Takdir Cinta Yang Kau Pilih

Takdir Cinta Yang Kau Pilih
Bab. 32. Rencana Membawa Pergi.


__ADS_3

Semua orang merasa emosi saat mendengar cerita Via, terutama Vano dan juga Mahen yang sampai menggebrak meja membuat yang lain terlonjak kaget.


"Aku pasti akan mengoyak mulutnya menjadi dua!"


Glek.


Semua orang menelan salive mereka saat mendengar ucapan Zafran, dia tampak sangat emosi sama seperti papanya dan juga Mahen.


"Te-tenanglah." Yara mencoba untuk menangkan semua orang. "Dia tidak akan berani lagi melakukan hal itu. Lagi pula mama sudah membuatnya tidak bisa berkutik."


Semua orang langsung melihat ke arah Via dengan tidak percaya. Memangnya wanita lemah lembut dan pemaaf sepertinya bisa melawan pelakor?


"Jangan menatapku seperti itu. Seorang ibu pasti akan melawan siapa saja yang mencoba untuk menyakiti putrinya, termasuk aku."


Vano menganggukkan kepalanya sambil tersenyum bangga. Pantas saja hari ini dia terkena amukan dari sang istri, ternyata disebabkan oleh kemarahan pada wanita ular itu.


"Itu bagus, Vi. Setidaknya wanita itu bisa berpikir  untuk tidak lagi mengganggu Yara."


Via menganggukkan kepalanya. Apapun yang terjadi, dia pasti akan berdiri di samping anak-anaknya untuk melindungi mereka dari orang-orang yang berniat buruk.


Setelah selesai makan malam, semua orang bubar barisan ke tempat masing-masing. Yara memutuskan untuk langsung istirahat karena merasa lelah dengan apa yang terjadi hari ini.


Via dan kedua putranya juga masuk ke dalam kamar masing-masing, sementara Vano dan juga Mahen duduk di ruang keluarga.


"Dasar perempuan kurang ajar. Memang siapa dia, sampai berani memperlakukan putriku seperti itu?"


Mahen masih saja emosi dengan apa yang terjadi pada Yara, begitu juga dengan Vano yang terus mengepalkan tangannya dengan erat.


"Aku sama sekali tidak tertarik dengan wanita yang sudah merusak rumah tangga Yara, karena wanita itu tidak akan bisa menjadi orang ketiga jika Aidan tidak menginginkannya. Tapi sekarang tidak lagi," ucap Mahen kemudian.


"Kau tenang saja, Kak. Aku sudah menyuruh River untuk mencari tahu siapa wanita itu sebenarnya. Dia sudah berani menganggu Yara, itu artinya dia juga siap jika aku menghancurkan hidupnya."

__ADS_1


Mahen menganggukkan kepalanya sambil menepuk bahu Vano. "Aku mengandalkanmu, Vano."


Tentu saja Vano akan mengerahkan semua kemampuannya untuk menghancurkan orang lain yang mengusik keluarganya dia bahkan sudah tidak sabar menunggu saat-saat seperti itu.


"Oh ya Van, bagaimana jika Yara ikut bersama kakak ke indonesia? Kakak ingin dia menenangkan diri di sana, dan supaya mereka tidak bisa mengganggunya lagi."


Vano terdiam saat mendengar ucapan sang kakak. Dia bukannya ingin melarang, hanya saja semua keputusan ada di tangan Yara sendiri.


"Kau adalah ayahnya, Kak. Tentu kau bisa membawanya pergi ke mana pun yang kau inginkan. Hanya saja semua itu tergantung Yara, jika dia mau ikut maka aku juga tidak masalah."


Mahen kembali mengangguk dengan senang. Besok dia akan mengatakan semua itu pada Yara dan juga Via, dia berharap agar sang putri mau ikut tinggal bersamanya.


*


*


*


Keesokan harinya, semua orang tampak sibuk dengan urusan masing-masing. Mahen dan Vano sudah berangkat ke perusahaan, dan Yara juga sedang bersiap untuk membuka kliniknya.


Yara mengemudikan mobilnya menuju klinik. Sebelumnya dia sudah memberitahu Ambar dan karyawan yang lain jika hari ini klinik mereka buka kembali.


Sesampainya di klinik, Yara menghembuskan napas kasar saat melihat Aidan sudah berada di tempat itu. Sepertinya laki-laki itu memang sengaja menunggunya. Lihat, sekarang Aidan sedang berjalan ke arahnya begitu melihat dia keluar dari mobil.


"Bisakah kita bicara sebentar, Yara?" Aidan menatap Yara dengan sayu membuat wanita itu membuang muka.


"Maaf, Mas. Saat ini aku sedang sibuk."


Yara lalu berjalan ke arah klinik di mana sudah ada karyawannya di sana. Namun, langkahnya terpaksa terhenti saat tangannya di cekal oleh Aidan.


"Apa yang kau lakukan, Mas?" tanya Yara dengan tajam.

__ADS_1


"Bicaralah denganku, Yara. Ada hal penting yang-"


Yara mengibaskan tangan Aidan dengan kasar membuat ucapan laki-laki itu terhenti. "Hentikan, Mas. Aku sudah tidak ingin membicarakan apapun lagi denganmu. Jadi aku mohon jangan menemuiku lagi!"


Aidan menatap Yara dengan nanar. Sepertinya keputusan wanita itu untuk berpisah dengannya sudah bulat, hingga dia tidak diberi kesempatan lagi untuk bicara.


"Aku mohon pikirkan sekali lagi, Yara. Aku mohon pikirkan tentang pernikahan kita, bukankah kita masih saling mencintai?"


Yara tertawa getir saat mendengar ucapan Aidan. Saling mencintai katanya? Tidak, selama ini dialah yang mencintai dan berkorban banyak untuk laki-laki itu. Namun, cinta dan perngorbanannya dibalas dengan pengkhianatan.


"Jangan membahas tentang cinta, Mas. Kau sama sekali tidak mengerti maknanya, kau bahkan tidak mengerti makna dari sebuah pernikahan."


"Aku memang membuat kesalahan, Yara. Tapi bukan berarti aku tidak mencintaimu." Aidan menatap Yara dengan dalam. "Aku sangat mencintai dan menghargai pernikahan kita. Hanya saja setiap manusia pasti membuat kesalahan, apa kau tidak bisa memaafkan satu kesalahanku ini?"


Mudah sekali bagi Aidan meminta maaf tanpa berpikir bagaimana perjuangan dan rasa sakit yang Yara rasakan, bahkan laki-laki itu tidak berniat untuk intropeksi diri dan hanya berusaha untuk kembali mengejarnya.


"Bagaimana jika aku juga berselingkuh dengan laki-laki lain, apa kau akan memaafkanku?"


Aidan terdiam saat mendengar pertanyaan Yara membuat wanita itu tersenyum getir.


"Percayalah kalau aku sudah memaafkanmu, Mas. Hanya saja aku tidak bisa kembali menyambung tali yang sudah kau putuskan, karena bekas tali itu akan tetap ada dan akan membelit rasa sakitku."


Aidan kembali diam dan tidak bisa mengatakan apa-apa. Jika Yara benar-benar tidak mau lagi bersamanya, apa lagi yang harus dia lakukan?


"Sekarang pergilah. Aku sudah memasukkan gugatan perceraian kita ke pengadilan agama, mungkin kita akan bertemu di sana."


"Lalu bagaimana dengan pembagian harta, bukankah kau mengatakan jika rumah itu untuk ibu? Dan aku juga banyak mengeluarkan uang untuk membelinya."



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2