
Beberapa hari kemudian, Mahen dan yang lainnya tengah bersiap untuk kembali ke Indonesia. Yara dan Ryder mengantar mereka semua ke bandara, begitu juga dengan kedua adiknya dan orangtuanya juga. Sementara orangtua Ryder masih ingin berlama-lama tinggal bersama anak mereka.
Mereka tidak bisa ikut ke desa yang akan di tempati oleh Yara dan Ryder karena Mahen dan papa Adrian ada pekerjaan penting, itu sebabnya harus pulang hari ini juga.
Semua orang saling berpelukan dengan sedih, merasa tidak rela untuk perpisahan. Rasanya mereka baru sama bertemu, tetapi sudah harus berpisah kembali.
"Jaga cucu oma ya, Ryder," ucap oma Camelia sambil menepuk bahu Ryder.
Ryder menganggukkan kepalanya. "Pasti, Oma. Nanti kami akan mengunjungi Oma di sana."
Oma Camelia memganggukkan kepalanya lalu memeluk Ryder dengan erat, setelah itu dia juga memeluk Yara sembari memberi nasehat agar mereka lalu menjaga diri dengan baik.
Lambaian tangan mengiri kepergian mereka semua. Terlihat kesedihan yang mendalam di wajah setiap orang, tetapi mereka tetap bisa bertemu jika nanti ada kesempatan.
"Jadi, kapan kalian akan pergi bulan madu, Ryder?" tanya Vano.
"Besok pagi, Pa. Lebih cepat lebih baik. Hehe," sahut Ryder sambil mengedikan sebelah matanya membuat Yara langsung mengeluarkan jurus andalan membuat laki-laki itu memekik kesakitan.
"Ya sudah, kalau gitu ayo pulang! Kalian harus banyak istirahat," ajak Via kemudian.
Mereka lalu beranjak pergi dari tempat itu dengan menaiki dua mobil, karena kalau cuma satu maka mereka akan merasa sempit-sempitan.
*
*
Keesokan harinya, sesuai rencana Yara dan Ryder akan pergi bulan madu ke Dubai. Sejak dulu Yara sangat ingin sekali pergi ke tempat itu untuk melihat berbagai macam keindahan negaranya, sementara Ryder hanya mengikuti kemauan yang istri saja.
Perjalanan dari London ke Dubai menghabiskan waktu sampai 8 jam lamanya, sampai akhinya pesawat yang mereka naiki sampai juga di tempat tujuan.
"Masyaallah," ucap Yara saat melihat betapa indah dan megahnya kota itu. Dia lalu mengikuti langkah Ryder untuk turun dari pesawat dan segera menghampiri seseorang yang sudah disiapkan untuk menjadi pemandu mereka.
Sepanjang perjalanan menuju hotel, Yara Terus memperhatikan jalanan sekitar yang sangat sejuk dipandang mata. Apa lagi saat dia melihat anak-anak yang sibuk berlarian ke sana kemari, membuatnya juga ingin segera mempinyai momongan.
"Ya Allah, semoga Engkau segera memberikan kepercayaan kepada kami," gumam Yara.
Ryder yang mendengar gumaman Yara langsung memeluk tubuh istrinya dengan erat, membuat Yara tersentak kaget dan langsung meliriknya dengan tajam.
"Malu Mas, dilihat orang," bisik Yara sambil melirik ke arah laki-laki yang sedang menyetir mobil.
Ryder menggelengkan kepalanya. "Tidak papa, dia pasti sudah terbiasa melihat pemandangan seperti ini. Lagi pula kita kan sudah halal, jadi tidak ada yang bisa melarang."
Yara menghela napas berat sambil memukul punggung tangan Ryder yang sedang memeluknya. Lalu dia kembali melihat ke arah jalanan dan membiarkan apa yang laki-laki itu lakukan.
"Bersabarlah. Allah pasti akan memberikan buah hati kepada kita di saat yang tepat," ucap Ryder sambil meletakkan kepalanya di bahu sang istri.
