Takdir Cinta Yang Kau Pilih

Takdir Cinta Yang Kau Pilih
Bab 139. Berteman Dengan Kemalangan.


__ADS_3

Yara langsung mencubit perut Ryder dengan kuat saat mendengar ucapan laki-laki itu, membuat Ryder menggeram kesakitan dengan suara tertahan.


"Mulutmu, Ryder. Kau tidak boleh berkata seperti itu," hardik Yara dengan tajam.


Ryder berdecih sambil mencebikkan bibirnya. Untuk apa berlaku baik pada orang-orang seperti Myra yang punya mulut sampah.


Beberapa saat kemudian, mereka sudah sampai lagi ke rumah kakek Domi. Ryder segera mengajak Yara untuk masuk, terdengar suara kakek Domi dan Zafran yang sedang mengobrol.


"Assalamu-" Yara tidak dapat melanjutkan ucapan salamnya saat melihat Zafran. "Astaghfirullahal'adzim. Apa yang terjadi denganmu, Zaf?" Dia langsung menghampiri sang adik yang sedang duduk di lantai dengan beralaskan karpet.


Kedua mata Yara membulat sempurna saat melihat luka-luka yang ada dikaki sang adik, sementara Zafran hanya tersenyum sambil berpikir apa yang akan dia katakan pada kakaknya itu.


"Sebenarnya ada apa, ini? Kenapa, kenapa kakimu- ya Allah," seru Yara dengan tidak habis pikir. Kedua matanya lalu menatap Zafran dengan tajam dan berkaca-kaca.


"Maaf, Mbak," ucap Zafran. Dia tidak tahu harus mengatakan apa pada sang kakak, lalu melirik ke arah Ryder yang masih berdiri di ambang pintu.


"Tenanglah, Nak," ucap nenek Weny yang juga ada di tempat itu. "Zafran baik-baik saja, hanya kakinya yang terluka."


Yara menghela napas berat. Tahu begini dia tidak akan mengizinkan adiknya untuk ikut ke tempat ini, entah kemalangan apa saja yang sudah menimpa adiknya.


"Tunggu sebentar, mbak akan meminta Dokter Lewis agar mengantar peralatan medis ke sini," ucap Yara sambil mengambil ponselnya di dalam tas.


Dengan cepat tangan Zafran menahan tangan sang kakak yang sudah akan menelepon Lewis. "Aku baik-baik saja, Mbak. Mbak tidak perlu-"


Yara langsung menghempaskan tangan Zafran dari tangannya membuat ucapan laki-laki itu terhenti. "Jangan berkata baik-baik saja sebelum kau menjelaskan apa yang terjadi, Zafran. Kenapa kakimu sampai dipenuhi luka seperti ini, bagaimana kalau durinya masih ada yang tertinggal di kakimu?" Dia bertanya dengan marah.


Zafran kembali diam. Dia tidak mau membuat sang kakak semakin marah, jadi memutuskan untuk mendengar semua ucapan kakaknya itu.


"Biar aku saja yang mengambilnya ke sana, Yara. Kau tidak perlu menelepon Dokter Lewis," ucap Ryder.


Yara hanya melirik saja ke arah Ryder tanpa menggubris ucapan laki-laki itu, dia tetap menelepon Lewis dan meminta agar laki-laki itu datang sambil membawa peralatan medis.


Ryder menghela napas berat. Habislah dia nanti, Yara pasti akan marah jika mengetahui apa yang Bayu lakukan pada Zafran. Lalu semua itu terjadi karena kelalaiannya.

__ADS_1


Di tempat lain, Lewis yang mendapat pesan dari Yara segera mengambil peralatan medisnya dan memasukkan semua itu ke dalam tas. Dia lalu beranjak keluar dari kamar dengan tergesa-gesa.


"Kau mau ke mana, Lewis?" tanya Alex yang baru saja akan masuk ke dalam kamar.


"Aku akan ceritakan nanti," sahut Lewis sambil mengambil kunci motor yang ada di atas meja, lalu terus berjalan keluar. Untung saja masih ada motor milik kepala desa di rumah itu, jika tidak maka dia pasti akan jalan kaki.


Pada saat yang sama, Yara sedang sibuk membesihkan luka Zafran dengan menggunakan air. Dia memperhatikannya dengan teliti karena takut ada duri atau pun pecahan kaca yang tertinggal.


"Sekarang katakan pada mbak apa yang terjadi, kenapa kakimu bisa sampai seperti ini?" tanya Yara kembali.


Ryder yang masih berdiri dipintu beralih duduk di belakang Yara saat mendengar ucapan wanita itu. "Dia dikejar oleh seseorang, Yara. Itu sebabnya banyak luka dikakinya karena berlari di semak belukar tanpa menggunakan sendal."


