
Yara tersenyum sambil menganggukkan kepalanya membuat Eric juga ikut tersenyum. Baiklah, Eric akan menyerahkan semuanya pada jalan takdir. Jika putranya memang berjodoh dengan Yara, maka itu sesuatu yang sangat bagus sekali. Tapi jika tidak, jtu artinya ada jodoh lain yang lebih baik untuk mereka kelak.
Setelah berbincang dengan Yara, Eric memutuskan untuk kembali ke hotel tempatnya menginap. Dia memilih untuk tidak melihat bertemu dengan putranya itu sebelum Ryder sendiri yang menginginkannya walaupun sudah beberapa hari ini dia selalu mengawasi laki-laki itu.
Setelah Eric pergi, Yara memilih untuk masuk ke dalam kamar karena sudah ada Dokter yang menjaga Ryder. Dia ingin menenangkan diri dan memikirkan semua yang sudah terjadi antara dia dan laki-laki itu.
Sementara itu, di tempat lain terlihat River sedang bertemu dengan seseorang di daerah yang sangat sunyi bahkan tidak ada orang lain selain mereka di tempat itu.
Dengan menggunakan topi hitam dan kaca mata hitam, River berjalan menghampiri laki-laki yang saat ini sedang menatapnya dengan sebatang rokok yang sedang dia nikmati.
"Apa kau sudah mendapatkannya?" tanya River pada lelaki tersebut. Dia malas untuk berbasa-basi dan memilih untuk langsung pada inti pertemuan.
"Anda selalu saja langsung ke tujuan ya, Tuan. Padahal nyawa saya sudah hampir melayang untuk mendapatkannya," ucap laki-laki itu dengan sinis. Selama mendapat tugas dari River, baru kali inilah dia sampai terluka parah. Bahkam berada di rumah sakit selama hampir seminggu lamanya."
River tersenyum sinis. "Kau tidak akan mati hanya karena seperti itu saja."
"Apa? Saya juga punya nyawa Tuan, bagaimana mungkin tidak mati?" bantahnya dengan tidak terima, tetapi selama ini dia memang selalu bisa bertahan hidup walau sudah terluka sangat parah.
"Sudahlah, aku tidak mau membuang waktu terlalu lama. Sekarang cepat serahkan apa yang kau dapatkan itu!" pinta River dengan tajam dan tidak sabar, membuat laki-laki itu langsung berdecih sebal.
Laki-laki itu lalu membuak tas ransel yang dia bawa, lalu mengeluarkan sesuatu dari sana. "Ini." Dia menyerahkan berkas yang berukuran besar pada River. "Anda akan terkejut saat melihatnya." Sambungnya kemudian.
River menerima pemberian itu dengan penuh tanda tanya, tetapi di sisi lain dia merasa senang karena sudah berhasil mendapatkan apa yang dia inginkan. Dia lalu mengambil ponselnya, dan mengirim sejumlah uang pada laki-laki itu.
"Kerja bagus," ucap River sambil menepuk bahu laki-laki itu, membuat laki-laki itu merasa malu.
Setelah mendapatkan apa yang dia inginkan, River segera masuk kembali ke dalam mobil. Namun, sebelum dia berhasil melajukan mobilnya itu. Tiba-tiba datang sekumpulan orang yang langsung menyerangnya dari segala penjuru arah, begitu juga dengan laki-laki yang baru bertemu dengannya tadi.
"Pergilah Tuan!" teriak laki-laki itu saat melihat River akan membuka pintu mobil, membuat River terdiam di tempatnya.
Laki-laki itu menatap River dengan senyum tulus, kemudian menganggukkan kepalanya seperti berkata tidak apa-apa. Saat ini dia siap mati demi mengabdikan diri padanya.
"Pergilah Tuan, terima kasih atas kebaikan yang Tuan berikan untuk saya dan keluarga selama ini. Saya tidak pernah menyesal menjadi pengikut Anda walau harus mati sekalipun, jadi biarkan aku mempersembahkan darahk sampai tetes terakhir untukmu."
__ADS_1
Laki-laki itu lalu melompat ke arah yang berlawanan agar orang-orang yang menyerang mereka menjauhi River.
River mencengkram kemudi mobilnya dengan kuat saat melihat apa yang terjadi. Tidak, dia tidak bisa meninggalkan anak itu begitu saja. Namun, bagaimana dengan Vano? Dia juga sudah bersumpah untuk selalu mengabdikan diri pada laki-laki itu, dan dia tidak bisa melanggar sumpah darah yang telah dia buat.
