Takdir Cinta Yang Kau Pilih

Takdir Cinta Yang Kau Pilih
Bab. 74. Kemarahan Semua Keluarga.


__ADS_3

Ryder tersenyum tipis saat mendengar ucapan Yara, tetapi dia tetap berdiri tegak di tempat itu tanpa berniat untuk beranjak pergi.


"Kau pantas untuk marah, Yara. Karena apa yang aku lakukan benar-benar sudah sangat keterlaluan, dan aku sadar akan hal itu," ucap Ryder kemudian.


Yara melirik laki-laki itu dengan sinis. Jika Ryder memang tahu apa yang dilakukan itu keterlaluan, jadi kenapa tetap dilakukan? Sungguh dia benar-benar tidak habis pikir.


"Baiklah, aku sudah mengatakan apa yang ingin aku katakan. Dan aku juga sangat menyesalinya. Sesuai ucapanmu, mau memaafkan atau tidak semua itu adalah hakmu. Sekarang aku permisi." Ryder menganggukkan kepalanya sambil tersenyum hangat, senyum yang selama ini selalu dia berikan saat jantungnya berdebar-debar.


"Lalu kenapa, kenapa kau melakukan semua itu?"


Ryder yang sudah berbalik dan hendak melangkahkan kaki terpaksa mengurungkan niatnya saat mendengar suara Yara, dia menoleh dan tetap memberikan senyuman terbaik.


"Karena sejak awal niatku memang seperti itu, Yara. Sejak melihatmu, aku langsung terpesona dan berpikir untuk mendapatkanmu agar memenangkan pertaruhan itu. Tapi, lambat laun niatku berubah. Aku memang berniat untuk mendapatkanmu, tapi bukan untuk dijadikan bahan taruhan, melainkan untuk menjadi istri dan ibu dari anak-anakku."


Yara terdiam. Jantungnya kembali berdegup kencang, tetapi rasa sakit yang dia rasakan malah semakin terasa karena ucapan laki-laki itu.


"Semua wanita pasti akan bertekuk lutut saat mendengar ucapanmu," ucap Yara sambil memalingkan wajahnya.


"Yah, tentu saja. Tapi tidak untuk wanita baik yang ada di hadapanku saat ini." Ryder menarik napas panjang, lalu menghembuskannya secara perlahan. "Terima kasih sudah mau bicara padaku, sekarang aku pamit. Assalamu'alaikum." Dia langsung berbalik dan beranjak pergi dari tempat itu tanpa melihat ke belakang.


"Wa'alaikum salam," jawab Yara dengan lirih. Dia juga beranjak pergi dari tempat itu untuk kembali masuk ke dalam rumah, dengan menahan rasa sesak yang menghantam dada.


Ryder terus memperhatikan Yara dari dalam mobil. Senyum tipis terlihat di wajahnya, walau apa yang dia rasakan sangat bertolak belakang dengan raut wajahnya saat ini.


"Aku pikir kau tidak akan mau lagi bertemu denganku, Yara. Tapi ternyata aku salah. Semarah apapun, kau tetap mau bicara agar aku tidak membuat keributan di hadapan orang tuamu. Kau benar-benar wanita yang sangat baik."


Ryder mengusap wajahnya dengan kasar, kali ini dia benar-benar sudah salah langkah. Menyia-nyiakan Yara dan mengakiti wanita itu adalah kesalahan yang sangat besar, dia juga pasti akan menyesal seumur hidup karena sudah melakukan semua ini.

__ADS_1


"Tapi aku tidak akan menyerah, Yara. Aku akan menebus semua kesalahanku dan menjadikanmu milikku, aku berjanji tidak akan lagi membuatmu kecewa."


Ryder sudah bertekad akan kembali mengejar Yara. Kali ini dia akan mencurahkan seluruh hati, pikiran, jiwa dan juga raganya agar bisa mendapatkan wanita itu. Lihat saja, dia pasti akan kembali datang untuk menebus kesalahan yang telah dilakukan.


