Takdir Cinta Yang Kau Pilih

Takdir Cinta Yang Kau Pilih
Bab 181. Sangat Menyedihkan.


__ADS_3

Zafran dan Junior lalu pergi menuju rumah sakit untuk bertemu dengan Ryzal. Tidak butuh waktu lama untuk mereka sampai ke tempat tujuan karena memang jaraknya tidak terlalu jauh.


Setelah sampai, mereka langsung menuju ruangan Ryzal dengan diantar oleh salah satu petugas kesehatan. Sebelumnya Junior sudah menghubungi Ryzal, itu sebabnya mereka langsung menuju ruangan laki-laki itu.


"Silahkan, Tuan. Tuan Ryzal sudah menunggu kedatangan Anda," ucap petugas itu saat sudah sampai di depan ruangan sang atasan.


Zafran menganggukkan kepalanya lalu mengucapkan terima kasih, sementara Junior langsung mengetuk pintu ruangan itu sambil memberitahu kedatangan mereka.


"Selamat datang, Tuan. Silahkan masuk," ucap Ryzal sambil membuka pintu ruangannya. Dia menyambut kedatangan Zafran dan Junior dengan ramah, lalu mempersilahkan mereka untuk duduk di sofa yang ada dalam ruangannya.


"Maaf jika kedatangan saya mengganggu Anda, Tuan. Saya hanya ingin sedikit meminta bantuan Anda," ucap Zafran.


Ryzal tersenyum. "Anda sama sekali tidak menganggu, Tuan. Saya senang bisa bertemu dengan Anda. Silahkan, katakan saja apa yang bisa saya bantu."


Zafran merasa senang dengan respon dari Ryzal. Dia lalu mengatakan tentang maksud dan tujuannya menemui laki-laki itu, yaitu meminta tolong untuk dikenalkan pada salah satu petugas medis yang akan bekerja di rumah sakit Ryder, dan petugas medisnya haruslah yang bisa dipercaya.


Ryzal merasa terkejut saat mendengar keinginan Zafran. Namun, di sisi lain dia merasa senang karena laki-laki itu sangat memperhatikan Yara.


"Kalau gitu tunggu sebentar, Tuan. Saya akan memanggilkan seorang perawat yang bisa menjaga Dokter Yara, dan perawat itu bisa dipercaya," ucap Ryzal membuat Zafran menganggukkan kepala sambil tersenyum senang.


Ryzal lalu menelepon seseorang melalui telepon yang ada di meja kerjanya. Tanpa menunggu lama, panggilannya langsung dijawab oleh seseorang.


"Tolong ke ruangan saya sekarang juga, suster Ambar," perintah Ryzal. Dia lalu menutup panggilan itu saat sudah diiyakan oleh seseorang yang dia telepon.


Zafran yang mendengar ucapan Ryzal tampak menganggukkan kepalanya. Benar, dia sampai lupa perihal Ambar, yaitu seorang perawat yang sangat dekat dengan sang kakak. Dulu Ambar bahkan menjadi salah satu karyawan saat kakaknya membuka praktek pengobatan sendiri.


Tidak berselang lama, datanglah Ambar ke dalam ruangan itu. Ryzal langsung menjelaskan semua permintaan Zafran padanya, dan tentu saja dia langsung menganggukkan kepala.


"Tujuan saya bekerja ke sana karena ingin bersama dengan Dokter Yara, Tuan. Itu sebabnya Anda tidak perlu khawatir, tanpa diminta pun saya akan selalu menjaga Dokter Yara dengan baik," ucap Ambar dengan semangat. Dulu dia sudah banyak berhutang budi pada Dokter Yara, jadi dia ingin membalas semuanya dengan bekerja di rumah sakit wanita itu.

__ADS_1


Zafran merasa senang dan lega mendengar ucapan Ambar. "Saya percaya pada Anda, Suster." Dia yang memang sudah mengenal Ambar tentu percaya jika wanita itu akan bekerja dengan baik.


Setelah selesai, Zafran dan Junior lalu pamit dari tempat itu. Mereka memutuskan untuk langsung pulang sesuai dengan permintaan sang mama, karena ada sesuatu yang katanya ingin mamanya katakan.


"Tuan Zafran!"


Zafran yang akan keluar dari rumah sakit menghentikan langkah kakinya saat mendengar panggilan seseorang, begitu juga dengan Junior yang langsung menoleh ke belakang untuk melihat siapa yang telah memanggil sang tuan.


"Dia?" gumam Junior saat melihat Dion sedang berjalan ke arahnya, sementara Zafran hanya diam dengan wajah datar.


