
Semua orang merasa senang dengan pemandangan air terjun yang Yara tunjukkan, mereka segera memasukkan kaki mereka ke dalam air yang tampak sangat jernih dan juga sejuk.
Cukup lama mereka berada di tempat itu, menikmati kesejukan dan ketenangan yang benar-benar menenangkan jiwa. Sungguh mereka semua tidak menyangka jika ada tempat yang sangat indah seperti itu di desa ini.
"Mama pasti akan sering datang ke sini, Nak. Desa ini benar-benar sangat nyaman dan tenang, masyarakatnya juga baik dan ramah," ucap Via sambil menatap ke arah Yara yang sedang duduk di sampingnya.
"Benar. Mama dan papa juga sedang merencanakan perluasan bisnis ke negara ini, apalagi Ryder sudah memutuskan untuk menetap di sini. Mama tidak ingin berada jauh dari kalian," sambung Riana.
Yara tersenyum senang mendengar ucapan mama dan juga mertuanya. Namun, dia merasa sedikit bersalah pada sang mertua karena gara-gara keputusan Ryder, kedua mertuanya malah harus pindah ke negara ini juga.
"Maafkan kami, Ma. Gara-gara kami Mama dan papa harus ikut ke negara ini, seharusnya kamilah yang tinggal bersama dengan Mama dan papa di sana," ucap Yara dengan penuh rasa bersalah.
Riana menggelengkan kepalanya sambil tersentum lebar. "Tidak, Sayang. Jangan meminta maaf seperti itu." Dia membantah ucapan sang menantu. "Mungkin awalnya kami kaget dengan keputusan Ryder, tapi kami senang dengan apa yang dia lakukan saat ini. Lagipula perusahaan papa kan juga sudah berkembang di negara ini, jadi tidak susah lagi untuk mengurus perpindahannya." Dia menjelaskan agar Yara tidak merasa bersalah.
Yara menghela napas kasar. Tetap saja dia merasa bersalah dengan kedua orangtua Ryder, tetapi semua ini memang sudah keputusan suaminya. Apalagi laki-laki itu adalah anak semata wayang, sudah jelas kedua mertuanya pasti tidak ingin tinggal jauh dari Ryder.
Beberapa saat kemudian, Zafran mengajak mereka semua untuk kembali karena papanya juga sudah kembali dari kota terdekat. Mereka harus segera menyiapkan acara untuk nanti sore.
Sementara itu, di tempat lain terlihat seorang wanita tengah membersihkan taman dengan bermandikan keringat. Cuaca panas yang sangat terik seperti ini terasa membakar kulitnya, tetapi dia tetap harus membersihjan taman itu atau akan terkena omelan sang mertua.
"Hana!"
Hana yang sedang mencabut rumput terjingkat kaget saat mendengar teriakan sang mertua. "Iya, Ma!" Dengan cepat dia beranjak pergi menuju suara sang mertua sambil berlari dengan tergopoh-gopoh.
"A-ada apa, Ma?" tanya Hana dengan napas tersengal-sengal akibat berlari dari taman.
"Sebentar lagi ada teman-teman arisan mama yang datang ke sini, jadi cepat siapkan makanan dan minuman untuk mereka. Awas saja kalau gak enak," perintah wanita paruh baya itu.
__ADS_1
Hana menghela napas lelah. Dia bahkan belum menyelesaikan tugas dari mertuanya tadi, tetapi sudah diberi tugas yang lainnya.
"Maaf Ma, aku sangat lelah. Bisakah Bik Nola saja yang menyiapkan hidangan untuk teman-teman Mama?" ucap Hana dengan ragu. Dia takut jika mertuanya murka. Namun, saat ini dia benar-benar sangat lelah sekali.
Kedua mata wanita paruh baya itu langsung berkilat marah saat mendengarnya. "Kau bilang apa, lelah?" Dia langsung melayangkan tatapan tajam yang terhunus ke arah Hana.
Hana mengangguk lemah dengan kepala tertunduk karena merasa takut, tetapi dia tetap saja tidak bisa memaksakan diri atau nantinya malah akan jatuh sakit.
"Sini kamu!" Wanita paruh baya itu langsung menarik tangan Hana dengan kuat sampai membuat wanita itu terlonjak kaget. Dia terus menarik Hana dan membawanya ke dapur, lalu menghempaskan tubuh Hana tepat ke meja makan.
Brak.