Setelah berbicara dengan Ryder, Yara kembali berkumpul dengan keluarganya yang masih setia menunggu di ruang keluarga. Terlihat jelas rasa penasaran diwajah papa dan juga mamanya, sementara raut wajah Zafran lebih kepada kemarahan dan khawatir.


"Maaf sudah membuat Mama dan Papa menunggu," ucap Yara sambil mendudukkan tubuhnya di sofa, tepatnya bersebelahan dengan sang mama.


"Bisa kau ceritakan apa yang terjadi dengan kalian, Yara? Bukankah selama ini semuanya baik-baik saja?" tanya Mahen dengan tajam.


Yara menghela napas kasar sambil menganggukkan kepalanya, kemudian dia menceritakan semua yang telah terjadi pada mama dan juga papanya.


Mahen dan Riani mendengarkan cerita Yara dengan khusyuk. Wajah mereka memerah penuh emosi, dengan gurat kecewa yang tampak jelas dari sorot mata mereka.


"Maaf karena sudah membuat masalah, Pa. Aku tidak-"


Semua orang tersentak kaget saat mendengar suara Mahen, apalagi saat melihat laki-laki itu sudah berdiri dengan kedua tangan terkepal erat.


"Tenanglah, Pa." Zafran ikut berdiri lalu menepuk bahu laki-laki itu.


"Kenapa kau tidak mengatakannya pada papa, Zafran? Kalau papa tau, papa pasti sudah menghajar wajahnya itu," ucap Mahen dengan kesal. "Berani sekali dia merendahkan putriku, dia pikir siapa dirinya itu!"


Mahen benar-benar murka, dia lalu beranjak pergi dari tempat itu menuju kamar membuat semua orang menatap dengan nanar.


"Kalian tenang saja, mama akan bicara dengan papa," ucap Riani, dia lalu pergi menyusul suaminya yang pasti sudah mengamuk di dalam kamar.


"Hah."

__ADS_1


Yara memijat kepalanya yang berdenyut sakit. Entah kenapa dia selalu saja menyusahkan dan membuat masalah untuk keluarganya, dan lihat sekarang. Semua orang jadi dipenuhi dengan kemarahan.


"Istirahatlah, Mbak. Aku sudah menyiapkan penerbangan untuk kita kembali ke London."


Yara langsung melihat ke arah Zafran yang masih duduk di tempat itu. "Kapan kita akan kembali?" Dia bertanya dengan cepat.


"Lusa. Aku sudah menyiapkannya, jadi Mbak harus banyak-banyak istirahat," jawab Zafran. Bukan bermaksud untuk lari dari masalah, tetapi mereka kembali karena paksaan dari sang papa.


Yara mengangguk paham lalu beranjak pergi menuju kamar. Dia melangkah dengan gontai dan penuh lelah, entah kenapa masalah terus saja membelit hidupnya di mana pun dia berada.


Sementara itu, di tempat lain terlihat Vano sedang duduk saling berhadapan dengan River. Setelah selesai rapat, dia menyuruh laki-laki itu untuk ke ruangannya.


"Lakukan apa saja untuk menghancurkan laki-laki itu, apa yang dia lakukan benar-benar sangat keterlaluan," perintah Vano. Dia merasa sangat geram dengan apa yang sudah terjadi pada putrinya.


River menghela napas kasar, dia sudah tahu apa yang terjadi dengan Yara setelah menelepon Zafran.


"Saya mengerti, Tuan. Saya pasti akan membalas apa yang Ryder lakukan, tapi jika menghancurkan keluarganya. Saya rasa butuh waktu yang panjang, karena Anda sendiri tau siapa tuan Eric yang sebenarnya."


Vano berdecak kesal saat mendengar ucapan River. "Baiklah, terserah kau mau melakukan apa. Yang pasti beri dia pelajaran yang tidak akan pernah dilupakan."





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2