Dor.
Dor.
Suara tembakan menggema di mana-mana membuatnya menunduk. Tidak, sekarang bukan saatnya untuk bimbang seperti ini. Dia harus mencari alternativ lain untuk menyelesaikan semua ini.
Dengan cepat River mengambil ponselnya untuk mengirim pesan pada seseorang, tetapi sebelum itu dia membuka isi dari barang yang laki-laki itu berikam tadi padanya.
Mata River membulat sempurna saat melihat isi yang ada di dalamnya, dengan cepat dia mengaktifkan voice note yang ada diaplikasi hijau dan mengatakan semua yang ada dalam kotak itu tersebut. Setelah selesai dikirim, dia segera mematikan ponsel itu lalu kembali menegakkan tubuhnya.
Dengan cepat River menghidupkan mesin moblnya dan banting setir ke kanan untuk menabrak orang-orang itu. Ternyata dia memilih untuk bersama dengan laki-laki itu walau mungkin akan mati di tempat ini, tetapi tetap saja dia tidak bisa meninggalkan sesoerang yang rela mati untuknya.
River segera turun dari mobil dan melompat ke bagian kiri sambil mengeluarkan pistolnya, lalu mengarahkan pistol itu ke mobilnya.
Dor.
Dor.
Dor.
Mobil itu langsung meledak saat mendapat 3 kali tembakan dari River, karena memang sudah dibuat dengan sedemikian rupa, membuat laki-laki yang merupakan anak buah River langsung menoleh ke belakang.
Matanya membulat sempurna saat melihat apa yang River lakukan. "Apa yang Anda lakukan?" Dia berteriak dengan kuat, dan dipenuhi amarah saat melihat River tidak pergi dari tempat itu, tetapi malah meledakkan mobilnya.
River sendiri merasa tidak peduli, dia lalu berpindah ke bagian belakang untuk menghindari seranagan.
"Cepat tangkap mereka baik hidup atau pun mati!" Teriak seorang lelaki yang baru saja datang dengan membawa pasukan, dan total dari semua musuh mencapai 30 orang.
"Tuan, kenapa Anda tidak pergi?" tanya laki-laki itu dengan tajam.
__ADS_1
"Diamlah. Telingaku sakit mendengar suaramu," ucap River yang tidak mau mendengar ucapan laki-laki itu.
Laki-laki itu berdecak kesal saat melihatnya. Dia rela mati di sini demi laki-laki itu, tetapi jika River juga sedang bersama, lalu untuk apa dia mati?
"Tuan, Anda bisa mati," ucap laki-laki itu kembali, tetapi dia dalam relung hatinya dia merasa senang karena River tidak meninggalkanya.
"Kau pikir aku takut mati?" ketus River dengan tajam sambil mengarahkan senjatanya ke arah musuh.
Dor.
Dor.
"Aku lebih takut dengan omelan ibumu dari pada kematian, Junior," sambung River. Sempat-sempatnya mereka bercerita saat genting seperti ini.
Tembakan terdengar di mana-mana, bahkan para musuh semakin mendekat membuat mereka berdua semakin tersudut.
"Tuan, Anda masih menyukai ibu saya?"
"Diam!" bentak River. "Tapi Junior, sepertinya kita benar-benar akan mati di sini." Sambungnya saat sudah tidak ada jalan lagi untuk melarikan diri.
"Tidak apa-apa, aku bangga mati bersama dengan calon ayahku."
Deg.
River memalingkan wajahnya yang bersemu merah, sampai lupa jika saat ini mereka sudah dikepung oleh para musuh.
Sementara itu, di tempat lain Vano sedang duduk bersama dengan semua keluarganya. Tiba-tiba dia mendapat voice note dari River, lalu menghidupkannya dengan volume paling kuat.
"Tuan, saya sudah mendapatkan bukti tentang apa yang Felix lakukan. Dia bukan hanya menjadikan perusahaan baru itu sebagai pondasi, tapi berniat ingin merebut perusahaan Anda juga. Karena mereka sedang membangun pasukan besar dengan jumlah orang mencapai ratusan ribu jiwa untuk melawan pemerintah. Minta tolonglah pada tuan Eric, dia pasti paham dengan apa yang saya sampaikan. Jangan tunggu saya Tuan, cepat selesaikan semuanya. Dor."
•
•
__ADS_1
•
Tbc.