Takdir Cinta Yang Kau Pilih

Takdir Cinta Yang Kau Pilih
Bab 117. Maafkan Orangtuaku.


__ADS_3

Yara menatap Ryder dengan tajam dan perasaan kesal, walaupun dia sempat merasa sangat khawatir dengan keadaan laki-laki itu.


Bukannya takut, Ryder malah tersenyum saat melihat kemarahan diwajah Yara. "Maaf, aku terpaksa melakukannya, Yara. Tapi jika waktu diulang pun, aku tetap akan melakukannya." Dia berkata dengan pelan dan penuh dengan kehangatan.


Yara menghela napas kasar. Sudahlah, percuma juga dia membahas masalah yang telah berlalu, dan yang terpenting semua orang sudah kembali dengan selamat.


"Lukamu kembali terbuka, dan lenganmu ini juga terkena luka tembak, 'kan?" tanya Yara kemudian sambil memperhatikan luka yang ada di lengan Ryder.


Ryder mengangguk. Benar, tadi dia tidak sempat menghindar saat Luke melesatkan serangan, hingga lengannya menjadi korban.


"Tapi rasanya tidak-" Ryder tidak bisa melanjutkan ucapannya saat mendapat tatapan tajam dari Yara, hingga akhirnya dia terdiam dan memilih untuk menutup mulutnya rapat-rapat.


Setelah mengobati luka yang ada ditubuh Ryder, Yara beralih memanggil yang lainnya agar bisa mengobati luka mereka juga. Terutama River dan laki-laki yang bersama pamannya tadi, walaupun mereka tidak terluka parah.


"Saya bisa mengobatinya sendiri, Nona," tolak River dengan halus. Jika luka seperti ini saja, maka tidak berasa apa-apa untuknya.


"Duduklah, Paman," ucap Yara tanpa memperdulikan perkataan River.


Mau tidak mau, River dan yang lainnya mengikuti apa yang Yara inginkan, sementara Ryder tampak menahan senyuman saat melihat wajah mereka semua.


"Papa sudah diobati oleh mama, Sayang," ucap Vano sambil menghampiri Yara yang sedang sibuk mengobati luka di tubuh Junior. Saat berada di kamar, Zayyan memberitahunya untuk menemui Yara agar bisa diobati.


Yara mengangguk paham, lalu kembali melanjutkan pekerjaannya. Dia juga mengobati luka goresan ditangan Eric, membuat laki-laki itu merasa senang.


Beberapa saat kemudian, semua orang sudah selesai diobati. Saatnya membawa Ryder ke rumah sakit agar mendapatkan penanganan yang tepat, karena sebuah peluru masih bersarang di lengan sebelah kirinya.


"Pa!"


Vano yang sedang berbicara dengan Eric beralih melihat ke arah Zafran yang sedang berjalan dari arah luar, begitu juga dengan semua orang yang ada di tempat itu.


"Ada apa, Zaf?" tanya Vano.

__ADS_1


Zafran mendekati sang papa dengan tatapan yang sulit untuk diartikan. "Di luar ada William, dia meminta izin untuk bertemu dengan Papa."


Vano mengernyitkan kening saat mendengar ucapan putranya. "Kenapa harus minta izin segala? Panggil dia ke sini." Dia merasa bingung, padahal biasanya William akan langsung masuk ke rumahnya jika berkunjung.


Zafran mengangguk lalu memanggil William agar masuk ke dalam rumah, membuat William yang sedang berada di depan pintu meneteskan air mata.


Dengan perlahan, William melangkah masuk ke dalam rumah dengan kepala tertunduk. Dia benar-benar merasa sangat malu dan juga merasa bersalah dengan apa yang sudah orang tuanya lakukan, bahkan dia datang untuk mempertanggung jawabkan semuanya.


"Willi, kau dari mana saja?" tanya Yara dengan ramah saat melihat kedatangan William. Namun, dia merasa heran karena laki-laki itu tidak terlihat seperti biasanya.


Dengan cepat Yara beranjak dari sofa untuk menghampiri William, sementara yang lain juga menatap laki-laki itu dengan heran dan bertanya-tanya.


