Takdir Cinta Yang Kau Pilih

Takdir Cinta Yang Kau Pilih
Bab. 44. Korban Kecelakaan.


__ADS_3

Semua orang langsung berlari menghampiri mobil tersebut, sementara Yara bergegas membawa adik-adiknya ke tempat yang lebih nyaman sambil memeriksa apakah ada luka di tubuh mereka.


"Kalian baik-baik saja kan?"


Fahraz dan juga Yumi menganggukkan kepala mereka dengan kompak. "Kami baik-baik saja, Mbak. Cuma lecet sedikit." Fahraz menunjukkan luka yang ada di siku sebelah kanannya.


Yara menghela napas lega saat melihat keadaan kedua adiknya baik-baik saja, dia lalu menoleh ke arah mobil yang mengalami kecelakaan. Terlihat sudah banyak orang yang berkerumun di tempat itu dan mencoba untuk mengeluarkan korban.


"Kalian tunggu di sini sebentar ya, mbak mau lihat keadaan korban sebentar."


Yumi langsung menggelengkan kepalanya. "Jangan Mbak, Yumi takut."


Yara tersenyum sambil mengusap tangan Yumi yang sedikit tergores tanah. "Kita enggak boleh takut, Sayang. Mbak kan seorang dokter, dan tugas dokter adalah menyelamatkan nyawa seseorang."


Yumi terdiam saat mendengar ucapan sang kakak, sementara Fahraz menganggukkan kepalanya dan membantu Yara untuk meyakinkannya.


Setelah mendapat persetujuan dari Yumi, Yara segera berlari ke arah kerumunan warga. Terlihat mereka belum berhasil mengeluarkan korban yang terjepit di bawah setir mobil.


"Maaf, permisi. Saya seorang dokter, biarkan saya lewat untuk membantu korban."


Yara berteriak dengan kuat agar orang-orang yang memadati tempat itu memberi jalan. Terlihat seorang lelaki langsung menyuruh warga untuk bubar dan membiarkan dia mendekati korban.


"Minggir kalian semua, biarkan dokter ini menyelamatkan korban!"


Beberapa orang yang lain membantu Yara untuk mendekat, agar dia bisa memeriksa keadaan korban saat ini.


"Cepat, kita harus mengeluarkannya dari mobil ini," ucap Yara sambil menekan luka dikepala laki-laki itu agar darahnya tidak terus keluar.


Semua orang berusaha keras untuk mengeluarkannya, sampai akhirnya laki-laki itu berhasil dikeluarkan.


Yara segera memeriksa tanda-tanda vital yang ada pada tubuh laki-laki itu. Mulai dari denyut nadi, tekanan darah, suhu tubuh, juga jalur pernapasan.


"Tuan, Tuan. Anda bisa mendengar saya?"


Yara menepuk pipi laki-laki itu saat melihat pergerakannya. Dia lalu naik ke atas tubuh laki-laki itu saat tiba-tiba pernapasannya terganggu.


Orang-orang yang berkerumun semakin banyak, membuat para polisi yang baru sampai ke tempat itu bergegas membubarkan mereka. Lalu sebagian lagi mendekati Yara dan mencoba untuk mencaritahu apa yang terjadi.


"Maaf, Anda siapa ya?" tanya salah satu dari polisi.


"Saya seorang dokter, Pak. Biarkan saya menolong korban."

__ADS_1


Polisi itu lalu menganggukkan kepalanya, dan segera mengatur pasukan untuk mengamankan jalan karena ambulance baru saja tiba.


Yara terus memompa dada laki-laki itu agar kembali berdetak, karen dia merasa jika denyut nadinya sangat lemah.


"Apa Anda bisa mendengar saya, Tuan?"


Sedikit demi sedikit laki-laki itu mulai membuka matanya membuat Yara bergegas turun dari atas tubuhnya.


"Tuan, Anda bisa mendengar saya?"


Yara kembali bertanya untuk memastikan kesadaran korban, lalu laki-laki itu mengangguk lemah membuat dia merasa lega.


"Aku bisa mendengarmu. Jadi diamlah dan jangan terus memanggilku,"


"Hah?"


Yara terkesiap saat mendengar ucapan laki-laki itu, dan dia semakin terkejut saat laki-laki itu menoleh ke arahnya dengan tatapan tajam.


