Takdir Cinta Yang Kau Pilih

Takdir Cinta Yang Kau Pilih
Bab 147. Balasan yang Setimpal.


__ADS_3

Sementara itu, di tempat lain terlihat anak buah Edward telah berhasil menyusul mobil polisi. Mereka menahan laju mobil itu sampai menbuat polisi menjadi marah.


"Apa yang Anda semua lakukan, hah? Berani sekali kalian menghalangi mobil polisi!" ucap Polisi itu dengan tajam. Terlihat ada empat orang polisi di tempat itu. Mereka merasa khawatir jika orang-orang itu adalah anak buah Bayu.


"Kami adalah anak buah pak Edward, beliau menyuruh kami untuk menghentikan Anda semua."


Mendengar ucapan laki-laki itu, seketika tubuh Bayu menjadi gemetar. Dia berusaha untuk melepaskan borgol yang mengekang kedua tangannya, bahkan borgol itu sengaja dikaitkan ke besi yang ada di dalam mobil agar tidak bisa melarikan diri.


"Minggir! Jangan menghalangi tugas kami," hardik polisi itu kembali. Tidak peduli dengan apa yang anak buah Edward katakan.


Salah satu anak buah Edward langsung memberikan kode untuk menyergap keempat polisi itu, apalagi jumlah mereka tiga kali lebih banyak dari mereka.


Tentu saja keempat polisi itu melawan mereka semua, hingga terjadilah baku hantam di tempati itu membuat Bayu harus segera melarikan diri.


"Si*al!" umpat Bayu dengan kesal. Dia sama sekali tidak bisa membuka borgol itu, apalagi melarikan diri tempat itu.


Keempat polisi itu kewalahan melawan para anak buah Edward yang memang terdiri dari orang-orang yang sangat terlatih. Bukan hanya dari segi bela diri saja, tetapai mereka juga sangat brutal dan kuat.


Dor.


Polisi memberikan tembakan peringatan untuk menghentikan aksi mereka, tetapi para anak buah Edward malah semakin galak.


"Kalian harus menghubungi polisi yang lain, jangan sampai-"


Buak.


Bayu tidak dapat melanjutkan ucapannya saat sebuah bogeman melayang ke wajahnya, tentu saja tinjuan itu berasal dari salah satu anak buah Edward.


"Diam atau kubunuh kau!" ancam laki-laki itu membuat Bayu tidak berani lagi untuk bersuara.


Akhirnya para anak buah Edward berhasil melumpahkan keempat polisi itu. Mereka segera mengambil senjata dan juga alat komunikasi mereka agar tidak bisa menghubungi polisi yang lain.


Tidak berselang lama, sampailah Edward ke tempat itu dengan raut wajah yang sangat menyeramkan, bahkan anak buahnya tidak berani untuk bersuara.


"Keluarkan dia!" Perintah Edward.


"Apa yang Anda lakukan? Anda tidak boleh melakukan sesuatu pada tersangka!" seru salah satu polisi.


Edward tersenyum tipis. "Saya berjanji tidak akan membunuhnya, Pak. Jadi Anda semua tidak perlu khawatir." Nada suaranya terdengar sangat lirih.

__ADS_1


Wajah Bayu langsung pias dan pucat melihat kedatangan Edward. Dengan cepat dia memohon agar laki-laki itu mempercayainya.


"Saya bersumpah tidak tahu apapun tentang kematian Edwin, Pak. Saya tidak-"


Buak.


Sebuah tinjuan kembali mendarat diwajah Bayu hingga membuat tubuh laki-laki itu tersungkur ke atas tanah. "Beraninya kau bersumpah setelah melenyapkan putraku!" Edward langsung menendang tubuh Bayu dengan kuat. Dia bahkan menginjak tubuh laki-laki itu sampai membuat Bayu mengerrang kesakitan.


"Tidak, saya tidak-" Bayu tidak dapat melanjutkam ucapannya karena Edwad menarik bajunya yang sudah bersimbah darah, lalu menghempaskannya hingga menghantam mobil polisi.


Brak.


Benturan yang sangat kuat menggema di tempat itu membuat keempat polisi berusah untuk menghentikannya, tetapi mereka tidak bisa bergerak karena diikat oleh anak buah Edward.


"Kenapa, kenapa kau melenyapkan putraku, hah? Kenapa, bangs*at!" tanya Edward sambil terus melayangkan pukulan serta tendangan ke tubuh Bayu, hingga laki-laki itu terus mengerrang kesakitan. "Kenapa kau tega melakukan semua itu pada temanmu sendiri, kenapa?" Dia semakin membabi-buta.


Tubuh Bayu tampak sangat mengenaskan dengan luka di mana-mana, bahkan tubuh itu sudah bermandikan darah.


"Hentikan! Kau bisa kami penjara jika terus-"


"Diam!" Potong Edward dengan tajam. Kedua tangannya bergetar karena masih merasa kurang menghajar bajing*an itu, padahal punggung tangannya sudah luka dan memar.


