir.


"Ayo kita pergi ke tukang pijat yang ada di desa ini, Dokter Yara. Aku sudah bertanya pada Bunga, katanya ada tukang pijat yang bagus di sini. Namanya Nek Weny."




__ADS_1


Tbc.


__ADS_2