
Mahen menatap semua orang dengan sendu, terutama Yara yang saat ini juga menatapnya penuh kesedihan.
"Sudahlah, tidak seharusnya kita menjadi seperti ini. Apa yang terjadi adalah Takdir dari Allah yang tidak bisa dicegah, dan kita sebagai manusia hanya bisa berdo'a dan berusaha."
Semua orang menyetujui apa yang Via katakan, begitu juga dengan Yara yang sudah ikhlas dengan apa yang terjadi pada rumah tangganya saat ini.
Setelah selesai mengobati luka sang papa, Yara lalu mengajak papanya untuk makan siang bersama dengan yang lain. Tidak lupa dia juga bertanya tentang kabar mamanya dan juga sang adik yang ada di indonesia.
"Bagaimana kalau kau ikut papa pulang, Yara. Kau bisa mengajukan cuti, 'kan?"
Yara dan yang lainnya terdiam saat mendengar ucapan Mahen. Dia lalu mengatakan bahwa sudah tidak bekerja di rumah sakit lagi, dan sekarang membuka klinik kecil-kecilan.
"Loh, kenapa tidak memberitahu papa? Seharusnya papa dan mama datang saat pembukaan klinikmu," ucap Mahen sambil menyantap makanannya.
"Untuk apa, Kak? Itu bukan sesuatu yang menyenangkan."
Vano lalu menceritakan alasan kenapa Yara keluar dari rumah sakit, hingga keadaan menjadi seperti saat ini. Tentu saja Mahen langsung murka saat mendengarnya.
"Kau sudah banyak berkorban, Nak. Sekarang papa mau cukup sampai di sini, dia terlalu buruk untukmu."
Yara menganggukkan kepalanya, dia tahu jika selama ini sudah berkorban banyak untuk rumah tangganya, walau harus menelan pil pahit pengkhianatan seperti ini.
"Papa sudah menyuruh River untuk mengurus perceraianmu, Yara. Kau hanya perlu tanda tangan saja, dan sisanya serahkan pada pengacara," ucap Vano membuat Yara kembali mengangguk, sementara Mahen merasa senang karena adiknya itu bergerak dengan cepat.
Hanya Via lah yang saat ini duduk diam di tempatnya. Dia menatap ke arah Yara dengan sendu, sungguh hatinya terasa sangat sakit sekali saat ini.
Sementara itu, di tempat lain terlihat Aidan sedang berada di sebuah kafe yang berada tidak jauh dari rumahnya. Dia harus bertemu dan bicara dengan seseorang, karena sejak semalam orang tersebut terus meneleponnya.
"Kau sudah menunggu lama, Ai?"
__ADS_1
Aidan mendongakkan kepalanya saat mendengar suara seseorang, kemudian dia menyuruh wanita itu untuk duduk sambil menatapnya dengan tajam.
"Aku terus menunggu kabar darimu, Ai. Kenapa baru menghubungiku sekarang?"
Rosa menggenggam tangan Aidan yang ada di atas meja membuat laki-laki itu tersentak kaget dan langsung menarik tangannya.
"Jaga sikapmu, Rosa. Apa kau tidak sadar jika ini di tempat umum?" Aidan menatap wanita itu dengan nyalang.
"Ah, benar. Kau kan sukanya saat kita sedang berduaan saja." Rosa mengedipkan matanya membuat Aidan berdecak kesal. "Tapi kenapa kau ingin bertemu denganku, Ai? Apa kau merindukanku?"
Aidan menggelengkan kepalanya lalu menatap Rosa dengan tajam. "Dengar Rosa, sejak awal kita tidak punya hubungan apapun dan hanya sekedar teman saja. Jadi aku mau meminta bantuanmu agar kau mengatakan semua itu pada istriku."
"Apa?"
Rosa merasa terkejut dengan apa yang Aidan katakan, bagaimana mungkin dia bisa melakukannya saat dia benar-benar menyukai lelaki itu?
"Kau harus melakukannya, Rosa. Aku tidak mau kehilangan istriku!" ucap Aidan dengan penuh penekanan membuat Rosa tersenyum sinis.
Aidan mengepalkan tangannya dengan erat. "Tidak ada yang terjadi di antara kita selain berciuman, Rosa. Jadi jangan melebih-lebihkan."
"Oh ya?"
Rosa bersedekap dada sambil tersenyum lebar membuat Aidan semakin merasa geram.
"Coba kau ingat-ingat dulu, Aidan. Waktu itu kau datang dalam keadaan basah, lalu kau mandi di apartemenku. Dan setelah itu ...." Rosa menjeda ucapannya sambil tersenyum miring.
Aidan terdiam saat mendengar ucapan wanita itu. Dia mencoba untuk mengingat apa yang Rosa katakan, karena seingatnya dia tidak pernah menyentuh wanita itu lebih dari sekedar ciuman.
"Apa kita perlu mengulangnya kembali agar kau ingat, Sayang?"
__ADS_1
Deg.
Wajah Aidan langsung pias saat baru mengingat sesuatu. Ya, dia ingat jika pernah tidur dengan Rosa saat terakhir kali bertengkar dengan Yara. Saat itu dia benar-benar merasa frustasi dengan keadaan, hingga tidak sadar jika melakukan hal seperti itu dengan wanita lain.
"I-itu, itu hanya sebuah kesalahan, Rosa. Jadi kau tidak bisa-"
"Kesalahan bagaimana, Ai? Kita berdua sangat menikmatinya, dan asal kau tahu. Sejak saat itu aku belum menerima tamu bulananku."
"Apa?" Aidan memekik kaget. "Ka-kau jangan bercanda, Rosa!" Dia menatap wanita itu dengan tajam.
"Aku tidak sedang bercanda, Aidan. Kau harus bertanggung jawab untuk apa yang sudah kau lakukan."
Aidan langsung menggelengkan kepalanya dan beranjak berdiri dari kursi. "Aku bukan lelaki pertama yang melakukan hal seperti itu padamu, Rosa. Jadi jangan meminta pertanggung jawaban dariku." Dia lalu berbalik dan pergi meninggalkan tempat itu.
Rosa hanya diam sambil menatap kepergian Aidan. "Kau memang bukan yang pertama, Aidan. Tapi aku akan memastikan jika kau menjadi yang terakhir untukku. Apa yang akan terjadi ya, jika istrimu mengetahui tentang hal ini?"
Rosa lalu beranjak pergi dan bersiap untuk menyusun rencana. Sudah berhari-hari dia memikirkan bagaimana caranya agar bisa bersama lagi dengan Aidan, dan membuat laki-laki itu cepat berpisah dari Yara.
Lalu, tiba-tiba saja Aidan meneleponnya dan meminta untuk bertemu. Bukankah itu hal yang sangat menguntungkan untuknya? Dia sudah lelah bekerja untuk membayar hutang, dan sekarang dia sudah mendapatkan Aidan. Tentu saja dia tidak akan melepaskan laki-laki itu dari genggamannya.
"Lihat saja, aku pasti akan mendapatkanmu, Aidan."
Sejak awal Rosa memang sudah menargetkan Aidan untuk menjadi suaminya. Laki-laki itu cukup baik dan pendiam, juga tidak suka pergaulan bebas jadi tidak akan tahu jika dia punya banyak hutang dengan salah satu kasino yang ada di kota itu.
"Aku harus segera menikahinya sebelum tuan Cheng menagih uang itu."
•
•
__ADS_1
•
Tbc.