Dion yang juga berada di rumah sakit langsung memanggil Zafran saat melihat keberadaan laki-laki itu, dan meninggalkan sang istri yang sedang berjalan dengan tertatih-tatih.


"Tidak disangka kita bisa bertemu di sini, Tuan," ucap Dion dengan ramah. Dia merasa senang karena bertemu dengan Zafran. "Bagaimana kabar Anda, Tuan? Apa Anda baik-baik saja?" Dia bertanya dengan ramah sekali.


Zafran hanya diam tanpa menjawab pertanyaan Dion. Matanya menatap lurus ke depan tetapi bukan melihat ke arah laki-laki itu, melainkan ke arah wanita yang sedang berjalan di belakang Dion.


"Saya baik. Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Zafran kemudian, matanya masih menatap wanita itu lekat-lekat.


"Kenapa kau diam saja dan tidak menyapa tuan Zafran?" ucap Dion dengan suara berbisik, tetapi penuh dengan penekanan.


Hana yang mendengar bisikan sang suami langsung menyapa Zafran dengan ramah, wajahnya tampak pucat karena merasa lemas akibat menahan sakit di kakinya.


Zafran dan Junior sama-sama melirik ke arah kaki Hana yang sedang terbungkus oleh perban, apalagi terlihat jelas jika wanita itu menahan sakit saat ini.


"Ada apa dengan kaki istri Anda, Tuan Dion?" tanya Junior.


Zafran langsung melirik ke arah Junior karena tidak menyangka jika laki-laki itu akan bertanya apa yang terjadi pada Hana, sementara Hana yang sejak tadi menunduk spontan menatap ke arah Junior saat mendengar pertanyaan laki-laki itu.


"Kalau dia sih tidak heran, Tuan. Selalu saja terluka dan membuat saya susah," jawab Dion dengan sarkas, tanpa peduli dengan keadaan sang istri.

__ADS_1


Hana terdiam sendu mendengar jawaban sang suami, hatinya seperti sudah kebal dan mati rasa dengan semua ucapan yang suaminya layangkan untuknya.


"Tidak ada orang waras yang mau terluka," ucap Zafran tiba-tiba. Matanya menatap ke arah Dion dengan tajam karena tidak suka dengan ucapan laki-laki itu.


Wajah Dion langsung pias mendengar ucapan tajam Zafran. "Maksud saya bukan seperti itu, Tuan. Hanya saja istri saya ini sangat bod*oh, jadi selalu saja merepotkan orang lain. Begitulah kalau orang yang berasal dari kampung."


Zafran semakin menajamkan tatapan matanya mendengar ocehan Dion, sementara Junior merasa terkejut dengan apa yang laki-laki itu ucapkan. Bukankah tidak pantas seorang suami berkata seperti itu tentang istrinya sendiri?


"Ka-kalau gitu saya permisi duluan, Tuan," ucap Hana dengan pelan. Dia lalu beranjak pergi dari tempat itu tanpa mempedulikan sang suami yang sedang menatap murka, dia tidak ingin membuat keributan di tempat itu.


"Tunggu, Hana! Kembali kau!" seru Dion dengan suara tertahan. Matanya berkilat penuh emosi, awas saja wanita itu. Berani sekali Hana pergi duluan tanpa izin darinya?


Zafran tersenyum sinis melihat kepergian Hana. "Sangat menyedihkan." Dia bergumam penuh kesal. Kenapa dia harus menyaksikan hal yang sangat menyedihkan seperti ini? Membuat kesal saja.


"Maaf, Tuan. Kalau gitu saya permisi duluan, saya harap Anda segera memberi kabar baik tentang proposal saya," ucap Dion sambil menundukkan kepalanya. Dia harus segera menyusul kepergian Hana sebelum wanita itu kembali membuat ulah.


"Siapa bilang kau bisa pergi?"


Dion yang sudah melangkah pergi langsung menghentikan langkah kakinya saat mendengar ucapan Zafran, sementara Junior hanya diam sambil memperhatikan apa yang terjadi.


Dion kembali berbalik dan menatap Zafran penuh tanda tanya. "Ya, Tuan? Apa ada hal lain yang ingin Anda bicarakan dengan saya?"


Zafran melangkah maju mendekati Dion tanpa menjawab pertanyaan laki-laki itu, sampai akhirnya mereka saling berhadapan dengan jarak dekat.


"Terserah jika kau ingin memperlakukan istrimu seperti sampah, tapi jangan lakukan itu di hadapanku. Kau tidak tahu seberapa besar aku menahan diri untuk menghajarmu saat ini."



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2