Takdir Cinta Yang Kau Pilih

Takdir Cinta Yang Kau Pilih
Bab 115. Akhirnya Semua Selesai.


__ADS_3

River berucap dengan sarkas sambil berdiri tepat di hadapan Luke yang sedang tersungkur di atas tanah. Pandangan mereka saling bertemu dan bertatapan dengan tajam.


Luke mengepalkan kedua tangannya dengan erat, rahangnya mengeras penuh emosi dengan wajah merah padam.


"Dasar brengs*ek! Beraninya kalian memperlakukan aku seperti ini!" teriaknya dengan kesal membuat River tergelak.


"Aargh!" Luke memekik kesakitan saat River kembali menendang perutnya dengan kuat.


Tanpa memberi ampun, River menarik kerah kemeja Luke lalu menyeretnya dan menghempaskannya ke sebuah tiang.


"Aargh!" Untuk ke sekian kalinya Luke kembali mengerrang kesakitan.


Para anak buah Luke sudah tidak lagi bisa melindunginya akibat serangan yang datang bertubi-tubi, apalagi dengan adanya bala bantuan dari Sasa yang berhasil meledakkan mobil-mobil yang berisi anak buahnya.


Ryder dan Junior juga tidak mau kalah. Mereka meringkus semua anak buah Luke yang tersisa hingga tidak ada lagi yang bisa melawan, begitu juga dengan Vano dan Eric yang langsung mengambil kesempatan saat terjadi ledakan.


Prok, prok, prok.


"Hebat, hebat sekali," seru Caldo sambil bertepuk tangan dengan kuat. Dia merasa senang dengan kemenangan yang di dapat, apalagi dia berhasil meluluh lantakkan markas Luke sampai seperti itu.


Caldo lalu beralih mendekati Luke yang masih berada di atas tanah, tampak jelas kemarahan dan kebencian di mata laki-laki itu membuat hatinya sangat senang.


"Bagaimana, Luke? Apa kau menyukai perbuatanku ini?" tanya Caldo dengan senyum sinis.


Luke menggertakkan giginya dengan sorot mata menyala dahsyat melihat laki-laki biad*ab itu, tetapi saat ini dia tidak bisa melakukan apapun lagi karena sudah benar-benar terdesak.


Tidak ingin membuang waktu lagi, Caldo segera memerintahkan anak buahnya untuk meringkus Luke dan membawa laki-laki itu ke markas, tentu saja dia masih harus memberi pelajaran pada Luke sampai laki-laki itu memilih untuk mati.


Akhirnya perkelahian itu selesai dan dimenangkan oleh pihak River dan yang lainnya, juga ada Ryder dan Eric yang bergabung dengan Caldo untuk menumbangkan kekuasaan Luke.

__ADS_1


"Terima kasih, aku benar-benar mengakui kehebatan kalian semua," ucap Caldo pada semua orang yang telah bekerja sama dengannya, terkhusus Vano, Zafran, dan juga River yang baru pertama kali bergabung dengannya.


Semua orang tampak menganggukkan kepala mereka. "Saya juga berterima kasih karena Anda sudah bersedia untuk membantu kami, Tuan." Vano benar-benar merasa bersyukur.


Caldo ikut mengangguk lalu mengulurkan tangannya ke hadapan Vano. "Senang bekerja sama dengan Anda, saya harap suatu saat nanti kita bisa bertemu lagi."


Vano tersenyum sambil menerima uluran tangan Caldo. "Semoga saja, Tuan. Saya akan selalu mengingat bantuan Anda."


Eric dan Rayder tersenyum senang saat melihat Vano dan Caldo saling berjabat tangan, karena suatu saat nanti mereka pasti akan saling berhubungan walaupun hanya sebatas bisnis saja.


Caldo lalu beralih melihat ke arah Eric dan Ryder. "Aku juga senang bisa kembali bekerja sama denganmu, Eric. Tidak disangka anakmu akan tumbuh menjadi orang hebat, dan jika dia bersedia ikut denganku, maka dia pasti akan menjadi laki-laki terhebat di dataran ini." Dia berucap dengan serius.