"Lepaskan polisi itu!" Petintah Edward kemudian. Tubuhnya lalu terhuyung ke belakang dan langsung ditangkap oleh salah satu anak buahnya.


"Anda tidak apa-apa, Pak?" tanya laki-laki itu dengan panik.


Edward menganggukkan kepalanya. Tenaganya terasa habis karena terus menghajar laki-laki itu, tetapi rasanya tetap tidak puas juga sampai ingin sekali dia membunuh laki-laki itu.


Setelah lepas dari ikatan anak buah Edward, keempat polisi itu langsung menangkap Edward dan membawa laki-laki itu ke kantor polisi, karena sudah menghalangi tugas mereka dan juga menghajar tersangka sampai parah seperti itu.


Edward sama sekali tidak melawan karena memang sudah siap dengan sanksi yang akan di terima, dia lalu kembali masuk ke dalam mobil miliknya bersama dengan dua orang polisi, sementara dua lainnya membawa Bayu.


*


*


Keesokan harinya, tepat pukul enam pagi orang-orang dari rumah sakit sudah sampai di halaman rumah yang Yara tempati. Tampak para petugas medis menyambut kedatangan mereka, bersama para perangkat desa dan Ryder juga.


"Apa kalian semua baik-baik saja?" tanya Ryzal pada semua anggotanya. Dia memperhatikan satu persatu pegawainya untuk memastikan jika mereka baik-baik saja.

__ADS_1


"Kami semua baik-baik saja, Tuan. Terima kasih karena bersedia untuk menjamput kami," sahut Yara sambil menganggukkan kepalanya.


Ryzal menghela napas lega saat mendengarnya, begitu juga dengan para anggotanya yang ikut menjemput para relawan yang bertugas di desa itu.


Mereka semua lalu saling bersalaman dengan para perangkat desa, tetapi tidak dengan kepala desa yang sedang berurusan dengan pihak kepolisian.


Yara lalu mempersilahkan semua orang untuk masuk ke dalam rumah. Setelah masuk, dia segera menyajikan minuman dan makanan ringan untuk mereka dengan dibantu oleh yang lainnya.


"Lama tidak bertemu, Tuan Ryder. Bagaimana kabar Anda?" tanya Ryzal dengan ramah, dia sengaja duduk di samping Ryder agar bisa berbincang dengan laki-laki itu.


"Benar, sudah lama kita tidak bertemu. Saya masih tetap sehat seperti yang Anda lihat," sahut Ryder.


Ryzal terkekeh mendengar jawaban Ryder, entah kenapad dia merasa jika laki-laki itu sedikit lebih ramah ketimbang saat bertemu dulu.


"Bagaimana, apa Anda sudah menyelesaikannya?" tanya Ryder kemudian.


Ryzal mengangguk. "Saya sudah mengurus semuanya, Tuan. Dan Tuan Elzo ingin segera bertemu dengan Anda untuk membahas masalah pembangunannya."


Ryder tersenyum senang. Tidak sia-sia dia bekerja sama dengan Ryzal untuk menyelesaikan masalah pembangunan rumah sakit, bahkan laki-laki itu juga sudah mengurus segala peralatan dan petugas medis yang akan bekerja nanti.


"Terima kasih, Anda pasti akan mendapat bayaran yang setimpal," ucap Ryder sambil menepuk bahu Ryzal dengan pelan.


Ryzal tersenyum lebar. Dia senang bisa dipercaya oleh Ryder untuk mengurus masalah pembangunan rumah sakit karena memang sudah bertahun-tahun dia bekerja dalam bidang itu.


Zafran yang sejak tadi mendengar obrolan antara Ryder dan Ryzal ikut tersenyum tipis. Dia paham betul apa yang sedang mereka bicarakan, karena memang Ryder sudah menceritakan semuanya.


"Semoga semuanya berjalan lancar, Ryder. Aku juga nanti akan mengatakannya pada papa, papa pasti senang mendengar apa yang kau lakukan." Zafran merasa bangga dengan niat baik Ryder.


Setelah menghabiskan waktu satu jam di tempat itu, akhirnya Ryzal mengajak semua anggotanya untuk kembali ke kota. Terlihat para masyarakat juga sudah berkumpul di depan rumah itu, karena ingin mengucapkan salam perpisahan pada Yara dan rekan-rekannya yang lain.


Yara lalu bersalaman dengan semua orang yang ada di tempat begitu, begitu juga dengan kelima rekan-rekannya yang lain. Ucapan terima kasih dan tangis kesedihan karena akan berpisah menggema di tempat itu, tampak para penduduk benar-benar sudah menyayangi mereka.


"Sekali lagi saya ucapkan banyak terima kasih pada Anda semua karena sudah menerima kehadiran kami dengan baik. Kami banyak mendapat pengalaman dan pembelajaran selama bertugas di desa ini, semoga suatu saat nanti kita bisa bertemu lagi."




__ADS_1


Tbc.


__ADS_2