
Ryder langsung berdecak kesal saat mendengarnya. Memangnya salah siapa, jika wajahnya sangat tampan seperti ini dan membuat orang lain iri? Dia benar-benar tidak habis pikir.
"Udah-udah. Kau tunggu aja di atas, biar aku yang turun ke bawah," ucap Bayu menengahi kekesalan Ryder. Dia menggulung celananya sampai ke lutut, dan bersiap untuk masuk ke dalam selokan.
"Minggir!" Ryder menarik tangan Bayu agar mundur ke balakang, lalu langsung melompat masuk ke dalam selokan.
"Loh, 'kan ku bilang aku aja," pekik Bayu saat Ryder sudah masuk ke dalam selokan.
"Cerewet. Udah sini cangkulnya, biar cepat selesai," ucap Ryder tanpa menghiraukan perkataan Bayu, dia mengulurkan tangan untuk meminta alat tempur.
Bayu tersenyum simpul, dia tahu jika Ryder sengaja tidak membiarkannya kerja berat karena punya riwayat asma akut yang akan kambuh jika kelelahan. Dia lalu memberikan cangkul dan masker untuk Ryder, agar bau yang menyengat itu tidak merusak indra penciuman laki-laki itu
Beberapa orang pemuda yang berkumpul di bawah pohon jengkol tampak tertawa saat melihat wajah kesal Ryder. Dulu selogan mereka adalah menjadi yang tertampan, tetapi sejak kehadiran Ryder, selogan itu berubah menjadi kekesalan Ryder bisa membuat mereka tampan.
Itu sebabnya mereka selalu membuat laki-laki itu menjadi kesal, dan akan terus seperti itu sampai akhir hayat. Tentu saja semua bermula karena semua gadis yang ada di desa itu memperebutkan Ryder, padahal mereka semua sudah lama nganggur.
"Dasar kalian ini, masih saja bersikap seperti anak kecil," ucap seorang wanita bernama Bunga. Wajahnya sangat cantik bak bunga di taman, tetapi ucapannya sangat menusuk seperti wangi bunga bangkai.
"Cih, kau masih saja membela pendatang baru itu," cibir salah satu lelaki yang berada dibarisan cinta bertepuk sebelah tangan.
"Kalian pikir, dengan membuat Ryder berada di dalam lumpur, dalam selokan, akan membuat ketampanannya menghilang?" tanya Bunga dengan sarkas. "Bahkan ketampanannya tidak berkurang sedikit pun walau wajahnya dilumuri air garam." Dia menghela napas kasar.
__ADS_1
"Cih. Bilang saja kalau kau menyukai wajahnya itu, sok mencibir apa yang kami lakukan," ucap laki-laki yang satunya lagi, dia berada dibarisan yang cintanya selalu ditolak.
"Aku memang menyukainya, tapi bukan wajahnya, tapi pemikiran cerdasnya. Laki-laki tampan banyak, tapi yang cerdas sepertinya sangat jarang sekali. Bahkan jika pikiran kalian semua dijadikan satu, gak akan bisa seperti kecerdasannya walau setengah," balas Bunga dengan sarkas membuat keempat lelaki itu menggeram marah.
Bayu yang mendengar semua ucapan Bunga langsung tertawa senang. Perkataan wanita itu memang selalu tajam setajam silet, tapi Bunga termasuk gadis baik yang selalu mengedepankan kemajuan desa.
Ternyata bukan hanya Bayu saja yang mendengar ucapan Bunga, Ryder yang sedang berada antara hidup dan mati juga mendengarnya. Dia hanya bisa menghela napas kasar saja.
"Wanita-wanita yang ada di desa ini memang luar biasa gilanya. Kenapa tidak ada yang seperti Yara?" gumam Ryder membuat kerja tangannya terhenti.
Tiba-tiba saja dia jadi teringat dengan Yara. Tidak tahu bagaimana kabar wanita itu saat ini. Jangankan untuk mengetahui kabar Yara, dia bahkan sampai saat ini tidak ingin memiliki ponsel. "Aku benar-benar merindukanmu, Yara."
Sementara itu, di tempat lain terlihat Yara sedang memeriksa keadaan para pasien. Hari ini jadwalnya lebih sedikit dari pada biasanya, itu sebabnya dia bisa sedikit bersantai.
"Baiklah, terima kasih saya ucapkan pada semua Dokter yang sudah berkumpul di tempat ini," ucap Romi, sebagai sambutan untuk rapat hari ini.
"Rumah sakit kita sedang mendapat perintah dari pemerintah untuk mengirim 3 orang Dokter, dan 6 orang perawat untuk menjadi relawan di salah satu desa terpencil. Desa itu dulunya tidak menonjol, dan tidak dikenal oleh pemerintah pusat. Tapi beberapa bulan belakangan, desa itu mengalami peningkatan yang cukup besar. Baik dalam segi perekonomian, pendidikan, juga kemandirian para wanita. Itu sebabnya pemerintah berniat untuk membangun rumah sakit dan sarana lain di desa itu, saya harap di antara Anda ada yang bersedia untuk menjadi relawan," ucap Romi panjang lebar, berharap ada yang mengajukan diri dengan sukarela, tanpa diperintah.
Yara yang juga ada di tempat itu tampak memperhatikan desa yang akan dituju melalui brosur yang dibagikan. Dia merasa tertarik untuk menjadi sukarelawan, lagi pula dia juga belum pernah melakukan hal seperti itu.
Dua orang Dokter lelaki sudah mengajukan diri untuk menjadi relawan, lalu yang ketiga adalah Yara.
__ADS_1
Setelah 3 Dokter ditetapkan sebagai relawan, rapat sore itu pun ditutup. Mereka lalu berpindah ke ruangan Direktur untuk membahasnya lebih lanjut.
Romi menjelaskan tentang apa-apa saja yang harus mereka lakukan di sana, khususnya pemeriksaan terhadap anak-anak yang banyak terkena demam berdarah. Juga pemeriksaan untuk para lansia, dan pemeriksaan secara menyeluruh pada semua orang.
"Anda semua akan menjadi relawan selama 15 hari, dihitung saat Anda sudah tiba di desa tersebut. Setelah selesai, Anda semua akan mendapat bonus yang setara dengan 1 bulan gaji atas partisipasinya karena telah menjadi sukarelawan," ucap Romi dengan tersenyum senang, membuat kedua Dokter lelaki yang ada di ruangan itu langsung tersenyum cerah.
"Sudah ada rumah yang di siapkan untuk para petugas medis lelaki dan wanita, jadi Anda semua tidak perlu mengkhawatirkan apapun lagi. 2 hari lagi Anda semua akan berangkat bersama dengan Saya, kita berkumpul di rumah sakit terlebih dahulu," sambung Romi panjang lebar.
Yara mengangguk-anggukkan kepalanya. Jantungnya sudah berdebar-debar karena tidak sabar untuk menjadi sukarelawan, dan semoga keluarganya tidak merasa keberatan.
Setelah semua urusan selesai, Yara beranjak keluar dari ruangan itu menuju ruangannya sendiri untuk bersiap-siap pulang, karena jam kerjanya sudah selesai.
Yara memutuskan untuk singgah ke supermarket karena ingin belanja perlengkapan yang akan dia bawa saat pergi nanti. Desanya lumayan jauh dari kota terdekat, itu sebabnya semua perlengkapannya tidak boleh ada yang kurang.
"Sejak tadi jantungku terus berdebar-debar, aku benar-benar sudah tidak sabar."
•
•
•
__ADS_1
Tbc.