Takdir Cinta Yang Kau Pilih

Takdir Cinta Yang Kau Pilih
Bab. 55. Gara-gara Menjawab Salam.


__ADS_3

Yara tersentak kaget saat mendengar ucapan Ryder, dia langsung menatap laki-laki itu dengan tajam seakan ingin menembakkan laser dari kedua matanya.


"Aku tidur di ranjang, dan kau bisa tidur di sofa."


Mendapat tatapan tajam dan menusuk, tentu membuat Ryder langsung menjelaskan maksud dari ucapannya. Walaupun sebenarnya yang dia maksud tidur bersama adalah sesuatu yang dilakukan di atas ranjang.


Yara menghela napas sejenak, lalu berjalan ke arah sofa untuk mengambil tasnya. "Aku sudah menghubungi orang tuamu, mungkin sebentar lagi mereka datang."


Ryder mencebikkan bibirnya. Dari pada ditemani oleh mamanya yang cerewet, lebih baik dia berada seorang diri di ruangan itu.


"Tapi aku benar-benar serius. Mungkin saja nanti malam aku akan kembali sakit."


Ryder masih berusaha untuk meminta agar Yara tinggal bersamanya, yah hitung-hitung sebagai teman ngobrol dan juga pendekatan.


Yara hanya diam sambil mengambil ponselnya dari dalam tas, dia lalu mengetik sesuatu di ponsel itu hingga membuat ponsel Ryder berdering.


Dengan cepat Ryder mengambil ponselnya, dan mengernyitkan kening saat ada nomor tidak dikenal sedang menelepon.


"Itu adalah nomor ponselku, hubungi saja jika kau merasa sakit."


Ryder langsung menatap Yara dengan tidak percaya, ternyata wanita itu bergerak cepat dengan mendapatkan nomor ponselnya.


"Apa aku bisa menelepon kapan pun?" tanya Ryder sambil menyimpan nomor Yara dengan nama Dokter cinta.


Yara hanya mengangguk saja untuk mengiyakan apa yang Ryder ucapkan. Sebenarnya dia bisa saja tinggal di tempat itu, tetapi ada hal penting yang ingin dikerjakan malam ini.


Tidak berselang lama, datanglah Adena dan juga Eric ke dalam ruangan itu. Yara segera pamit untuk kembali ke rumah, dan tidak lupa menyalim tangan kedua orang tua Ryder membuat hati mereka merasa tersentuh.


"Lihat, anak orang lain begitu sopan dengan menyalim tangan kita. Tapi lihat anak kita sendiri. Jangankan untuk menyalim tangan, untuk senyum saja dia tidak pernah," sindir Eric saat Yara sudah pergi dari tempat itu.


Adena langsung menganggukkan kepalanya. "Benar. Lihat wajahnya itu, terlihat jelas kalau dia tidak suka jika kita berada di sini."

__ADS_1


Ryder yang mendengar sindiran dari kedua orang tuanya hanya bisa menghela napas kasar. Lihat, anak mana yang betah tinggal dengan orang tua seperti mereka? Entanlah, dia sendiri pun tidak tahu.


Setelah keluar dari rumah sakit, Yara segera pulang ke rumah dengan menaiki sebuah taksi. Dia memang tidak membawa mobil karena tadi pagi di antar oleh sang papa.


Beberapa saat kemudian, Yara sudah sampai di tempat tujuan dan segera masuk ke dalam rumah. Terlihat semua keluarga sedang duduk di ruang televisi, dan sepertinya mereka semua sedang menyambut kepulangannya.


Yara segera menyalim tangan para orang tua, dan duduk bergabung dengan mereka. Kemudian Via bertanya tentang pekerjaannya hari ini, dan tentu saja dia langsung menceritakan semuanya.


Setelah menghabiskan setengah jam bersama dengan keluarga, Yara segera pamit untuk ke kamarnya. Dia segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri, setelah selesai dia berbaring di atas ranjang sambil menatap langit-langit kamar.


Pikiran Yara tiba-tiba tertuju pada Aidan, karena siang tadi dia sempat menerima kabar dari salah satu teman jika saat ini mantan suaminya itu terancam dipecat dari perusahaan.


"Sebenarnya apa yang terjadi padanya, kenapa pekerjaannya sampai hancur seperti itu?"


Yara menghela napas kasar. Entah kenapa dia merasa khawatir, apalagi saat mengingat laporan dari penjaga rumahnya jika Aidan sempat datang ke rumah lama mereka.


Tidak mau semakin larut, Yara memilih untuk segera membuat laporan tentang kesehatan Ryder. Saat ini dia harus fokus untuk merawat laki-laki itu, agar semuanya cepat selesai dan bisa kembali ke London.


"Ryder?"


Yara langsung mengangkat panggilan dari laki-laki itu itu dengan khawatir. "Assalamu'alaikum, Ryder. Apa kau baik-baik aja?"


Ryder yang ada di sebrang telepon tersenyum lebar. "Wa-wa'alaikum sallam." Entah kapan terakhir kali dia mengucap salam, hingga rasanya sangat kaku sekali.


Eric dan Adena yang sedang duduk di atas sofa, langsung melihat ke arah ranjang saat mendengar putra mereka menjawab salam.


"Apa papa tidak salah dengar?"


Adena langsung menggelengkan kepalanya. "Tidak, Pa. Mama juga mendengarnya. Benar 'kan, apa kata mama jika Ryder sudah punya pawang?"


Eric langsung mengangguk. Benarkah Ryder sudah mendapat pawang dalam wujud Yara? Jika semua itu benar, maka dia akan sujud syukur karena sang putra diberikan wanita yang baik hati dan sopan santun.

__ADS_1


"Apa kau baik-baik saja?"


Ryder tersentak dari lamunan. "Y-ya, aku baik-baik saja."


"Lalu, kenapa meneleponku?" Yara merasa heran.


"Hah? Ma-maksudku aku sedang tidak baik-baik saja. Aku sedang kesakitan sekarang."


Ryder langsung merutuki ucapannya sendiri. Gara-gara menjawab salam, tiba-tiba kepalanya langsung kosong hingga dia tidak bisa bicara dengan baik dan benar.


"Si*alan. Besok aku tidak mau lagi menjawab salamnya."


Ryder merasa kesal sendiri, sementara Yara yang mendengar ucapan Ryder langsung bertanya dibagian mana laki-laki itu merasa sakit.


"Pokoknya aku sedang sakit, jadi kau harus segera datang."


Ryder langsung mematikan ponselnya tanpa menunggu jawaban dari Yara, dan tentu saja membuat wanita itu menjadi kesal.


Niat hati ingin bertanya Yara sedang apa, malah berakhir dengan pura-pura sakit. Benar-benar sangat menyebalkan sekali, hingga Ryder mengusap wajahnya sampai beberapa kali.


"Lihat anakmu, sepertinya dia benar-benar sudah gila. Papa yakin dia pasti habis menelpon Yara."


Adena langsung mengangguk. "Benar, Pa. Sepertinya papa harus segera memberitahukan hal ini pada tuan Vano, jika bisa langsung kita nikahkan saja mereka."





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2