Yara tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. "Tentu saja, Mas. Kapanpun Allah memberikannya, maka aku akan menerimanya dengan ikhlas."
Mereka lalu tersenyum sambil menikmati semilir angin yang masuk melalui jendela mobil, karena Yara sengaja membukanya agar bisa lebih enak menikmati pemandangan.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, sampailah mereka di hotel yang letaknya sangat dekat dengan JBR Open Beach. Salah satu pantai terbaik yanh ada Dubai.
Angin pantai langsung menerpa wajah Yara saat turun dari mobil, benar-benar membuat perasannya menjadi nyaman.
"Ayo, Sayang!" ajak Ryder sambil menggenggam tangan Yara.
Yara mengangguk sambil mengikuti langkah sang suami untuk memasuki hotel, sementara supir mereka masih menurunkan barang-barang yang ada di dalam bagasi.
Ryder langsung menemui resepsionis untuk menanyakan tentang resevasi yang sudah beberapa hari yang lalu dia pesan, lalu diminta untuk menunggu sebentar karena mereka harus melakukan pengecekan.
"Silahkan, Tuan. Ini kunci kamar Anda, selamat meninkmati liburan," ucap resepsionis itu dalam bahasa inggris.
Ryder menganggukkam kepalanya lalu mengucapkan terima kasih, begitu juga dengan Yara yang melambaikan tangan pada resepsionis ramah itu.
Mereka lalu masuk ke dalam lift dan segera menuju lantai 12 di mana kamar mereka berada. Hotel itu terlihat sangat ramai dengan banyaknya pengunjung karena memang dekat dengan lokasi pantai, dan fasilitasnya juga lengkap serta nyaman.
Setelah keluar dari lift, mereka langsung melihat kamar yang akan di tempati dan terletak di ujung lorong. Mereka segera berjalan ke kamar itu sambil memperhatikan orang-orang yang sedang berlalu-lalang.
"Masuklah," ucap Ryder saat sudah membuka pintu kamarnya.
Dengan mengusap basmalah, Yara melangkah masuk ke dalam kamar itu lalu mencari di mana saklar lampunya. Setelah dapat, dia segera menghidupkannya hingga tempat itu terang-benderang.
"Bagaimana, apa kau suka dengan kamarnya?" tanya Ryder.
Yara menganggukkan kepalanya dengan semangat. "Suka sekali, Mas. Kamarnya sangat indah dan nyaman." Dia tersenyum bahagia.
Ryder lalu berjalan ke arah pintu kaca yang ada di kamar itu. Begitu sampai, dia langsung membuka tirainya hingga menampakkan lautan yang sangat luas dan indah.
Yara memeluk Ryder dengan erat. Dia benar-benar merasa bahagia dengan apa yang sudah laki-laki itu siapkan, bahkan sampai menolah tiket bukan madu yang River berikan pada mereka.
"Kau menyukainya?" tanya Ryder sambil mengajak Yara ke balkon.
Yara kembali menganggukkan kepalanya dengan senyuman yang semakin lebar. Kedua matanya juga tampak berbinar-binar dipenuhi kebahagiaan.
"Aku sangat suka Mas, aku sangat menyukainya," jawab Yara. "Terima kasih karena sudah menyiapkan semua ini untukku." Dia berucap dengan tulus.
Ryder mengangguk, lalu mengecup kening Yara. "Tentu saja, Sayang. Lihat, mataharinya akan tenggelam."
Yara langsung membalikkan tubuhnya dan menghadap ke arah lautan. Dia merasa sangat bersyukur karena bisa menikmati salah satu keindahan ciptaan Tuhan, yang belum tentu bisa dinikmati oleh orang lain.
Setelah menikmati pemandangan senja yang sangat memanjakan mata, Ryder dan Yara kembali masuk ke dalam kamar untuk membersihkan diri. Tubuh mereka juga sedikit lelah karena habis melakukan perjalanan yang lumayan lama.
