
Cukup lama Aidan terdiam di tempat itu dengan hampa. Kepalanya terasa berputar-putar dengan perasaan yang hancur tidak karuan.
Berbagai masalah terus-terusan datang menghantamnya. Memangnya, apa yang sudah dia lakukan sehingga Rosa tega mengambil uangnya?
"Kau lihat saja, Rosa. Aku pasti akan membuatmu mendekam dalam penjara."
Mata Aidan berkilat penuh kemarahan dengan kedua tangan terkepal erat. Dia lalu beranjak pergi dari tempat itu menuju kantor polisi.
Sesampainya di tempat tujuan, Aidan langsung mengatakan semuanya pada salah satu polisi yang saat ini duduk di hadapannya.
"Maaf, Tuan. Kami harus melakukan penyelidikan terlebih dahulu untuk masalah yang Anda ceritakan. Apakah Anda punya bukti, jika wanita itu yang melakukan transaksi pada akun Anda?"
"Tentu saja. Bukankah laporan transaksi itu sudah menjadi bukti?"
Polisi itu tersenyum. "Benar, Tuan. Tetapi dalam transaksi itu tidak menyebutkan jika wanita itu yang melakukannya, dan bukannya Anda."
Brak.
Aidan yang masih emosi langsung menggebrak meja membuat polisi itu terjingkat kaget, sementara beberapa orang polisi yang ada di tempat itu langsung menatapnya dengan tajam.
"Jadi maksudmu, aku tidak bisa melaporknnya, hah?" tanya Aidan dengan tidak percaya.
"Benar, Tuan. Anda harus menunjukkan bukti kuat agar-"
"Apa yang kau lakukan?" pekik polisi lain yang ada di tempat itu saat Aidan mencengkram kerah kemeja polisi yang ada di hadapannya.
"Tutup mulutmu. Sebagai polisi, tugasmulah untuk mencari bukti- argh!"
Aidan mengerrang kesakitan saat polisi itu mencengkram tangannya, lalu memelintir ke belakang.
"Jangan membuat keributan di sini, atau kami akan memasukkan Anda ke dalam penjara."
Polisi itu lalu mendorong Aidan sampai hampir terjungkal ke depan, dengan cepat Aidan memegangi tangannya yang terasa sangat sakit.
"Silahkan tunjukkan bukti kuat untuk apa yang Anda laporkan, maka kami akan langsung memprosesnya."
Aidan mengepalkan tangannya penuh emosi. Kenapa dia harus mencari bukti jika semuanya sudah jelas? Bukankah tugas polisi itu mencari bukti, kenapa malah dia yang disuruh?
Tanpa mengucapkan satu kata pun, Aidan melangkah gontai untuk keluar dari tempat itu. Percuma saja jika orang biasa bicara di hadapan polisi, karena oknum berseragam jaman sekarang akan tunduk jika di hadapkan dengan uang.
"Aaarggh!"
__ADS_1
Aidan berteriak dengan kuat sambil memukul-mukul setir mobilnya. Dia benar-benar merasa kesal dan juga marah, hingga melampiaskannya dengan memukul-memukul apa yang ada di hadapannya saat ini.
Sementara itu, di tempat lain terlihat Surya murka saat mengetahui Aidan keluar dari perusahaan dan belum kembali juga sampai detik ini. Dia lalu memerintahkan sekretarisnya untuk membuat surat pemecatan atas laki-laki itu.
Setelah dari kantor polisi, Aidan memutuskan untuk pulang ke rumah. Keadaannya saat ini sangat tidak memungkinkan untuk bekerja, apalagi emosinya masih tidak bisa untuk dikendalikan.
Brak.
Aidan membuka pintu rumahnya dengan kasar, hingga membuat Nova yang sedang menonton televisi terjingkat kaget.
Nova lalu berbalik dan terkejut saat melihat penampilan putranya yang sangat kacau balau.
"Aidan, apa yang terjadi padamu?"