Para petugas medis segera membawa laki-laki itu ke dalam ambulance dan bergegas pergi dari tempat itu. Beberapa warga yang masih berada di sana langsung memberi tepuk tangan pada Yara yang sudah beraksi bak pahlawan.


Yara hanya tersenyum saja untuk menanggapi apa yang orang-orang lakukan. Para polisi juga mengucapkan banyak terima kasih padanya karena sudah bersedia membantu korban.


"Bagaimana keadaannya, Mbak?" tanya Fahraz. Sebenarnya dia penasaran dan ingin sekali melihat, tetapi tidak mungkin meninggalkan Yumi seorang diri.


"Alhamdulillah dia baik-baik aja, Dek. Semoga tidak ada luka dalam yang membayakan."


Fahraz langsung mengaminkan ucapan sang kakak. Mereka lalu beranjak pergi untuk mencari kamar mandi umum, karena Yara harus membersihkan tubuhnya yang terkena darah.


Beberapa saat kemudian, Yara dan kedua adiknya sudah kembali ke rumah. Riani memekik kaget saat melihat penampilan Yara, dia langsung panik karena baju wanita itu terkena banyak darah.


"Tenanglah, Ma. Ini bukan darahku," ucap Yara mencoba untuk menenangkan sang mama.


"Bukan darahmu bagaimana? Jelas-jelas itu ada dibajumu, masak iya darahnya Yumi."


Yara menggelengkan kepalanya dan langsung menceritakan apa yang terjadi, serta memberitahu siapa pemilik dari darah yang ada dibajunya.


"Ma!"


Yara terlonjak kaget saat tubuh Riani langsung terjatuh ke atas sofa dengan lemas. Untung saja mamanya untuk mendarat sempurna ke sofa, jika tidak pasti rasanya akan sakit sekali.


"Mama baik-baik saja kan?" tanya Yara dengan khawatir.

__ADS_1


Riani mengusap dadanya yang merasa lega. Beberapa saat yang lalu dia sangat takut dan terkejut saat melihat Yara.


"Mama tidak apa-apa, Sayang. Cuma tadi mama sangat terkejut saat melihatmu."


Yara langsung meminta maaf dan merasa bersalah karena sudah membuat mamanya terkejut. Dia lalu bergegas ke kamar untuk membersihkan diri sebelum ada lagi yang terkena serangan jantung.


Pada saat yang sama, di negara lain terlihat Aidan sedang berusaha untuk mencari keberadaan Yara. Dia sudah datang ke rumah orang tua wanita itu, bahkan sudah ke klinik juga tetapi tetap tidak ada.


"Sebenarnya Yara ke mana? Kenapa nomor ponselnya tidak aktif?"


Aidan mengusap wajahnya dengan kasar. Semalam dia sudah membuat keributan di perusahaan dan langsung mendapat peringatan keras, tentu saja semua itu membuat posisinya terancam.


"Kalau sampai mereka menurunkan posisiku, lalu bagaimana aku bisa membayar cicilan rumah?"


Aidan benar-benar merasa stres. Apalagi sejak semalam Rosa terus mendesaknya untuk menikah, jika tidak maka dia akan menuntut karena sudah di tidur*i.


"Cih. Padahal dia dulu yang menggodaku, tapi sekarang malah mau menuntutku."


Aidan lalu beranjak pergi dari tempat itu dan akan langsung menuju rumah. Sekarang dia tidak bisa melakukan apapun selain patuh, tetapi dia akan mencoba untuk masuk ke perusahaan yang lain.


***


Setelah selesai membersihkan diri, Yara lalu bergegas turun ke lantai 1 dan langsung menuju dapur. Jam sudah menunjukkan pukul 10 pagi, tetapi dia belum sempat sarapan karena apa yang terjadi tadi.


Pada saat menikmati sarapan, tiba-tiba Riani menghampiri Yara sambil membawa ponsel ditangannya.


"Apa kau sudah membaca berita trending?"


Yara langsung menggelengkan kepalanya. "Tidak, Ma. Memangnya ada apa?"


Riani bergegas menunjukkan sebuah video yang tengah viral dan menjadi trending topik di kalangan semua orang.


"Astaghfirullah. Kenapa ada video seperti itu?





Tb

__ADS_1


__ADS_2