***
Malam harinya, Ryder dan Yara memutuskan untuk menikmati makan malam di restoran hotel saja karena malas untuk pergi ke tempat lain. Lagi pula masih banyak hari untuk berkeliling ke tempat-tempat yang menarik untuk dikunjungi.
"Hem, makanannya sangat lezat," ucap Yara saat memasukkan sesuap makanan yang ada di hadapannya ke dalam mulut. Paduan antara daging dan kejunya langsung meleleh saat berada di dalam mulutnya.
"Percuma kita membayar hotel ini dengan mahal kalau makannya tidak enak," sahut Ryder.
__ADS_1
Iya juga sih. Yara menyetujui apa yang Ryder katakan. Dia jadi penasaran kira-kira berapa harga kamar yang mereka sewa dalam semalam.
"Memangnya harga kamar kita dalam satu malam itu berapa?" tanya Yara sambil kembali memasukkan potongan daging ke dalam mulutnya.
"Kenapa, apa kau ingin membayarnya?"
"Tidak," bantah Yara dengan cepat sambil menggelengkan kepalanya, membuat Ryder langsung menatap dengan tajam. "Percuma aku punya suami kaya kalau tetap aku juga yang membayarnya." Dia pura-pura marah.
Ryder tergelak saat mendengarnya. "Memangnya kapan aku pernah menyuruhmu untuk membayar, Sayang?" Dia langsung menoel ujung hidup Yara membuat wanita itu terkejut.
"Jangan, nanti hidungku pesek," seru Yara sambil memegangi hidungnya yang sangat minimalis.
Ryder kembali tertawa. "Hidungmu mancung kok Sayang, tapi ke dalam."
Cih. Yara langsung mencebikkan bibirnya saat mendengar ucapan Ryder, walaupun dia sadar kalau di antara mereka memang hanya hidungnya lah yang tidak mancung dan sangat minimalis. Padahal hidung Zafran dan Zayyan mancung seperti papa mereka.
Setelah menikmati makan malam, Yara mengajak Ryder untuk berjalan-jalan di sekitar pantai yang tampak di depan hotel tersebut.
Ryder langsung menolak ajakan Yara karena sudah pukul delapan malam, dia takut wanita itu masuk angin karena terkena angin pantai yang pasti berhembus kencang karena malam hari.
"Ayolah, Mas. Sebentar saja," pinta Yara dengan penuh harap.
Ryder menghela napas kasar. Dia terpaksa menganggukkan kepalanya karena merasa tidak tega menolak keinginan istrinya itu.
Yara bersorak senang dan langsung mengecup pipi Ryder membuat laki-lali itu tersentak kaget. "Ayo, Sayang!" Dia lalu merangkul lengan sang suami untuk segera menuju pantai.
Ryder terdiam karena masih merasa terkejut dengan kecupan yang Yara berikan, seketika nyawanya seperti sedang melayang-layang diangkasa.
"Mas, ayo!" ajak Yara lagi saat tidak ada pergerakan dari sang suami.
"Sekali lagi, baru kita pergi ke sana," ucap Ryder sambil menusuk-nusuk pipi sebelah kanannya, karena tadi pipi sebelah kiri yang dikecup oleh Yara.
Dengan malu-malu, Yara mengecup pipi sebelah kanan Ryder membuat senyum lebar kembali terbiat di bibir laki-laki itu.
"Su-sudah Mas," ucap Yara dengan pelan.
Ryder langsung mengecup kedua pipi Yara untuk membalas apa yang sudah wanita itu lakukan, sampai akhirnya mereka menjadi bahan tontonan orang-orang yang ada di tempat itu.
"Sudah, Mas. Aku malu!" pekik Yara sambil menahan mulut Ryder ingin terus maju.
"Malu apa sih? Kan kita-"
"Udah diam. Ayo, kita pergi!"
•
•
•
__ADS_1
Tbc.