Nova segera menghampiri Aidan yang berjalan gontai masuk ke dalam rumah. Kemejanya sudah kusut tidak beraturan, rambutnya juga acak-acakkan dengan wajah yang tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata.
Aidan terus melangkahkan kakinya tanpa menjawab pertanyaan sang ibu, tentu saja membuat ibunya itu menatap heran.
"Kenapa kau tidak menjawab pertanyaan ibu, Aidan?"
Nova tersentak kaget saat tangannya yang akan meraih tangan Aidan di tepis dengan kesar, sementara Aidan sendiri menatap ibunya dengan mata memerah penuh amarah.
"Apa Ibu tidak bisa diam, hah?" bentak Aidan membuat Nova terkesiap. "Kenapa Ibu terus bertanya padaku, apa Ibu tidak tau kalau saat ini aku sedang pusing?"
Nova tersentak kaget saat mendengar apa yang Aidan katakan. Dia ingin kembali bertanya, tetapi sangat takut saat melihat raut wajah putranya itu.
"Susah payah aku mengumpulkan semuanya, tapi wanita brengs*ek itu malah mengambil uangku!"
Deg.
"Apa, apa maksudmu, Aidan?"
Mendengar ucapan Aidan, tentu saja membuat Nova menjadi kaget dan juga bertanya-tanya.
"Apa maksudku?" Aidan tersenyum dengan miris membuat Nova bergidik ngeri. "Wanita si*alan itu telah mengambil uang tabunganku, dia mengambil semuanya."
"Apa?"
Nova menatap Aidan dengan tidak percaya. Bagaimana mungkin semua itu bisa terjadi, bukankah uang tabungan itu berada di dalam bank?
"Kenapa bisa seperti itu, Aidan? Bukankah uang tabunganmu ada di dalam bank?"
__ADS_1
Aidan memijat pelipisnya yang berdenyut sakit. Dia lalu berbalik dan hendak pergi ke kamarnya.
Nova yang melihatnya langsung mencekal tangan Aidan, membuat laki-laki itu menatap tajam.
"Jawab pertanyaan Ibu, Aidan. Kenapa uangmu bisa sampai hilang?"
"Diam!"
Suara teriakan Aidan menggema di tempat itu membuat sang ibu langsung terdiam, bahkan pembantu mereka sampai ketakutan di balik dinding dapur.
"Bisakah Ibu diam dan tidak membuatku tambah pusing?" ucap Aidan dengan tajam.
"Diam kau bilang? Bagaimana mungkin ibu bisa diam saat kau menghilangkan uang itu?"
Aidan mengepalkan kedua tangannya sampai kukunya memutih. "Ibu bertanya kenapa uangku bisa hilang?" Dia menatap nyalang. "Semua itu karena Ibu!"
"A-apa?"
Nova menatap putranya dengan bingung. Dia saja tidak tahu apa yang terjadi, tetapi kenapa Aidan malah menyalahkannya?
"Andai aku tidak berpisah dengan Yara, aku pasti tidak akan menjadi seperti ini. Aku tidak jadi naik jabatan, bahkan aku terancam dipecat sekarang. Uangku juga lenyap ditangan Rosa sih j*a*l*a*ng itu, dan semuanya karna Ibu!"
Nova tercengang saat mendengar semua ucapan Aidan. Dadanya berdenyut sakit, dan perasaannya sangat terguncang.
"Ba-bagaimana mungkin-"
"Ibu terus ikut campur dalam rumah tanggaku, dan menyuruhku agar berpisah dengan Yara dan bersama dengan wanita brengs*ek itu. Jadi semua ini karena Ibu, semua ini karena Ibu!"
Brak.
Aidan membanting ponsel yang ada disakunya hingga hancur berantakan, membuat Nova terdiam kaku. Dia lalu beranjak pergi ke kamarnya dengan langkah gontai.
"Tidak, tidak mungkin semua ini terjadi."
•
•
•
Tbc.
__ADS_1