
Setelah bicara dengan Hana, Via kembali mengantar wanita itu ke kamar tamu agar bisa kembali istirahat. Sebelum meninggalkan Hana, dia kembali berpesan agar wanita itu tidak merasa sungkan atau tidak enak hati padanya. Dia ingin agar Hana merasa nyaman saat berada di rumahnya agar bisa berpikir dengan tenang.
Sementara itu, Zafran yang sejak tadi berdiri dibalik dinding dan mendengar semua obrolan antara mamanya dan Hana beranjak pergi ke kamar.
Zafran merasa penasaran apa yang sebenarnya sudah terjadi dengan Hana, sampai membuat wanita itu merasa depresi dan hendak melakukan percobaan bunuh diri.
"Binatang," gumam Zafran saat sudah berada di dalam kamar. Kedua tangannya mengepal kuat sambil menggertakkan gigi karena merasa geram dan kesal dengan apa yang terjadi pada Hana. Orang-orang yang sudah memperlakukan wanita itu dengan buruk tidak pantas untuk dipanggil sebagai manusia, bahkan binatang saja sepertinya jauh lebih baik dari pada mereka.
Zafran mengusap wajahnya dengan kasar sambil duduk dia atas ranjang. Rasanya dia benar-benar emosi mendengar cerita Hana tadi, dan siapa yang mendengarnya juga pasti akan merasa emosi juga.
"Haruskah aku melakukan sesuatu?" gumam Zafran kembali. Ingin sekali dia membalas semua perlakuan buruk mereka terhadap Hana, tetapi dia merasa tidak punya hak untuk melakukannya. "Hais, terserahlah. Lihat saja apa yang akan wanita itu katakan besok, aku penasaran apakah dia akan tetap kembali pada suaminya atau tidak." Dia lalu beranjak masuk ke dalam kamar mandi untuk membasuh wajah sebelum tidur.
*
*
Keesokan harinya, Hana terbangun saat jam masih menunjukkan pukul empat pagi. Dengan cepat dia turun dari ranjang dan berlalu masuk ke dalam kamar mandi untuk mencuci muka, tidak lupa menggosok gigi agar tidak bau.
Setelah selesai, Hana membuka pintu kamarnya dan melihat ke sekeliling rumah. Lampu-lampu yang ada di beberapa ruangan masih mati, hanya di ruang keluarga saja yang lampunya menyala.
"Apa yang harus aku lakukan?" gumam Hana dengan bingung. Dia tidak tahu harus melakukan apa saat ini, tidak mungkin dia sembarangan pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan, dan tidak mungkin juga dia sembarangan membersihkan rumah.
Hana menghela napas kasar lalu memutuskan untuk duduk dilantai sambil menunggu siapa saja yang sudah bangun, dan dia duduk tepat di depan kamarnya.
Setelah semalaman memikirkan ucapan Via sampai membuatnya tidur jam satu dini hari, kini Hana sudah mengambil keputusan tentang apa yang harus dia lakukan saat ini.
Tidak mudah bagi Hana untuk mengambil keputusan seperti ini, tetapi jika tidak sekarang mungkin suatu saat nanti dia akan menyesalinya. Walaupun di dalam hatinya terasa sakit karena masih sangat mencintai sang suami, tetapi dia benar-benar sudah tidak sanggup untuk hidup seperti apa yang sudah dia jalani selama ini.
__ADS_1
Perasaan takut dan gelisah terasa membelenggu perasaan Hana, Apakah dia bisa benar-benar lepas dari suaminya? Karena saat ini dia sudah mengambil keputusan untuk berpisah dengan Dion dan melepas semua kenangan yang terjadi di masa lalu. Baik bersama dengan laki-laki itu, juga bersama dengan keluarganya sendiri. Dia ungin hidup bebas dan bahagia walaupun hanya seorang diri.
"Tapi apa yang harus aku lakukan supaya bisa lepas dari mereka?" gumam Hana kembali dengan tidak mengerti. "Tidak mungkin aku menyusahkan nyonya Via, padahal beliau sudah sangat baik padaku." Dia benar-benar merasa bingung dan pusing.
Ditengah kebingungan dan kegelisahan Hana, tiba-tiba dia terkejut saat ada seseorang yang berdiri tepat di hadapannya. Dengan cepat dia beranjak bangun sambil menundukkan kepala.
