Takdir Cinta Yang Kau Pilih

Takdir Cinta Yang Kau Pilih
Bab 125. Hanya Sekedar Obrolan.


__ADS_3

Semua orang menatap Zafran dengan heran dan bertanya-tanya, mereka tidak mengerti dengan apa yang baru saja laki-laki itu ucapkan.


"Ryder tetap akan hidup kalau ada mbak Yara, itu intinya," sambung Zafran kemudian. Dia lalu beranjak pergi dari tempat itu untuk menyusul Ryder ke dalam rumah.


Semua orang tampak saling menatap dengan bingung. Sebenarnya apa sih, yang laki-laki itu katakan? Benar-benar tidak jelas sekali batin mereka semua.


"Tapi dia tampan sekali ya, sama tampannya seperti tuan Ryder," ucap gadis bernama Hana. Dialah yang selama ini menyiapkan makanan untuk mereka semua.


Ansel dan Lewis tertawa saat mendengar ucapan Hana. "Kau sudah mulai pintar melihat orang tampan yah, Hana?" Ansel mencibir sambil terkekeh pelan.


Hana menundukkan kepalanya dengan malu. Jangankan dia, anak kecil saja pasti juga akan tahu kalau wajah Zafran itu sangat tampan.


"Tapi Hana, kau tidak boleh naksir dengan Zafran. Nanti calon suamimu marah loh," ejek Ansel kembali sambil mencondongkan tubuhnya ke arah gadis mungil itu.


Hana menggelengkan kepalanya. "Ti-tidak kok, aku tidak naksir. A-aku hanya bilang tampan saja, bu-bukan berarti naksir."


Mereka semua langsung tertawa terbahak-bahak saat melihat wajah Hana memerah bak kepiting rebus. Apalagi gadis itu menjawab ucapan Ansel dengan panik dan menggebu-gebu, tentu saja membuat suasana menjadi lucu.


"Hana!"


Hana yang sedang menunduk malu tersentak kaget saat mendengar panggilan seseorang, begitu juga dengan semua orang yang ada bersamanya, hingga membuat tawa mereka terhenti dan langsung menoleh ke sumber suara.


"Ma-mas Dion?" ucap Hana dengan senyum lebar saat melihat sosok laki-laki yang saat ini sedang berdiri di hadapannya. Dengan cepat dia menghampiri Dion yang sedang menatapnya dengan tajam. "Kenapa Mas ada di sini? Bukannya Mas-"


"Aku datang untuk menjemputmu, tapi kau malah bersama para laki-laki yah," potong Dion dengan tajam.


Hana menelan salivenya dengan kasar saat melihat kemarahan di wajah calon suaminya itu, sementara Ansel dan yang lainnya hanya diam mendengarkan.


"Ma-mas salah paham, kami cuma mengobrol saja," ucap Hana menjelaskan.

__ADS_1


Dion mengabaikan ucapan Hana dan menoleh ke arah Ansel dan Lewis dengan tatapan tajam, seolah sedang mengintimidasi mereka.


"Maaf, Tuan. Kami hanya sedang mengobrol saja, dan tidak melakukan hal apapun," seru Ansel. Dia tidak mau terjadi kesalahpahaman, padahal ada banyak orang di tempat itu.


Dion mengangguk, tetapi tatapannya tidak mengendur. "Saya akan membawa Hana pulang, saya harap kalian sadar diri." Dia langsung berbalik lalu menarik tangan Hana untuk pergi dari tempat itu.


Semua orang tercengang saat mendengar dan melihat apa yang Dion lakukan. "Dasar laki-laki aneh, memangnya kita sedang mabuk makanya disuruh sadar diri?" Lewis merasa sangat kesal.


Ansel ikut mendengus sebal, begitu juga dengan dua orang wanita yang merupakan rekan kerja mereka.


"Tapi calon suami Hana itu terlihat sangat aneh dan menyeramkan. Kenapa Hana mau dengan dia sih?" cibir Ansel dengan tidak mengerti.


