
Yara menatap sang mertua dengan nanar. Bagaimana mungkin mertuanya meminta agar dia memaafkan Aidan, sementara sang mertua bahkan tidak bertanya bagaimana perasaannya saat ini?
"Bu, sebelum Ibu memintaku untuk memaafkan mas Aidan. Apakah Ibu tidak berniat untuk bertanya bagaimana perasaanku saat ini?" ucap Yara dengan bibir bergetar.
Jujur saja, dia merasa lancang dan tidak sopan berkata seperti itu pada sang mertua. Namun, kenapa mertuanya itu tidak bersimpati padanya sedikit saja? Dan malah memintanya untuk memaafkan Aidan?
"Ibu tidak bertanya karena ibu tau bagaimana perasaanmu saat ini, Yara. Ibu tahu jika hatimu terluka, dan semua wanita juga akan merasakan sakit jika suami mereka mendua cinta," ucap Nova sambil tetap menggenggam tangan Yara.
"Hanya saja dalam hubungan rumah tangga tidak bisa seperti ini, Yara. Kau tidak bisa memutuskan untuk langsung berpisah hanya karena masalah itu,"
"Hanya? Ibu bilang perselingkuhan mas Aidan hanya sekedar seperti itu?"
Yara yang sudah mencoba untuk mengendalikan diri tentu saja kembali bergejolak saat mendengar ucapan wanita paruh baya itu.
"Kita sebagai wanita tidak boleh memperpanjang masalah, Yara. Sudahlah, toh Aidan juga sudah mengaku salah dan tidak akan kembali mengulangi perbuatannya. Jadi lupakan semua yang sudah terjadi,"
"Melupakannya? Lancang sekali kau menyuruh putriku untuk melupakan kelakuan bej*at anakmu itu!"
Yara dan Nova tersentak kaget saat mendengar suara baritone seseorang, sontak mereka melihat ke arah pintu di mana Vano sudah berdiri tegak dengan wajah merah padam.
"Pa-Papa?"
"Pak Vano?"
Yara dan Nova langsung berdiri saat melihat keberadaan Vano, lalu terlihat Via juga baru sampai di tempat itu.
"Apa yang kau lakukan, Mas? Ayo kita keluar!" Via menarik tangan suaminya sebelum terjadi keributan. Wajahnya tampak sayu dengan mata bengkak karena tadi menangisi nasib putrinya.
Yara yang terkejut melihat kedatangan kedua orang tuanya beranjak mendekati mereka, sementara Nova hanya bisa diam di samping ranjang.
"Mama, Papa? Ka-kalian di sini?"
__ADS_1
Via menganggukkan kepalanya. "Iya, Nak. Kami, kami singgah sebentar tadi."
"Ikut papa, Yara!"
Vano langsung menarik tangan Yara dan membawanya turun ke lantai 1. Terlihat ada Aidan, River, dan juga Zafran yang sedang berdiri di tempat itu.
Nova dan Via ikut turun ke lantai 1 di mana semua orang berada. Suasana terasa sangat tegang, terutama saat melihat raut wajah Vano yang tampak sangat menyeramkan.
Yara sendiri merasa sangat takut dan gelisah dengan keadaan saat ini. Kini dia sadar jika kedua orang tuanya pasti sudah tahu tentang apa yang terjadi dengan rumah tangganya.
"Ru-rupanya semua orang sedang berkumpul di sini," ucap Nova dengan gemetar. Entah kenapa dia merasa takut karena kedatangan keluarga Yara, smentara Aidan hanya diam sambil menundukkan kepalanya.
"Maaf karena kami membuat keributan, Buk Nova. Kami hanya ingin menemui Yara saja."
Via merasa tidak enak hati. Walau apa yang terjadi pada putrinya, tetap saja mereka seharusnya tidak selancang ini masuk ke dalam rumah Yara dan juga Aidan.
"Ti-tidak papa, Buk Via. Kalau gitu silahkan duduk,"
Deg.
Yara tersentak kaget saat mendengar apa yang papanya katakan, begitu juga dengan Aidan dan juga Nova yang memandang Vano dengan nyalang.
"A-apa maksud Papa?" Yara menatap papanya dengan mata berkaca-kaca. Sungguh hatinya terasa semakin sakit dengan apa yang terjadi saat ini.
"Untuk apa kau bertahan dalam rumah tangga yang terus menyiksamu ini, Nak. Sekarang ikut papa pulang, hidupmu terlalu berharga jika harus dihabiskan dengan pengkhianat sepertinya."
Jelas ucapan Vano membuktikan bahwa dia dan semua keluarganya sudah tahu tentang apa yang Aidan lakukan, membuat Nova merasa tidak terima.
"Apa maksud Anda, Pak Vano?" Nova menatap Vano dengan tajam membuat suasana kian memanas. "Sebagai orang tua, seharusnya Anda mendamaikan anak-anak kita. Bukannya semakin membuat mereka berpisah dan memperkeruh suasana."
"Mendamaikan kau bilang? Apa yang harus didamaikan jika anakmu sudah berselingkuh di belakang putriku, hah? Coba kau katakan apa yang harus di damaikan dari semua itu!"
__ADS_1
Nova terdiam dengan apa yang Vano ucapkan, sementara Via mencoba untuk menanangkan suaminya.
"Aku mohon tenanglah, Mas. Kasihan Yara." Via memegang lengan Vano dengan erat. Jika masalah ini semakin panjang, maka Yara lah yang nantinya akan menjadi korban.
Zafran sendiri sejak tadi terus menatap Aidan dengan tajam. Tangannya sudah gatal ingin kembali menghajar laki-laki itu, tetapi tadi papanya sudah memberikan pukulan sampai membuat Aidan terpental menghantam dinding.
Yara sendiri hanya bisa memandang mereka dengan terisak. Dia ingin bicara dan menghentikan mereka semua, tetapi lidahnya terasa keluh seakan tercekat di tenggorokan.
"Anakku selingkuh juga karna putrimu. Jika dia menjadi istri yang baik dan bisa menjaga suaminya, pasti Aidan tidak akan selingkuh!"
Nova merasa emosi karena mereka hanya menyalahkan Aidan saja, sementara Yara ikut andil dengan apa yang terjadi pada putranya itu.
Vano mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Beraninya mereka menyalahkan putrinya? Apa kini mereka mau lempar batu sembunyi tangan, begitu?
"Kau menyalahkan putriku karena anakmu selingkuh? Apa kau pikir itu masuk akal?"
"Papa!"
Yara menghamburkan dirinya dalam pelukan Vano membuat laki-laki itu terkesiap. Kepalanya yang sudah berasap semakin terbakar saat melihat putrinya mengeluarkan air mata.
"Sudah cukup, Pa. Aku mohon." Yara memeluk tubuh papanya dengan bergetar. Dia tidak mau lagi ada keributan, dan tidak mau lagi melihat kemarahan orang tuanya.
Via memalingkan wajahnya karena tidak sanggup melihat apa yang terjadi pada sang putri. Dia seperti merasa dejavu dengan apa yang terjadi saat ini, mungkinkah Allah sedang menghukumnya melalui apa yang terjadi pada Yara?
"Ya Allah. Aku mohon hentikan semua pertengkaran ini, kasihanilah anakku, ya Allah. Hatiku sangat sakit saat melihatnya, dan hati Yara pasti lebih hancur dengan apa yang terjadi saat ini."
•
•
•
__ADS_1
Tbc.