Yara tersentak kaget mendengar ucapan Ryder, sontak dia berbalik dan menatap laki-laki itu dengan tajam. "Siapa, siapa yang mengejarnya? Dan kenapa dia dikejar?" Dia bertanya dengan tidak mengerti.


Ryder lalu menceritakan semua yang terjadi pada Zafran, beserta kejahatan yang telah Bayu lakukan.


Yara tercengang dengan tatapan tidak percaya saat mendengar ucapan Ryder. Tidak disangka laki-laki bernama Bayu itu tega melakukan hal serendah itu, padahal selama ini Bayu sangat baik dan ramah kepadanya.


"Maafkan aku, aku sudah lalai dan tidak berhati-hati hingga hal seperti ini terjadi pada Zafran. Dan kalau bukan karena dia, maka aku tidak akan tahu jika Bayu mengkhianati seperti itu," ucap Ryder dengan lirih saat sudah selesai menceritakan semuanya.


"Lalu apa yang akan kau lakukan padanya, Ryder?" tanya Yara dengan gemetar karena menahan tangis.


Zafran langsung menggenggam tangan sang kakak saat tahu jika kakaknya itu sedang menahan tangis. "Aku sungguh baik-baik saja, Mbak. Jangan menangis, dan jangan merasa bersalah atas apa yang terjadi. Tapi bersyukurlah karena sekarang kita tahu jika Bayu berkhianat dan berusaha untuk membunuh Ryder."


Yara mengangguk pelan. "Mbak tahu, Dek. Mbak hanya merasa sedih kenapa selalu kau yang tertimpa masalah seperti ini, baik dulu ataupun sekarang."


Zafran terkekeh. "Itu sudah kuasa Tuhan, dan karna aku mampu untuk menghadapi dan menahan semuanya. Jika Mbak, pasti sudah nangis-nangis sepanjang hari."


Yara langsung mencubit lengan Zafran saat mendengar ucapan adiknya itu, sementara Ryder dan yang lainnya tertawa mendengar ocehan Zafran.


Tidak berselang lama, sampailah Lewis di rumah kakek Domi. Dia segera turun dari motor dan berlalu mengetuk pintu rumah itu.


"Anda sudah datang? Masuklah," ucap Ryder saat sudah membuka pintu. Dia segera mempersilahkan Lewis untuk masuk.

__ADS_1


Lewis menganggukkan kepalanya. "Memangnya siapa yang sakit, Tuan?" Dia bertanya sambil berjalan masuk. Lalu tatapannya terhenti ke arah Zafran yang sedang duduk bersama dengan yang lainnya.


"Anda sudah sampai, Dokter Lewis? Tolong periksa Zafran," pinta Yara.


Lewis menganggukkan kepala lalu mendekati Zafran dengan tatapan bingung. Sebenarnya apa yang terjadi dengan laki-laki itu, kenapa kakinya penuh luka? Dia merasa heran dan bertanya-tanya.


Yara menggeser duduknya ke samping Ryder agar Lewis bisa memeriksa keadaan Zafran. Sebenarnya dia sendiri pun bisa melakukannya, hanya saja merasa segan pada Lewis karena laki-laki itu sudah bersedia untuk datang.


"Kenapa kaki Anda seperti ini, Zafran? Apa Anda baru saja berjalan di atas pecahan kaca?" tanya Lewis sambil mengobati kaki Zafran.


Zafran terkekeh. "Begitulah. Aku ingin melihat seberapa kuat kakiku ini."


Lewis menggelengkan kepalanya sambil fokus mengobati, sementara yang lain hanya diam memperhatikan.


Beberapa saat kemudian, Lewis sudah selesai mengobati kaki Zafran dan membungkusnya dengan perban.


"Jangan sampai luka ini terkena air dulu yah, dan jangan lupa minum obat," ucap Lewis. "Dalam waktu beberapa hari saja lukanya pasti sudah mulai mengering, asal tidak terkena air." Dia kembali menyusun peralatan medisnya.


Zafran mengangguk paham. "Tapi, bagaimana jika aku mau ke kamar mandi?" Dia bertanya dengan bingung.


"Tenang saja, Zafran. Nenek akan menyediakan baskom besar untukmu supaya kalau mau buang air kecil tidak perlu ke kamar mandi lagi," ucap nenek Weny.


Semua orang langsung tertawa saat mendengar ucapannya, sementara Zafran merasa malu saat membayangkan apa yang nenek Weny katakan.


"Ti-tidak perlu, Nek. Nanti aku minta bantuan sama Ryder saja," sahut Zafran.


"Tidak apa-apa, Zafran. Tidak perlu malu." Weny mengibas-ngibaskan tangannya. "Dulu kakek juga begitu saat tidak bisa jalan, pipisnya pakai baskom."




__ADS_1


Tbc.


__ADS_2