
Setelah berhasil menemui orang tua Aidan dan mendapatkan restu, Rosa beranjak pergi untuk menemui laki-laki itu. Dia tidak menyangka jika jalannya akan sangat mudah seperti ini, kenapa tidak dari dulu saja dia menemui orang tua Aidan? Jika tidak dia pasti sudah menikah dengan laki-laki itu.
Beberapa saat kemudian, Rosa sudah berada di perusahaan. Seperti biasa dia akan masuk ke dalam ruangan Aidan tanpa permisi membuat laki-laki itu tersentak kaget.
"Apa yang kau lakukan, Rosa?" tanya Aidan dengan tajam.
Saat ini dia sedang bersama dengan anggota dari salah satu timnya, tetapi Rosa masuk begitu saja membuat pekerjaan mereka jadi terhenti.
Rosa tersenyum lalu mendekat ke samping Aidan tanpa peduli jika saat ini ada teman satu timnya yang lain di ruangan itu.
"Ada yang mau aku beritahukan padamu, Ai," ucap Rosa dengan semangat yang membara membuat Aidan menghela napas frustasi, sementara wanita lain yang ada di ruangan itu menatap mereka berdua dengan tajam.
"Aku sedang bekerja, Rosa. Bisakah kau tidak masuk ke ruanganku dan mengganggu pekerjaanku?"
Ucapan Aidan terdengar sangat tajam, tetapi Rosa tetap saja tidak peduli dan malah menyuruh wanita lain yang ada di ruangan itu keluar.
Aidan yang sudah merasa tidak tahan dengan kelancangan Rosa langsung menggebrak meja, membuat kedua wanita yang ada di hadapannya terkesiap.
"Aku adalah atasanmu, Rosa. Jadi bersikaplah yang sopan atau aku bisa saja memberikan surat peringatan padamu!"
Glek.
Kedua wanita itu mematung saat mendengar ucapan Aidan. Wanita yang sama sekali tidak ada hubunganya dengan mereka saja merasa takut, tetapi tidak untuk Rosa.
"Berikan saja, Aidan. Karena sebentar lagi aku akan menjadi istrimu, jadi tidak perlu bekerja lagi,"
"Apa?"
Aidan memekik kaget saat mendengar ucapan Rosa, sementara wanita itu memaksa temannya agar segera keluar dari ruangan tersebut.
Setelah wanita itu keluar, Rosa langsung berbalik dan menghamburkan dirinya dalam pelukan Aidan membuat laki-laki itu terkesiap.
"Lepaskan aku, Rosa. Apa kau sudah gila?"
Rosa tersenyum lebar lalu mengecup bibir Aidan. "Aku sudah bicara pada ibumu, Sayang. Sebentar lagi kita akan menikah."
__ADS_1
Aidan menatap Rosa dengan tajam lalu mendorong tubuh wanita itu sampai pelukannya terlepas.
"Cukup, Rosa. Hentikan semua kegilaanmu ini dan jangan lagi menggangguku!"
Aidan lalu menarik tangan Rosa sambil berjalan ke arah pintu, dia membuka pintu tersebut dan menghampaskan tubuh wanita itu dengan kasar.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Rosa dengan tatapan tajamnya.
Beberapa karyawan yang ada di tempat itu langsung melihat ke arah Aidan dan juga Rosa, mereka bertanya-tanya sebenarnya ada hubungan apa antara laki-laki itu dengan Rosa.
"Lain kali pakai etikamu saat masuk ke dalam ruanganku!"
Brak.
Aidan langsung menutup pintu ruangannya dengan kuat membuat tubuh Rosa tersentak kaget, dia lalu memijat pelipisnya saat mengingat apa yang wanita itu katakan tadi.
Dengan cepat dia mengambil ponsel lalu menelepon sang ibu, dia harus menanyakan perihal ucapan Rosa tadi.
"Ibu sudah membuat keputusan, Aidan. Lebih baik kau bersama dengan wanita itu dari pada Yara, untuk apa kau mempertahankan wanita yang menjadi boneka orang tuanya? Lagi pula kita tidak butuh wanita seperti itu. Lebih baik yang biasa saja dan tidak kebanyakan tingkah."
"Bagaimana mungkin ibu melakukan semua ini?"
Aidan mengusap wajahnya dengan frustasi. Dia saja masih berusaha untuk mempertahankan rumah tangganya dengan Yara, tetapi sang ibu malah membuat keputusan seperti itu. Memang ibunya mau, jika mereka jatuh miskin?
"Si*al. Aku harus bicara pada ibu."
Aidan lalu mengambil ponselnya yang sudah mati akibat terjatuh, dia kembali duduk dikursi kerjanya untuk melanjutkan pekerjaan agar bisa pulang lebih cepat.
Sementara itu, Yara sedang memeriksa kondisi pasiennya yang terlihat mengkhawatirkan. Dia terlihat fokus pada pekerjaannya hingga tidak sadar jika saat ini sang papa datang ke klinik dan memperhatikan dari luar ruangan.
Mahen tersenyum bangga saat melihat pekerjaan Yara, apalagi keuletan putrinya itu yang sama persis seperti Via.
Beberapa saat kemudian, Yara sudah selesai melakukan pekerjaannya dan keluar dari ruangan pemeriksaan. Dia lalu berbalik dan terkejut melihat keberadaan sang papa.
"Loh, Papa?"
__ADS_1
Mahen tersenyum dan beranjak mendekati Yara yang langsung di salim oleh putrinya itu. Kemudian dia mengatakan jika ingin membicarakan sesuatu yang penting dengan sang putri.
Yara lalu mengajak papanya ke ruangan. Dia menyuguhkan secangkir kopi beserta cemilan pada sang papa.
"Memangnya ini kedai kopi? Pake disuguhkan kopi sama camilan segala."
Yara tergelak saat mendengar ucapan sang papa. Walau pun dia membuka klinik, tetapi di tempat itu dia menyediakan mesin pembuat kopi dan juga camilan.
"Aku kan suka ngopi Pa, makanya nyiapin semua itu."
Mahen mengangguk-angukkan kepalanya, dia lalu mengambil kopi itu dan menyesapnya beberapa tegukan.
"Begini, Yara. Papa berniat untuk mengajakmu ke indonesia." Mahen mulai membuka obrolan mereka dan memberitahukan maksud dan tujuannya datang ke tempat itu.
"Papa ingin aku tinggal di sana?"
Mahen menganggukkan kepalanya. "Tapi papa tidak akan memaksamu, Nak. Papa senang jika kau bahagia tinggal bersama dengan mama dan papamu, karena selama ini mereka mengurusmu dengan baik. Papa hanya ingin kau melupakan semua masalah yang sedang terjadi, walau pun hanya sebentar saja berada di sana."
Yara terdiam saat mendengar apa yang papanya katakan. Tidak ada salahnya juga jika dia tinggal atau berkunjung ke rumah sang papa, hanya saja masih ada banyak hal yang harus dia kerjakan.
"Tentu saja aku mau, Pa. Tapi pekerjaanku masih banyak," ucap Yara.
"Tidak apa-apa, Nak. Papa tidak memaksamu."
Yara mengangguk dengan senyum lebar. "Aku akan ke sana setelah resmi bercerai, Pa."
"Benarkah?"
"Tentu saja. Lagi pula aku sudah sangat merindukan sih kecil."
•
•
•
__ADS_1
Tbc.