Takdir Cinta Yang Kau Pilih

Takdir Cinta Yang Kau Pilih
Bab 138. Siapapun yang Mengganggunya Berurusan Denganku.


__ADS_3

Setelah melihat keadaan Zafran dan mendengar semua kebenaran tentang Bayu, Ryder kembali ke rumah kepala desa untuk menjemput Yara.


Wajah yang selalu tersenyum saat melihat Yara, kini sudah tidak bisa lagi dikondisikan. Jangankan tersenyum, untuk bicara saja rasanya Ryder sudah benar-benar tidak bisa mengeluarkan suara.


"Kau dari mana, Ryder? Apa semua baik-baik saja?" tanya Yara saat Ryder kembali menemuinya.


Ryder menghela napas kasar, mencoba untuk menekan segala amarah yang ada dalam hatinya. "Semua baik-baik saja, Yara. Tapi setelah ini kau harus ikut aku, ada sesuatu yang ingin aku beritahukan padamu."


Yara terdiam. Dia melirik ke arah jam yang melingkar dipergelangan tangannya dan sudah menunjukkan pukul 10 malam. Dia takut masyarakat desa tidak senang melihatnya dan Ryder berduaan.


Mengerti akan tatapan Yara, Ryder lalu mengatakan jika dia akan membawa wanita itu untuk pulang ke rumah kakek Domi. Hingga akhirnya Yara mengangguk dan tidak lagi merasa khawatir.


"Ryder, kau dari mana saja?" Tiba-tiba Myra datang menghampiri mereka sambil tersenyum senang. Sejak tadi dia sudah berusaha untuk mendekati Ryder, tetapi si*alnya selalu saja ada yang menghalangi. Apalagi tiba-tiba laki-laki itu pergi entah ke mana.


Ryder hanya melirik ke arah Myra dan enggan untuk menjawab pertanyaan wanita itu. Dia lalu memutuskan untuk masuk ke dalam rumah untuk pamit pada kepala desa.


"Ryder, tunggu!" pekik Myra saat melihat Ryder masuk ke dalam rumah dan mengabaikannya. Dia yang bermaksud untuk mengejar laki-laki itu tidak jadi melangkahkan kaki saat tiba-tiba tangannya ditahan oleh Yara.


"Sepertinya Ryder sedang lelah, lebih baik Anda tidak mengejarnya atau dia akan marah," ucap Yara sambil menahan tangan Myra. Dia takut jika nantinya wanita itu terkena amukan Ryder.


Myra tersenyum sinis sambil menghempaskan tangan Yara yang sedang memegang tangannya. "Siapa kau berani mengatakan hal seperti itu padaku, hah?" Dia berucap dengan sarkas.


Yara cukup terkejut dengan reaksi yang Myra berikan. Dia tidak menyangka jika wanita itu tersinggung dan berkata kasar, padahal selama ini Myra selalu berkata lembut dan sopan pada semua orang.


"Maaf jika perkataan saya menyinggung perasaan Anda, Myra. Saya hanya mengkhawatirkan Anda saja. Saya takut jika-"


"Kenapa, apa kau tidak suka aku dekat dengan Ryder?" potong Myra dengan cepat.


Yara terdiam dengan helaan napas frustasi. Tahu begini dia tidak menghentikan wanita itu tadi, terserah jika akhirnya Myra dimarahi atau dimaki oleh Ryder.


"Kau pikir siapa kau ini, hah? Jangan mentang-mentang kau datang dari kota jadi bisa semena-mena padaku," sambung Myra dengan tegas. "Kau dengar ucapanku baik-baik." Dia mendekat ke arah Yara yang sedang menatapnya dengan tajam. "Ryder adalah milikku, hanya aku yang pantas menjadi pendampingnya. Jadi cepat pergi dari sini dan jangan muncul lagi dihadapannya atau bahkan mengganggunya. Jika tidak, maka aku akan-"


"Akan apa, hem?" tanya Yara sambil terkekeh pelan membuat kedua tangan Myra terkepal kuat. "Kenapa diam? Coba katakan Anda akan melakukan apa jika saya tetap muncul di hadapan Ryder." Tantangnya.

__ADS_1


Kedua mata Myra berkilat marah melihat kesombongan diwajah Yara. "Aku pasti akan menghancurkanmu, dan aku tidak akan pernah menbuat hidupmu tenang." Wajahnya berubah merah padam.


Yara kembali tersenyum sambil mengucap istighfar agar tidak tersulut emosi, bisa-bisanya Myra berkata seperti itu pada orang lain.


"Sudahlah, saya tidak ingin bertengkar dengan Anda. Tapi perlu Anda ketahui, bahwa perbuatan Anda ini sangat tidak baik," ucap Yara dengan santai. "Tidak seharusnya Anda mengancam atau pun berkata kasar pada orang lain seperti ini, karena apa yang Anda lakukan suatu saat nanti akan berbalik pada Anda sendiri." Dia menggelengkan kepalanya lalu memutuskan untuk ikut masuk ke dalam rumah.