Hana mengernyit kesakitan saat perutnya menghantam meja. Tangannya spontan memegangi perut yang berdenyut sakit, lalu tatapannya terhunus ke arah sang mertua yang sedang bertolak pinggang.
"Seenaknya saja kau bilang lelah, memangnya dari tadi kerjamu itu apa, hah?" bentak wanita bernama Mery dengan marah.
"Aku sudah membereskan semua pekerjaan rumah, Ma. Aku juga sudah membersihkan kolam dan juga taman, sekarang aku sangat lelah," sahut Hana dengan jujur. Kedua kakinya bahkan sudah gemetar karena belum sempat makan siang.
Mery berdecak kesal saat mendengarnya. "Halah, cuma pekerjaan segitu aja kau udah mengeluh. Di luar sana semua perempuan juga mengerjakan semua itu, mereka bahkan kerja dari pagi sampai malam. Tapi mereka tidak pernah mengeluh sepertimu, dasar manja!" Dia melemparkan kain untuk mengelap meja tepat ke tubuh Hana. "Pokoknya aku tidak mau tahu, kau harus menyiapkan hidangan untuk teman-temanku. Awas saja kalau tidak kerjakan!" Dia lalu berbalik dan meninggalkan tempat itu dengan penuh kekesalan.
Hana kembali menghela napas kasar sambil mendudukkan tubuhnya ke atas lantai. Hampir setiap hari dia diperlakukan seperti mesin oleh mertuanya sendiri, mau sampai kapan dia hidup seperti ini?
Dari kejauhan, seorang wanita paruh baya yang merupakan pembantu di rumah itu menatap Hana dengan iba. Dia benar-benar merasa kasihan dengan wanita itu. Padahal Hana adalah menanti di rumah itu, tetapi diperlakukan lebih buruk dari seorang pembantu.
"A-Anda tidak apa-apa, Nona?" tanya Nola dengan pelan sambil menjongkokkan tubuhnya di hadapan Hana.
Hana memalingkan wajahnya ke arah Nola sambil tersenyum tipis. "Aku tidak apa-apa, Bik. Aku hanya kelelahan." Dia lalu mencoba untuk bangun sambil dibantu oleh Nola.
__ADS_1
"Biar saya saja yang menyiapkan semuanya, Non. Anda duduk saja," sambung Nola.
Hana tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. "Tidak usah Bik, nanti kalau mama tahu pasti Bibik di marahi."
Ya, Mery pasti akan mengamuk kalau tahu jika Nola membantu pekerjaan Hana. Padahal wanita paruh baya itulah yang seorang pembantu, tetapi malah tidak diperbolehkan membantu pekerjaan Hana.
"Tidak papa, Nona. Nanti kalau Nyonya datang kita bisa tukaran, jadi kita diam-diam aja," usul Nola.
Hana terkekeh pelan. Dia lalu menyetujui ucapan Nola. Namun, sebelum itu dia memilih untuk membasuh wajahnya dulu agar merasa lebih segar. Setelah itu menikmati makan siang sambil memperhatikan sang mertua agar tidak ketahuan jika yang menyiapkan makanan dan minuman adalah Nola.
Pada saat yang sama, di tempat lain terlihat semua warga desa sudah kembali berkumpul di halaman rumah Ryder. Mulai dari orang dewasa sampai anak-anak, mereka tampak bersemangat karena mendapat hadiah dari keluarga Ryder dan Yara.
Ryder lalu menyuruh semua orang untuk berbaris dengan rapih dan tidak saling berebut karena semua akan mendapat bagian, walau mereka masih anak-anak sekalipun.
"Kami ingin memberikan sedikit rezeki pada Anda semua. Kami harap ini akan berguna untuk kalian semua dan dapat sedikit membantu perekonomian," ucap Eric.
Satu per-satu warga lalu mulai berbaris dan berjalan menghampiri keluarga Yara untuk mengambil hadiah, dan mereka sudah menyiapkan uang tunai masing-masing sebesar lima ratus ribu rupiah untuk setiap orang.
Terlihat jelas kebahagiaan diwajah semua keluarga Yara dan Ryder saat bisa berbagi kepada sesama seperti ini, karena memang ada bagian orang lain dari setiap harta yang mereka miliki. Bukankah dengan bersedekah kita malah akan semakin menambah rezeki?
"Terima kasih atas segala rezeki yang Engkau beri, ya Allah. Sehingga kami bisa berbagi seperti ini pada mereka."
•
•
•
__ADS_1
Tbc.