"Apa yang Anda lakukan di sini, Nona?" tanya salah satu pembantu Via. Dia yang akan ke ruang keluarga merasa terkejut saat melihat keberadaan Hana, apalagi wanita itu duduk dilantai.
"Ma-maafkan saya, Nyonya. Saya tidak bermaksud untuk membuat Anda terkejut," ucap Hana dengan perasaan bersalah, seharusnya tadi dia tidak duduk dilantai.
Wanita paruh baya itu langsung mengenggang tangan Hana membuat Hana tersentak kaget. "Jangan panggil nyonya, panggil aja bibi. Aku pembantu di rumah ini." Dia bicara dengan ramah.
Mereka memang belum sempat bertemu dan berkenalan secara langsung. Apalagi tadi malam keadaan Hana sedang tidak baik-baik saja, tetapi wanita paruh baya itu mendengar semua cerita Hana saat berara di dapur bersama Via karena saat itu kamarnya berada tidak jauh dari dapur.
"Baiklah, Bibi. Apa ada yang bisa saya kerjakan?" tanya Hana sambil tersenyum tipis.
Hana menggelengkan kepalanya. "Tidak apa-apa, Bibi. Saya akan mengerjakan pekerjaan Bibi, dan tolong jangan panggil saya nona, panggil saja Hana." Pintanya.
Jena mengangguk. Dia lalu memberitahu namanya juga pada Hana agar wanita itu bisa leluasa untuk memanggilnya, karena memang biasanya orang-orang saling memanggil dengan nama. Hanya keluarga Via sajalah yang memanggilnya dengan sebutan bibi karena katanya tidak sopan jika langsung memanggil nama.
Jena lalu kembali menyuruh Hana untuk istirahat, apalagi kaki wanita itu sedang terluka, tetapi Hana tetap saja menolak dan bersikeras untuk membantunya mengerjakan pekerjaan rumah.
Tidak bisa lagi berkata apa-apa, Jena terpaksa mengajak Hana ke dapur. Semoga saja majikannya tidak marah melihat apa yang dia lakukan karena memang Hana sangat keras kepala sekali.
Setelah sampai di dapur, terlihat ada seorang pembantu juga yang sedang menyiapkan bahan makanan untuk menu sarapan hari ini. Tinggal menunggu kedatangan nyonya rumah ini saja, karena memang Via sendirilah yang biasa menyiapkan makanan.
Dengan semangat, Hana memilih untuk mengerjakan pekerjaan lain, yaitu membersihkan pekarangan rumah beserta isi dari rumah itu. Tidak peduli jika sejak tadi Jena dan pembantu lain melarangnya.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, terlihat Via sedang menuruni anak tangga lalu segera menuju dapur. Pagi ini dia ingin membuat lontong untuk menu sarapan mereka, yaitu makanan khas dari indonesia yang sudah lama tidak dia makan.
"Selamat lagi, Nyonya," sapa Jena saat melihat kedatangan sang majikan.
Via tersenyum sambil membalas sapaan wanita paruh baya itu. "Selamat pagi juga, Bik. Pagi ini aku ingin membuat makanan khas Indonesia, yaitu lontong. Dulu kita sudah pernah membuatnya 'kan?" Dia berucap dengan semangat.
Jena berpikir sejenak untuk mengingat makanan yang bernama lontong. Setelah ingat, dia lalu menganggukkan kepalanya.
"Iya, Nyonya. Dulu kita sudah pernah membuatnya. Lontong itu yang dimakan pakai sayur santan 'kan, Nyonya?" tanya Jena.
Via menganggukkan kepalanya sambil memberikan dua jempol untuk Jena. Dia segera melihat bahan-bahan makanan yang sudah disiapkan di atas meja, lalu menyuruh Jena untuk kembali menyimpan bahan masakan yang tidak dipakai.
"Oh iya, ada sesuatu yang ingin saya katakan, Nyonya," ucap Jena saat baru ingat tentang Hana.
Via yang sedang mencuci tangan di westafel menoleh ke arah Jena. "Ada apa, Bik? Apa ada masalah?" Dia menatap dengan penuh tanda tanya.
Jena lalu mengatakan tentang Hana yang saat ini sedang berada di ruang mencuci, juga tentang keinginan Hana yang ingin mengerjakan pekerjaan rumah. Pokoknya melakukan semua pekerjaan yang ada di tempat itu.
"Astaghfirullah. Kenapa dia memaksakan diri untuk bekerja sementara kakinya masih sakit?"
•
•
•
Tbc.
__ADS_1