
Hana tersentak kaget saat mendengar panggilan seseorang hingga membuat ucapannya terhenti, begitu juga dengan Yara yang langsung menoleh ke arah orang tersebut.
"I-iya Ma," ucap Hana. Dia lalu pamit pada Yara dan yang lainnya karena harus segera menghampiri mertuanya.
"Ngapain aja sih kamu? Lama amat," hardik seorang wanita sambil mengambil tas yang ada di tangan Hana, membuat wanita itu terkesiap.
"Ma-maaf, Ma. Tadi aku sedang-"
"Udah diam, banyak kali alasanmu," potong wanita itu dengan cepat. Dia lalu kembali memberikan tasnya pada Hana setelah mengambil ponsel untuk selfi-selfi di klinik kecantikan itu.
Yara mengernyitkan keningnya dengan tajam saat melihat apa yang terjadi pada Hana, bahkan semua orang yang ada di tempat itu juga memperhatikan ke arah mereka.
"Siapa wanita itu, apa dia tidak bisa memperlakukan orang lain dengan baik?" ucap Yara. Dia merasa kesal melihat apa yang wanita itu lakukan terhadap Hana, bagaimana mungkin ada wanita sekasar itu?
"Entahlah, tadi aku sempat dengar kalau Hana memanggilnya ma," sahut Ryder.
"Benarkah? Apa dia mertuanya Hana?" tanya Yara dengan penasaran, karena seingatnya ibu tiri Hana bukan wanita itu.
Zafran yang juga melihat semuanya hanya diam sambil menghela napas kasar. Ternyata sifat Hana tidak berubah juga, tetap lemah dan mudah ditindas seperti itu.
Tidak berselang lama, datanglah karyawan menghampiri Yara untuk menanyakan apa yang mereka inginkan. Lalu membawa mereka masuk setelah tahu jika mereka ingin melakukan treatmen.
Setelah masuk, Yara kembali melihat wanita yang bersama dengan Hana tadi. Wanita itu sedang menjalani treatmen yang sama dengannya, sementara Hana sendiri hanya diam menunggu di kursi depan.
"Sudahlah, aku tidak boleh ikut campur," gumam Yara. Dia lalu masuk ke ruangan khusus untuk mulai melakukan perawatan, sementara Zafran dan Ryder juga berada di ruangan lain bersama dengan karyawan laki-laki.
Tubuh Yara benar-benar terasa sangat nyaman saat merasakan pijatan-pijatan dari karyawan itu, dia bahkan sampai tertidur karena merasa keenakan.
Dua jam kemudian, semua treatmen sudah dijalankan oleh Yara. Sekarang tubuhnya benar-benar terasa ringan dan lebih segar, jadi dia tambah bersemangat untuk menunggu hari pernikahan tiba.
Yara lalu celingukan ke sana kemari untuk mencari Hana, tetapi wanita itu tidak terlihat lagi. Mungkin saja sudah pulang saat dia sedang berada di dalam ruangan.
Zafran dan Ryder juga terlihat jauh lebih segar dari pada sebelumnya, karena memang mereka sangat lelah mempersiapkan ini dan itu.
Setelah membayar perawatan itu, mereka lalu beranjak pergi untuk pulang ke rumah karena memang tidak ada lagi yang harus dikerjakan. Apalagi bagi calon pengantin yang katanya tidak boleh keluar rumah menjelang hari pernikahan.
*
__ADS_1
*
Setelah berhari-hari menyiapkan acara pernikahan yang sangat menguras tenaga, akhirnya segala persiapan telah selesai di lakukan dan hari ini pernikahan akan dilaksanakan.
Terlihat halaman rumah Vano sudah disulap bak negeri dongeng dengan ribuan bunga, juga pernak-pernik yang membuat semua mata terkagum-kagum.
Semua keluarga sudah berada di tempat itu untuk menyaksikan acara akad yang akan berlangsung pagi ini. Terlihat Ryder juga sudah duduk dengan tenang dengan memakai jas berwarna putih, yang semakin memambah ketampanannya.
Yara sendiri masih berada di dalam kamar berdama dengan mama-mamanya dan juga para nenek. Mereka semua memuji kecantikan Yara yang sangat luar biasa, mereka yakin Ryder pasti tidak akan bisa memalingkan wajah darinya.
"Jangan seperti itu, Ma. Aku malu," ucap Yara sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan, dia merasa malu karena sejak tadi keluarganya terus memuji wajahnya.
"Kenapa harus malu, Sayang. Wajahmu benar-benar sangat cantik, bahkan bidadari saja kalah saing," seru mama Camelia membuat wajah Yara semakin merah merona.
Tidak berselang lama, terdengar suara ketukan dipintu kamar Yara membuat Via bergegas untuk membukanya.
"Bagaimana, apa Yara sudah selesai?" tanya Vano.
Via menganggukkan kepalanya. "Sudah, Mas. Apa acaranya sudah mau dimulai?"