"Ada apa, Willi? Kenapa kau menangis?" tanya Yara kembali, dia merasa khawatir saat melihat laki-laki itu menangis.


William mengepalkan kedua tangannya dengan erat. "Maaf, maafkan keluarga saya."


Bruk.


Semua orang tersentak kaget saat tiba-tiba William bersimpuh di hadapan semua orang, terutama Yara yang langsung berjongkok di samping laki-laki itu.


Via yang sedang menyiapkan makan malam di dapur, bergegas pergi ke ruang keluarga saat mendengar teriakan suaminya. Dia takut kembali terjadi keributan.


"Maaf, saya mohon maafkan orang tua saya," ucap William dengan tubuh gemetaran. Dia menangkupkan kedua tangannya di depan dada dengan kepala tertunduk, merasa tidak pantas untuk menatap mereka semua.


Yara dan Vano menggelengkan kepala mereka saat mendengar permintaan maaf William, sementara Eric dan Ryder yang tidak tahu siapa laki-laki itu hanya menatap dengan bingung.


"Bangunlah, Willi. Kau tidak melakukan apapun, jadi jangan seperti ini," pinta Yara. Dia berusaha untuk membangunkan William, tetapi laki-laki itu sama sekali tidak bergerak.


Vano menghela napas kasar. Dia lalu beranjak mendekati William dan berjongkok di hadapan laki-laki itu.


"Lihat om, William!" perintah Vano dengan tegas dan penuh penekanan membuat William terkesiap. Namun, William tetap tidak berani untuk menegakkan kepalanya. "Kau tidak dengar perintah om?" Dia lalu mencengkram kedua bahu William membuat laki-laki itu mau tidak mau terpaksa menatap ke arahnya.

__ADS_1


"Kau sedang apa, hah? Meminta maaf atas nama kedua orang tuamu?" tanya Vano dengan sarkas.


William menatap Vano dengan mata berkaca-kaca, dia lalu mengangguk dengan penuh penyesalan. "Ma-maafkan mereka, Om. Gara-gara mereka Om dan yang lainnya berada dalam bahaya, dan, dan mereka juga-"


"Hentikan!"


Ucapan William langsung terhenti saat mendengar perintah Vano, sementara Vano sendiri beralih mengusap bahu laki-laki itu.


"Kau tidak melakukan apapun, jadi jangan meminta maaf atas nama mereka. Mereka lebih dari mampu untuk mempertanggung jawabkan perbuatan mereka sendiri," ucap Vano kemudian.


Dia lalu memaksa William untuk bangun dari lantai. Setelah laki-laki itu berdiri di sampingnya, Vano langsung merangkul bahu William dengan erat.


"Kau sudah om anggap seperti anak om sendiri, jadi jangan melakukan hal seperti ini lagi."


William tertegun saat mendengar ucapan Vano, hingga air mata kembali jatuh membasahi wajahnya. Sungguh dia merasa sangat tidak pantas diperlakukan baik setelah apa yang orang tuanya lakukan.


"Jangan menangis, William. Apa yang om Vano katakan itu benar," sambung Via sambil tersenyum dengan hangat. "Alhamdulillah mereka semua baik-baik saja, jadi jangan merasa bersalah atas apa yang orang tuamu lakukan."


William mengangguk paham sambil mengusap air matanya. "Terima kasih, terima kasih banyak. Aku bersumpah tidak akan pernah mengecewakan kalian semua." Dia berjanji pada dirinya sendiri jika tidak akan melakukan hal buruk seperti apa yang orang tuanya lakukan.


"Tentu saja. Kalau kau sampai macam-macam, maka mbak sendiri yang akan menarik telingamu," sahut Yara sambil menarik telinga William, membuat laki-laki itu memekik sakit lalu merangkul lengannya dengan erat.


Kedua mata Ryder menyala dahsyat saat melihat apa yang William lakukan. Beraninya laki-laki itu merangkul calon istrinya, apa dia tidak tahu jika calon suami Yara ada di depan matanya?


Eric yang memperhatikan Rayder tampak menahan tawa saat melihat wajah putranya itu merah padam, begitu juga dengan Zafran dan Zayyan.


"Hayo, William. Lepaskan tanganmu itu sebelum calon suami mbak Yara marah."



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2