Eric tersenyum saat mendengarnya, sekilas dia melirik ke arah Rayder, lalu kembali melihat Caldo. "Saya juga senang bisa melayani Anda lagi, Tuan. Tapi maaf, saya tidak bisa melepas putra saya yang sangat berharga ini."


Caldo langsung tergelak saat mendengarnya. "Benar juga, dia adalah putra yang sangat berharga. Kau pasti bangga memilikinya." Dia maju selangkah dan menepuk bahu Ryder.


Ryder menganggukkan kepalanya. "Saya masih harus banyak belajar, Tuan. Saya tidak-"


Ryder tidak dapat melanjutkan ucapannya saat mendengar suara teriakan seorang wanita yang sangat tidak asing ditelinga, sontak dia langsung menoleh ke arah kanan, begitu juga dengan semua orang yang ada di tempat itu.


"Ya-Yara?" ucap Vano dengan terkejut saat melihat keberadaan putrinya di tempat itu.


Sama halnya dengan sang papa, Zafran juga tampak terkejut saat melihat keberadaan sang kakak. Kenapa kakaknya bisa sampai ke tempat ini?


"Papa, Zafran!" panggil Yara kembali sambil berlari ke arah Vano dan Zafran. Sesaat kemudian, muncullah Zayyan yang ternyata ikut bersama dengannya juga.


"Sayang." Tubuh Vano langsung dipeluk dengan sangat erat oleh Yara yang saat ini sedang terisak, dia lalu membalas pelukan putrinya itu sambil berusaha untuk menenangkannnya.


"Syukurlah Papa baik-baik saja," ucap Yara dengan terisak pilu, sungguh dia merasa sangat khawatir.

__ADS_1


Vano merenggangkan pelukannya lalu memegang kedua bahu Yara. "Papa baik-baik saja, Sayang. Jangan menangis lagi yah."


Yara mengangguk walau masih menangis dengan tersedu-sedu, dia lalu beralih melihat ke arah Zafran yang juga sedang melihatnya.


"Zafran!" seru Yara sambil berjalan ke arah sang adik dan memeluknya dengan erat.


Zafran juga ikut memeluk tubuh kakaknya itu dengan hangat. "Jangan menangis, Mbak. Kami semua baik-baik saja." Dia berusaha untuk menenangkan. "Tapi, kenapa Mbak bisa ada di sini?"


Yara merenggangkan pelukannya saat mendengar pertanyaan sang adik. "Mbak pergi bersama dengan Zayyan." Dia menjawab sambil melirik ke arah Zayyan yang langsung mendapat tatapan tajam dari Zafran dan juga papa mereka.


Yara lalu beralih mendekati River yang sedang tersenyum ke arahnya. Dia juga memeluk laki-laki yang sudah dianggap sebagai ayahnya sendiri itu dengan sangat bersyukur, sementara yang lain terus menatapnya dengan tajam. Terutama Ryder yang sama sekali tidak bisa mengedipkan kedua matanya.


"Dia anaknya Vano?" tanya Caldo yang memang tidak kenal dengan Yara.


Eric menganggukkan kepalanya. "Benar, Tuan. Dia putri sulung keluarga mereka."


"Ah, jadi begitu." Caldo mengangguk-anggukkan kepalanya. "Dia sangat cantik, apa dia-"


"Dia calon istri saya, Tuan," potong Ryder dengan cepat dan kuat membuat semua orang langsung menoleh ke arahnya, termasuk Yara.


"Dia ... calon istrimu?" tanya Caldo dengan terkejut dan tidak percaya.


Semua orang menatap Rayder dengan tajam, terutama Yara yang menatap dengan dada berdegup kencang menunggu jawaban darinya.


"Benar, dia adalah calon istri saya, dan setelah ini saya akan menikahinya."



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2