"Iya, cepat bawa dia turun," ucap Vano kemudian.
Via dan Riani lalu membawa putri mereka ke lantai satu di mana semua orang sudah berkumpul, begitu juga dengan mama Camelia yang terlihat sangat bersemangat sekali.
Semua orang langsung melihat ke arah tangga saat mendengar langkah kaki Yara dan yang lainnya. Tepuk tangan meriah mengiringi langkah Yara untuk menuruni tangga. Orang-orang juga berdecak kagum melihat kecantikan yang terpancar diwajahnya, terutama Ryder yang benar-benar tidak bisa memalingkan pandangannya dari wanita itu.
"Ya Tuhan, menantuku cantik sekali," seru Riana saat melihat kecantikan Yara, dia langsung mengajak Ryder untuk bangun dan menyambut Yara di ujung tangga.
Ryder langsung mengulurkan tangannya saat Yara sudah berada di ujung tanda, lalu Yara menerima uluran tangan itu dengan senyum malu-malu.
Keduanya lalu duduk di hadapan Mahen dan pak penghulu yang sudah siap melaksanakan acara akad, begitu juga dengan para saksi dan orang-orang yang berada di tempat itu.
"Baiklah, apa kedua mempelai sudah siap?" tanya pak penghulu.
Ryder dan Yara menganggukkan kepala mereka secara bersamaan, lalu pak penghulu segera memulai acara akad pada pagi hari ini.
"Baiklah, silahkan untuk saling berjabat tangan antara calon pengantin pria dengan ayah dari calon pengantin wanitanya," ucap pak penghulu itu.
__ADS_1
Mahen dan Ryder yang sudah saling berhadapan lalu saling berjabat tangan dengan jantung berdebar keras. Ryder benar-benar merasa sangat gugup, begitu juga dengan Mahen yang bahkan sejak semalam tidak bisa tidur.
"Baiklah Tuan, mari kita mulai," seru pak penghulu itu.
"Ananda Ryder Alfonzo," panggil Mahen.
"Saya, Pak."
"Saya nikahkan dan kawin engkau dengan putri kandung saya yang bernama Ayara Myesa binti Mahendra arkana, dengan mas kawin seperangkat emas dan berlian dibayar tunai." Mahen menghentakkan tangannya agar Ryder langsung menjawab ucapannya.
"Saya terima nikah dan kawinnya Ayara Myesa binti Mahendra Arkana dengan mas kawin tersebut di bayar tunai ...."
"Bagaimana para saksi, sah?" tanya pak penghulu.
"Sah!"
"Alhamdulillah," ucap semua orang saat Ryder dan Yara sudah dinyatakan sah menjadi sepasang suami istri.
Lautan kebahagiaan dan rasa syukur menggema di tempat itu, terutama kedua mempelai yang saat ini sudah sah menjadi sepasang suami istri dan akan segera mengarungi bahtera rumah tangga.
Pak penghulu segera memanjatkan do'a untuk rumah tangga Ryder dan Yara. Semoga nantinya mereka selalu dilimpahkan dengan kebahagiaan dan kenyamanan, juga dijauhkan dari segala mara bahaya serta orang-orang yang berniat jahat. Tidak lupa juga mendo'akan agar mereka segera diberi momongan.
Air mata tidak kuasa ditahan oleh seluruh keluarga, terutama kedua orangtua Yara. Mereka berdo'a agar apa yang terjadi di masa lalu putri mereka itu tidak kembali terjadi, dan pernikahan Yara dengan Ryder akan langgeng sampai maut yang memisahkan.
Yara juga tidak bisa menahan air matanya yang terus mengalir deras. Apalagi saat mendengar ucapan Ryder ketika menghalalkannya.
"Ya Allah, hari ini aku telah sah menjadi seorang istri. Bimbinglah aku agar selalu menyenangkan dan memberi kebahagiaan kepada suamiku, juga jagalah rumah tangga kami agar tetap tentram dan dilimpahkan dengan kebahagiaan." Yara memejamkan kedua matanya dengan kepala tertunduk, semoga Allah mengabulkan segala do'a-do'a yang terucap hari ini.
Ryder sendiri juga merasa sangat bahagia hingga tanpa sadar air mata menetes dari sudut matanya. Setelah apa yang terjadi, akhirnya Tuhan mempersatukannya dengan Yara.
"Ya Allah, aku adalah hamba-Mu yang penuh dengan dosa. Maka bimbinglah aku agar menjadi suami yang baik dan kepala rumah tangga yang bertanggung jawab. Bimbinglah aku agar bisa menjadi panutan untuk istri dan anak-anakku kelak, hingga aku bisa membawa mereka ke dalam syurga-Mu yang kekal abadi. Dan berikanlah kebahagiaan dalam rumah tangga kami nanti." Ryder mengusap wajahnya setelah selesai melambungkan do'anya kelangit, berharap Allah mengabulkan semua yang telah dia ucapkan.
•
•
•
__ADS_1
Tbc.