Myra semakin terbakar emosi. Tangannya yang terkepal erat dengan cepat menarik tangan Yara dan siap untuk melayangkan tamparan.


"Dasar j*a*l*a*ng!"


Greb.


Yara yang ditarik dengan kuat terkejut saat melihat tangan Myra membuat kedua matanya terpejam, sementara Myra sendiri membelalakkan kedua mata saat sebuah tangan menangkap tangannya yang sudah terayun hendak memberikan tamparan kewajah Yara.


"Ry-Ryder?" ucap Myra dengan tergagap.


Mendengar nama Ryder, seketika Yara membuka kedua matanya dan terkejut karena melihat Ryder sudah berdiri di hadapannya.


"Ry-Ryder, kau, kau di sini?" tanya Yara dengan kaget.


"Sa-sakit, Ryder. Lepaskan tanganku," pinta Myra dengan lirih. Kedua matanya sudah berkaca-kaca dan siap menumpahkan cairan.


Teman-teman Yara yang baru saja keluar dari rumah kepala desa merasa terkejut saat melihat apa yang terjadi, begitu juga dengan kedua orangtua Myra yang langsung menghampiri mereka.


"A-ada apa ini?" tanya kepala desa dengan heran.


"Ayah, tanganku sakit," ucap Myra dengan terisak menahan sakit. Pergelangan tangannya sudah memerah akibat cengkraman Ryder.


"Se-sebenarnya apa yang terjadi, Ryder? Kenapa Anda mencengkram tangan Myra seperti ini?" tanya kepala desa dengan khawatir. "Tolong lepaskan tangannya." Pintanya kembali.


Semua orang yang ada di tempat itu menatap dengan heran dan bertanya-tanya, sementara Ryder sendiri tetap diam dengan raut wajah yang sangat menyeramkan.


"Ryder," ucap Yara sambil menggenggam tangan Ryder membuat laki-laki itu tersentak. "Lepaskan tangannya, aku mohon." Dia meminta dengan pelan.

__ADS_1


Mendengar ucapan Yara, Ryder langsung menghempaskan tangan Myra dengan kuat membuat tubuh wanita itu hampir tersungkur ke atas tanah.


"Myra!" pekik seorang wanita paruh baya yang merupakan ibu Myra, begitu juga dengan suaminya.


"Katakan pada anakmu untuk berkaca dan sadar diri!" ucap Ryder dengan sarkas. "Siapa dia sampai berani mengusik calon istriku, hah?" Suara bentakannya menggema di tempat itu.


Semua orang tampak terkejut saat mendengar ucapan Ryder, sementara Myra hanya terisak pilu dalam pelukan sang ibu.


"Tolong bicarakan semuanya baik-baik, Ryder. Saya rasa ada kesalahpahaman di sini," ucap kepala desa. Dia ikut takut melihat kemarahan Ryder.


Ryder mendesis sinis.. "Kalian lihat baik-baik." Dia menarik tangan Yara yang masih menggenggam tangannya membuat wanita itu berdiri tepat di sampingnya. "Yara adalah calon istriku. Jika kalian berani mengusik atau mengganggunya, maka aku tidak akan tinggal diam!" Matanya menatap ke arah Myra dan kedua orangtua wanita itu dengan tajam. "Jika sekali lagi aku melihat wanita murahan itu mengganggu Yara, maka jangan salahkan aku jika aku bukan hanya akan mencengkram tangannya, tapi aku juga akan menghancurkan hidupnya."


Glek.


Semua orang bergidik ngeri mendengar ancaman Ryder, terutama Myra dan kedua orangtuanya yang langsung bergetar dengan wajah pucat.


"Sudah, Ryder. Sudah cukup," bisik Yara. Dia tidak ingin lagi ada keributan.


Ryder menghela napas kasar. Dia yang sedang emosi benar-benar tidak bisa lagi menahan diri saat melihat apa yang Myra lakukan terhadap Yara.


"Ka-kami mengerti, Ryder. Kami mohon maafkan anak kami," pinta kepala desa dengan tergagap.


Ryder langsung berbalik dan mengajak Yara untuk pergi dari tempat itu, tidak lupa dia juga mengajak teman-teman Yara yang langsung tersentak kaget saat mendengar ajakannya.


Sepanjang perjalanan tidak ada yang bersuara di antara mereka, baik Ryder dan Yara sama-sama diam dengan pikiran berkelana ke mana-mana.


"Lain kali jangan hanya diam, Yara. Kau harus melawannya, atau koyak saja mulut sampahnya itu agar dia tidak bisa lagi bicara."




__ADS_1


Tbc.


__ADS_2