
Setelah menghabiskan beberapa jam dalam perjalanan, akhirnya sampai juga Yara dan juga Zafran di negara tujuan. Hawa dingin langsung menyambut mereka saat terbukanya pintu pesawat, membuat Yara mendekap erat jaket yang tadi diberi oleh sang adik.
Mereka lalu berjalan keluar dari sana dan segera berlalu dari bandara. Cuaca terbilang mendung dan berangin, sepertinya sebentar lagi hujan akan segera turun membasahi bumi.
"Mbak Yara, Kak Zafran!"
Yara dan Zafran spontan melihat ke arah samping kanan saat mendengar teriakan seseorang. Terlihat Zayyan sedang melambai-lambaikan tangan pada mereka, dengan ditemani oleh Vano dan juga River.
Mereka lalu segera menghampiri Zayyan dan yang lainnya yang sudah menunggu di tempat itu.
"Assalamu'alaikum," ucap Yara saat sudah berdiri di hadapan mereka semua.
Vano, River, dan Zayyan segera menjawab salam yang Yara ucapkan, lalu wanita itu menyalami mereka satu persatu.
"Bagaimana kabar Papa dan Om River?" tanya Yara sambil tersenyum dengan simpul.
"Alhamdulillah papa baik. Kau sendiri bagaimana? Laki-laki bajing*an itu tidak mengganggumu lagi, 'kan?" Vano bertanya dengan penuh khawatir, tetapi ada gurat kemarahan juga diwajahnya. Sementara River hanya tersenyum aja.
"Tidak kok, Pa. Dia tidak pernah menggangguku lagi,"
"Baguslah. Sekarang ayo, kita pulang! Mama sudah menunggu kalian di rumah," ajak Vano sambil berjalan ke arah di mana mobilnya berada.
Mereka semua lalu masuk ke dalam mobil, dan berlalu pergi dari tempat itu menuju rumah. Baru beberapa menit meninggalkan bandara, hujan turun dengan derasnya membuat River terpaksa memelankan laju mobil yang dia kendarai.
Sepanjang perjalanan, Zayyan asyik berceloteh panjang lebar menceritakan tentang sekolahnya. Tidak lupa dia bertanya tentang apa-apa saja yang Yara dan Zafran lakukan selama di indonesia.
"Bagaimana dengan kabar Ryder? Apa dia sudah sembuh?" tanya Zayyan dengan semangat 45. Entah kenapa dia suka dengan gaya laki-laki itu yang terkesan angkuh tetapi tatapan matanya sangat hangat jika sedang menatap sang kakak.
Pertanyaan yang Zayyan ucapkan seperti sedang menyiram minyak ke atas bara api yang sudah menyala besar, bahkan River saja sampai mencengkram kuat kemudi mobilnya saat mendengar pertanyaan itu.
"Alhamdulillah dia sehat," jawab Yara dengan biasa saja. Tidak ada kesedihan atau kemarahan di wajahnya, karena dia sudah memutuskan untuk melupakan laki-laki itu.
__ADS_1
"Baguslah. Aku suka sekali dengan wajah dan juga sifatnya. Dia tampak galak tapi-"
"Apa nilai ujianmu masih saja rendah, Zayyan?"
Zayyan tidak bisa melanjutkan ucapannya saat mendengar pertanyaan sang papa yang menusuk, membuatnya ingin sekali nangis darah karena selalu saja mendapat nilai rendah dalam pelajaran matematika.
"A-aku sudah belajar, kok." Zayyan menunduk dan membuat wajah memelas.
Lain yang ditanya, lain pula jawabannya. Tentu saja mereka semua sudah tahu jika itu tandanya nilai Zayyan rendah. Itu pun disatu mata pelajaran saja, yaitu matematika.
"Kau harus banyak belajar, Zayyan. Matematika itu sangat penting, masak seorang pemimpin perusahaan nilai matematikanya 60 sih?" cibir Vano dengan kesal.
Niat hati ingin mengalihkan perhatian Zayyan agar tidak membicarakan Ryder, malah berakhir dengan semakin kesal karena nilai sekolah putra bungsunya itu.
Yara dan Zafran hanya bisa menggelengkan kepala saja saat melihat sih bungsu mereka. Entah sudah berapa kali Zayyan dimarahi karena alasan nilai, tetapi mau bagaimana lagi memang nilanya hanya segitu?
"Padahal mama selalu bilang kalau kita harus selalu bersyukur dengan apa yang didapat, makanya aku bersyukur dapat nilai 60," cibir Zayyan dengan lirih, semakin memantik kobaran api dalam diri papanya.
"Kau ini Zay, selalu saja bertengkar sama papa," ucap Yara dengan helaan napas frustasi.
"Kan papa yang mulai, Mbak." Zayyan membela diri, tentu saja selama ini dia tidak pernah memancing keributan jika papanya tidak mulai duluan.
"Iya udah, terserahmu aja lah Zay," seru Zafran yang juga tidak habis pikir kenapa sifat papanya bisa cocok sekali dengan adik bungsunya.
Mereka lalu segera turun dari mobil dan berlalu masuk ke dalam rumah. Begitu masuk, Yara langsung di sambut oleh sang mama dengan pelukan hangat.
"Kau baik-baik saja kan, Nak?" tanya Via dengan khawatir. Sangking khawatirnya, dia bahkan tidak bisa tidur dengan nyenyak.
"Alhamdulillah aku baik, Ma. Mama tidak perlu khawatir," jawab Yara dengan senyum lebar, sebagai bukti jika dia memang baik-baik saja.
Via menganggukkan kepalanya walau masih merasa khawatir karena tahu dengan apa yang sudah Ryder lakukan.
__ADS_1
Mereka lalu berkumpul di meja makan karena memang saat ini sudah waktunya untuk mengisi kampung tengah.
Sementara itu, di tempat lain terlihat seorang lelaki sedang berjalan keluar dari bandara dengan membawa tas ditangannya. Dia segera memanggil taksi untuk pergi dari tempat itu.
Namun, dia merasa bingung harus pergi ke mana. Mungkin pertama-tama dia harus mencari penginapan yang ada ada disekitar tempat itu.
Dia segera masuk ke dalam taksi dan baranjak pergi. Ryder lalu meminta pada supir itu untuk mencarikan penginapan yang sangat murah karena dia tidak punya uang.
Beberapa saat kemudian, mereka sudah sampai di sebuah bangunan yang katanya penginapan tetapi terlihat seperti rumah kosong.
"Apa tempat ini ada penghuninya?" tanya Ryder dengan tidak percaya dan penuh curiga.
"Ada, Tuan. Cuma penginapan inilah yang murah dan dekat dari bandara," jawab supir taksi itu.
Ryder menghela napas kasar lalu segera membayar biaya taksinya, dia lalu keluar dari mobil dan berjalan gontai menuju penjaga penginapan itu.
"Halo, ada yang bisa saya bantu?" tanya penjaga tempat itu.
"Apa ini penginapan?" tanya Ryder dengan tajam dan menusuk, dan dijawab dengan anggukan kepala laki-laki itu.
"Tentu saja, Tuan. Anda bisa menyewa salah stau kamar yang ada di sini."
Ryder mencebikkan bibirnya, tentu saja dia datang karena ingin menyewa tempat itu.
"Baiklah, terserah tempat itu buruk atau apa, yang penting jangan ada setannya."
•
•
•
__ADS_1
Tbc.