Lewis setuju dengan apa yang Ansel katakan. Sepertinya ada yang aneh dengan laki-laki bernama Dion itu, apalagi tatapan mata Dion terlihat sangat menyeramkan.


"Sudahlah, itukan urusan Hana. Kenapa juga kita yang-"


"Memangnya ada apa dengan Hana?" tiba-tiba Yara kembali bergabung dengan mereka semua membuat ucapan Ansel terhenti.


menaruh hati pada Hana, tetapi rupanya gadis itu sudah akan menikah.


Setelah selesai diobati, Ryder dan Zafran beranjak pergi dari tempat itu untuk kembali pulang ke rumah. Dalam perjalanan, mereka bertemu dengan Bayu yang juga akan menemui Ryder.


"Syukurlah kau baik-baik saja, Ryder. Aku sangat mencemaskanmu," ucap Bayu dengan senang.


Ryder mengangguk. "Tentu aku harus baik-baik saja, jika tidak, siapa yang akan membantumu mengurus pabrik?"


Bayu langsung tergelak saat mendengar ucapan Ryder. "Dasar kau ini, bisa-bisanya ngomong kayak gitu. Tapi, iya juga sih." Dia kembali tertawa membuat Ryder juga ikut tertawa.


Zafran yang sejak tadi diam mulai merasa kesal. Sepertinya dia sama sekali tidam dianggap, apa mereka pikir dia itu makhluk tak kasat mata?

__ADS_1


"Ehem." Zafran berdehem untuk menghentikan tawa mereka membuat Ryder langsung menoleh ke arahnya.


"Oh iya, kenalkan, ini Zafran. Dia adiknya Dokter Yara, dia akan tinggal bersama denganku," ucap Ryder memperkenalkan.


Bayu tersenyum lalu mengulurkan tangannya. "Nama saya Bayu, senang bertemu denganmu, Zafran."


Zafran menerima uluran tangan itu sambil menganggukkan kepalanya, tetapi dia sama sekali tidak mengatakan apa-apa sampai jabatan tangan mereka terlepas.


"Ayo ke rumah, ada banyak hal yang harus kita bicarakan!" ajak Ryder kemudian.


Bayu mengangguk karena memang tujuannya adalah bertemu dengan Ryder. Dia langsung datang menemui laki-laki itu saat mendengar kabar kepulangannya.


Setelah sampai di rumah, Zafran memutuskan untuk langsung istirahat karena memang sudah merasa sangat lelah.


Hari ini Zafran melakukan perjalanan panjang yang mengurus emosi jiwa dan raga, lalu setelah itu dia masih harus ke sana kemari dengan berjalan kaki membuat tubuhnya terasa pegal.


Zafran yang sudah berdiri di pintu kamar dan akan masuk ke dalamnya, seketika menoleh ke arah belakang saat merasa ada seseorang yang menatapnya dengan tajam.


"Kenapa tadi aku merasa seperti ada yang menatapku?" Zafran merasa heran, sementara hanya ada Ryder dan Bayu saja di ruangan itu yang terlihat sedang membahas tentang pekerjaan.


"Apa aku sedang berhalusinasi? Tapi, aku merasa benar-benar yakin jika tadi ada yang menatapku dengan tajam dan menyeramkan." Zafran jadi pusing sendiri. Dia lalu bergegas masuk ke dalam kamar dan tidak lupa mengunci pintunya.


Zafran merebahkan tubuhnya di atas ranjang sambil menatap langit-langit kamar. Terlihat ada seekor laba-laba yang sedang merakit rumah dengan jaring-jaringnya.


"Baru saja tiba di sini aku sudah merasa sangat lelah," gumam Zafran sambil menghela napas berat. "Tapi kalau memang Ryder akan mengajak mbak Yara tinggal di sini, maka aku harus memeriksanya dulu. Aku harus memastikan bahwa lingkungan ini baik untuk mbak Yara, aku tidak mau ada seorang saja yang mengganggunya."



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2